
🍂🍂🍂🍂🍂
"Aa kecelakaan."
Shena, Bintang dan Rinjani yang mendengar apa yang di katakan Abah langsung diam seketika, padahal awalnya mereka sedang tertawa bersama membahas tentang perbuayaan.
"Maksud Abah apa?" tanya Rinjani, Si paling tenang dalam keadaan apapun sebab ia tahu diri model macam apa suaminya.
"Aa, dia kecelakaan. Abah akan kesana, kalian di sini temani Enin ya," pesan pria baya itu kepada para cucu mantunya.
Bintang dan Rinjani mengangguk bersama tapi tidak dengan Shena, ia masih diam karna seolah kini dunianya tengah runtuh. Dua wanita lain yang sedang bersamanya tentu sangat paham dengan apa yang di rasakan Shena, kaget sudah pasti di tambah takut dan khawatir, padahal keadaanya sendiri pun sedang tak baik baik saja saat ini.
"Shen---," panggil Bintang agar gadis itu sadar dari lamunannya.
"Abah bohong kan?" tanyanya dennha derai air mata yang jatuh ke pipinya yang baru saja kering.
Bintang tentu tak tinggal diam, ia peluk Shena agar jauh lebih tenang sedangkan Rinjani keluar dari kamar untk melihat keadaan Enin, wanita baya itu pasti sangat terpukul sekarang setelah mendengar kabar tentang Fajar barusan.
"Enin, Enin kuat kan?"
Rinjani yang mulai takut karna yang dihadapinya adalah wanita baya tentu hanya bisa sekedar menenangkan dengan sebuah pelukan, hal yang tadi di lakukan Bintang juga pada Shena. Kedua wanita itu pasti sangat terpukul.
"Aa kecelakan tak jauh dari sini, Jani," ujar Enin.
Ia tak sengaja mendengar pembicaraan yang di lakukan oleh suaminya beberapa waktu lalu dengan putra angkatnya lewat sambungan telepon. Tak bisa mengelak, tentu Abah mau tak mau memberitahu Enin meski sangat terpaksa, tapi pria itu yakin Sang istri bisa sedikit tenang karna kebetulan ada para menantu mereka di rumah.
"Sekarang sedang perjalanan kerumah sakit, semoga tak terjadi apa apa padanya," ucap lirih Enin yang menangis tersedu sedu dalam pelukan Rinjani.
Meski Fajar keturunan Konglomerat yang banyak harta, tentu mereka tetap manusia biasa yang tak membeli takdir dan nyawa. Semua akan berjalan atas kehendak yang Maha kuasa pemilik kehiduapan.
"Aamiin, Enin. Kita doakan bersama untuk keadaan Aa ya," balas Rinjani yang ikut khawatir juga, bagaimana pun ia tahu jika kakak iparnya itu orang baik dan yang paling warsa diantara kembrannya, Rinjani tetap berharapa semua akan baik baik saja apalagi sekarang ada Shena.
Ya, Shena yang kini tak bisa berkata apapun kecuali menangis dan menangis lagi tapi kali ini tangisnya tentu karna takut hal buruk terjadi pada Fajar, pria yang tak pernah meninggalkannya dalam kondisi apapun tapi akhir akhir ini malah sedang di jauhi oleh dirinya sendiri.
"Ini salahku, ini salahku. Harusnya aku bukan Aa," ucapnya sambil terisak sedih, di tambah dengan sesak dama dada membuat napasnya tersengal.
"Jangan bicara seperti itu, kamu harus tenang dan kita tunggu kabar dari Abah ya, kamu tak sendiri, Shena."
Bintang mulai mengurai pelukan karna ponselnya di dalam tas tak berhenti berdering dan ia yakin itu dari suami atau keluarga yang lain.
Dan benar saja, nama pria cinta pertama dan terakhirnya itu kini sedang tertera di layar benda pipih mahal miliknya.
"Iya, Bang."
"Kamu masih di rumah Enin kan?" tanya Angkasa langsung tentang posisi istriya saat ini.
