Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 53


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Shena yang mendapat izin untuk pulang ke rumah Abah dan Enin tentu tinggal pamit pada Fajar, tak ada barang apapun yang akan di bawa kecuali ponsel dan dompet. Ia yang berjalan pelan menuju kamar Si tengah terus berusaha menetralkan detak jantungnya sebab ia tak yakin jika pria itu akan mengizinkannya pulang, sebab sejak kembali dari rumah sakit Fajar terus menempel padanya.


Tok..tok..tok..


"Aa, ini Shena." ia yang sudah berada di depan pintu kamar yang tertutup terussa mengetuknya.


"Masuk," titah Fajar, tapi di tolak dengan gelengan kepala oleh Shena yang tetap pada posisinya.


"Kenapa?"


"Aku mau pulang, Aa gak apa apa kan aku tinggal?"


Kali ini gantian Fajar yang menggelengkan kepala, karna tak ada kata baik baik aja saat gadis itu jauh darinya.


"Kata Bubun, biar aku gak lecet di gigitin terus, A'," jelasnya yang pasti membuat keda bola mata Fajar membulat sempurna.


"Bubun bilang gitu?"


Shena mengangguk, tak hanya itu ia juga membela dirinya yang akan menjempit juga menghimpit Fajar jika sudah menikah nanti sebagai ajang balas dendam, dan mendengar itu semua sontak membuat tubuh Fajar lemas seketika di ambang pintu.


"Iya deh, kamu boleh pulang," balas pria iitu pasrah, itu lebih baik di banding ia akan jai bahan ledekan keluarganya nanti.


"Yeeee, oh ya aku lupa," ucap Shena yang baru ingat sesuatu.


"Apalagi?" tanya Fajar, jika tangnnya tak memegang kenop pintu mungkin pria itu sudah ambruk ke lantai.


"Aa udah bayar utang belanjaan aku belum?"


"Hem, nanati ku urus," jawab Fajar.


"Lalu, apa minggu ini aku tetap di beri upah, kerja ku lebih berat loh, karna buka tunggu Aa pulang kerja, justru nunggu Aa pulang dari rumah sakit," katanya dengan polos.


"Ya, ampun Shenaaaaaaaa! Gimana aku gak doyan gigitin kamu, coba!!!!" teriak gemas Fajar.


"Ampun, A'," balas Shena yang juga berteriak namun sambil berlari ke kamar nya.


Fajar yang melihat tingkah gadis kesayangannya hanya tertawa, namun tawanya itu berhenti saat ada seorang pelayan datang menghampirinya untuk memberitahu jika ada tamu yang datang mencarinya, dan kini orang itu ada di bawah sedang menunggu.


Tak ingin berlama-lama, Fajar turun ke lantai bawah tepatnya ke ruang tamu. Senyum terukir diujung bibirnya saat melihat siapa yang datang.


"Apa kabar?" tanya Niha, tak hanya rasa khawatir tapi juga ada rasa rindu yang di rasakan wanita cantik itu hingga ia berani memeluk Fajar.


"Sudah jauh lebih baik."


"Aku senang kamu sudah pulang dari rumah sakit, maaf aku baru sempat menjengukmu," ucap Niha lagi, perasannya lega, sungguh sangat lega.


"Tak apa, aku yang harusnya minta maaf karna sudah merepotkanmu. Pekerjaanmu pasti sangat banyak sekali kan?" balas Fajar yang sama tak enak hatinya.


"Tidak juga, ada Abang Asha yang sering datang ke kantor atau menggantikan posisimu saat Meeting, dan--"


Ehem...


Suara deheman yang cukup keras membuat keduanya kaget, jika di luar kantor tentu mereka layaknya seorang Sahabat bukan lagi PresDir dan Asistennya.


Ada Enin, Abah dan pastinya Shena yang sudah bersiap untuk pulang. Melihat raut wajah tak menyenangkan dari Shena tentu membuat Fajar langsung mendekat.


Sedangkan Niha, wanita itu menyalami Abah dan Enin dengan penuh rasa sopan karna memang tentunya sudah cukup dekat, andai Fajar punya rasa yang sama, hubungan mereka pasti langsung mendapatkan restu dari semua pihak. Tapi, lagi dan lagi para pria Rahardian selalu mendapatkan Ratunya dari kalangan biasa dengan cara yang tak terduga.


"Selagi kamu disini, mari ku kenalkan pada Shena." Fajar membawa Shena tepat kedepan Niha, wanita tentu langsung mengulurkan tangan untuk berkenalan. Tapi, Shena malah menoleh kearah Fajar.


"Dia temanku, rekan kerjaku juga," jelas Fajar yang tahu arti tatapan Shena padanya.


Shena yang terlihat sedih ikut menerima uluran tangan wanita yang tak pernah di ceritakan oleh Fajar selama ini..


"Aku Niha, senang berkenalan denganmu. Sudah lama aku ingin mengenalmu."


"Buat apa?" tanya Shena.


"Hah? hem, kita--kita bisa berteman 'kan," jawab Niha dengan tawa kecilnya.


Pertanyaan Niha pun beralih pada Abah dan Enin yang terlihat akan pergi, dan nyatanya sepasang baya itu akan pulang beserta dengan Shena juga.


"Enggak, Shena gak jadi pulang," jawabnya dan itu membuat Abah, Enin dan Fajar saling pandang.


"Loh, katanya mau pulang?"


Semua yang ada disana rasanya peka dengan perubahan sikap Shena, jadi tak ada yang banyak bertanya lagi pada gadis itu. Abah dan Enin langsung berpamitan karna mobil juga sudah di persiapkan untuk mengantar mereka.


"Jika belum terlalu pulih jangan terlalu di paksakan, serahkan saja semua padaku," kata Niha yang merasa Fajar masih belum terlalu Fit kondisinya.


"Iya, aku tak bisa memastikan kapan akan kembali ke kantor," jawab Fajar tapi tatapannya kearah Shena.


Ketiganya sudah di ruang tamu, Niha di sofa single sedangkan Fajar dan Shena di sofa panjang. Gadis itu duduk dengan posisi bersandar tak lupa Kepala ia letakkan di dada prianya. Seolah ingin memeberi tahu pada dunia, jika yang sedang bersamanya kali ini tentu hanya miliknya seorang.


Cemburunya lucu juga ya,. bathin Niha.


Keduanya hanya mengobrol seputaran kantor dan pekerjaan, sebab takut jika Shena berpikir yang tidak tidak saat membahas yang lain, padahal Niha begitu banyak cerita yang ingin ia bagi Fajar.


"Sudah siang, aku pulang ya," pamit Niha sambil bangun dari duduknya.


"Tanggung, kenapa gak makan siang sekalian disini?"


"Lain kali saja, ku rasa masih banyak waktu kan?" tolak halus Niha, ia tentu tak enak hati pada Shena yang Sedari tadi jadi pendengar yang baik diantara mereka.


"Ya sudah, Hati-hati dan Terima kasih sudah mau datang," ucap Fajar yang tentu kali ini tanpa pelukan perpisahan tapi Fajar dan Shena tetap mengantar sampai garasi dimana mobil Niha berada.


Sampai Niha benar-benar sudah menghilang dari pandangan mereka, barulah Fajar mengajak Shena masuk namun di tolak oleh gadis itu.


"Kenapa?"


"Aku kan mau pulang," jawabnya.


"Katanya gak jadi, gimana sih!" ujar Fajar yang tak paham dengan perubahan sikap Si JanCiL.


"Gak jadi pas ada Si Nehi Nehi Aca Aca, sekarang jadi pulangnya."


"Hah?!" Fajar tentu bingung dengan yang disebutkan Shena barusan, apa gadis cantik itu sudah ketularan Lintang dan El? entahlah....


.


.


.


Perjalanan yang di tempuh beberapa jam akhirnya sampai. Mobil yang di naiki Ayah Keanu dan Rain kini berhenti di sebuah tanah lapang yang tak terlalu luas tapi cukup untuk kendaraan parkir.


"Tempatnya di sini, Tuan."


"Dimana? kontrakan nya banyak banget," sahut Rain yang pastinya sambil menyapu pandangan.


"Yang pintu catnya berwarna Biru, Tuan," jawab Sang supir.


Ayah Keanu dan Rain tentu langsung turun dari mobil menuju salah satu kontrakan yang keadaan sekitarnya jauh dari kata layak sebab cukup kumuh dan sangat berantakan, terbukti dengan banyaknya sampah yang berserak.


Dengan di temani Supir, ketiganya kini sudah berdiri di depan pintu yang tertutup rapat hingga harus di ketuk ssmpai berkali-kali.


"Yakin ada orangnya?" bisik Ayah Keanu.


"Kalau gak ada gak mungkin kesini di anternya," jawab Rain, ia tentu tahu bagaimana cara kerja pasukan Gajah yang selalu memberi info. seakurat mungkin.


"Iya juga sih."


Supir yang baru saja ingin mengetuk lagi harus di urungkan karna benda bercat Biru itu telah di buka oleh seseorang, dari yang mereka lihat tentu bisa di tebak jika itu adalah Ayah Shena.


"Assalamu'alaikum, selamat siang, Pak." sapa sopan Sang supir.


"Iya, kalian siapa?" tanya Pria paruh baya itu, bau mulutnya yang menyengat membuat ketiganya sedikit menghindar.


"Kami datang kemari ingin bertemu dengan Pak Edi."


"Iya, saya sendiri ada apa?" tanyanya galak karna di bawah pengaru alkohol.


"Kami, ingin bicara dengan Anda, ini tentang Senandung, putri Anda kan?" jelas Ayah keanu perihal ia datang bersama dengan adik iparnya.


.


.


.


"Senandung, Shena--, mana dia?"