"Iya, aku sama Jani masih di rumah Enin," jawab Bintang
"Tolong jaga Shena dan Enin ya, Aa kecelakaan, Abang dan Ayah sedang menuju rumah sakit, katakan pada Jani untuk tidak memberi tahu Lilin lebih dulu," pesan pria itu di sebrang sana, pikirannya mulai bercabang karna tak hanya Si tengah yang ia khawatirkan tapi juga Si bungsu, jangan sampai kedua adikya itu sama sama masuk rumah sakit.
"Terima kasih, Sayang. Kamu memang sellalu bisa ku andalkan," puji Angkasa yang jujur dalam hati karna selama ini istrinya memang yang terbaik.
"Kembali kasih, Abang juga harus fokus ya, kalian pasti kuat, aku percaya itu."
Pernikahan tentu bukan hanya antara suami dan istri karna mau tak mau melibatkan kedua besar keluarga, maka dari itu pentingnya pernikahan atas dasar sebuah restu.
Kini, pikiran Bintang pun melayang pada Bubun yang entah bagaiamana reaksinya saat tahu putra keduanya itu sedang mengalami kecelakaan, apalagi ini adalah yang pertama bagi Fajar, Tatapan Bintang pun beralih lagi pada Shena yang menunduk dengan bahu masih bergunjang, ia remas kuat kuat semua jari tangannya agar tak bergetar hebat.
"Meski ini pasti karna Aa sangat memikirkanmu, tapi ku harap tak ada satupun yang menyalahkanmu, Shena. Aku tak bisa bayangkan itu, karna aku maupun Jani pasti tak bisa banyak menolongmu. " bathin Bintang.
Semua anggota keluarga tentu punya pikiran yang sama, begitu pun Shena yang sudah menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang menimpa Fajar kali ini. Dalam keadaan kalut, kacau dan takut seperti sekarang tentu sulit untuk berpikir jernih dan memang itu yang sedang di takutkan oleh Bintang, mengingat mereka bukan keluarga biasa yang sangat menjaga keturunan dengan sangat sangat baik.
.
.
#Rumah sakit.
Beberapa keluarga yang sudah datang kini berkumpul di sebuah ruangan yang pastinya itu untuk keluarga yang sedang menunggu kabar, karna memang Fajar langsung di larikan ke rumah sakit milik mereka oleh pasukan Gajah.
Raut wajah panik dan cemas jelas terlihat dari para pria yang ada disana, ada Ayah Keanu, Abah, Abang Asha dan Uncle Rain. Waktu benar benar begitu lambat berjalan jika sedang dalam keadaan seperti ini, dan andai saja di perbolehkan ingin sekali Tuan besar Lee menerobos ke dalam ruangan dimana kini putra keduanya sedang di periksa oleh team Dokter terbaik.
"Ya Tuhan, kenapa lama sekali!" ujar Ayah Keanu yang sudah sangat tak sabar ingin tahu kondisi Si tengah sebab senyum hangat anaknya itu terus berputar di pelupuk mata Ayah yang tak lagi kuat menahan cairan bening yang siap tumpah.
"Sabar, Bang." Abah Rendra yang tak kalah cemas pun tak bsa berbuat banyak kecuali meneangkan putranya itu padahal ia sama takutnya.
"Tapi aku gak bisa terus terusan diem kaya gini, Bi," jawab Ayah Keanu yang sidah sangat frutasi.
"Kita tunggu saja, percaya pada team dokter yang sedang menangani Fajar jika semua akan baik baik saja."
Ayah Keanu mau tak mau mengangguk pasrah, ia melirik ke arah Si sulung yang sedang menangis dalam pelukan bapak Miong.
"Doain, Bang, jangan di nangisin terus ya," kata Uncle Rain, ia justru masih sangat tak percaya jika musibah ini terjadi pada keponakannya yang paling waras.
"Iya, Uncle, cuma kasihan aja, kan-- kan-- Aa itu," ucapnya di sela isak tangis.
"Aa kenapa?"
.
.
.
.
Belum ngerasain enaknya di himpit kerang sawah...