
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Setelah drama kejar kejaran karna saling ledek antara Shena dan Lintang, gadis itu sampai tak mau keluar kamar bahkan sarapan saja di bawakan oleh Fajar.
"Aa berangkat ke kantor dulu ya," pamit Si tengah setelah ia sudah rapih dengan stelan jasnya.
"Jangan, ntar aku di masukin Neraka, gimana?" rengek Shena yang tak mau melepaskan tangan Fajar, ia sudah telat satu jam diwaktu biasanya berangkat ke kantor.
"Lilin tuh cuma bercanda, dari kecil juga kan gitu. Kamu juga tahu cerita itu dari Enin."
"Tapi aku merinding pas denger langsung, A'," sahutnya yang bergedik ngeri.
Fajar tertawa kecil, jika di ingat kejadian semalam memang Lintang marah sekali dan begitupun dengan Shena, Si cantik tak terima saat ia di panggil Dung-Dung terus menerus.
Saking kesalnya ancaman di tiup pun di layangkan Shena, padahal jelas orang yang sedang di hadapi nya itu adalah kuncen akhirat.
"Ya udah, kamu diem diem di kamar aja ya, jangan keluar, nanti kamu nyasar. Kalau butuh sesuatu kamu bisa telepon dengan menekan angka satu, nanti langsung terhubung ke kepala pelayan, katakan saja apa yang kamu mau, Ok," pesan Fajar. Ia benar-benar tak bisa jika harus meninggalkan pekerjaannya hari ini.
"Aku di kurung?"
"Enggak, dari pada nanti ketemu Lilin, hayo."
Shena mengganguk, rasanya memang itu jauh lebih baik. Malas rasanya terus menerus di ledek oleh Si Bungsu yang menurut Shena sangat menyebalkan.
"Nanti ku tanya Bintang dan Rinjani, biar mereka menemanimu jika ada waktu lengang," ucap Fajar lagi.
"Memang mereka kerja?" tanya Shena.
"Hem, sama sepertimu, Cantik," jawab Fajar sambil mengusap pipi mulus Shena yang belum mandi.
Rona merah jelas terlihat, keduanya saling tersenyum simpul saat merasakan getaran getaran dalam hati masing-masing. Tapi sayangnya Fajar tak bisa menikmatinya lebih lama karna sisa waktu yang tak memungkinkan.
.
.
Satu jam, dua jam Shena masih anteng didalam kamar sembari menonton TV karna jika di rumah Enin ia harus melakukannya di ruang keluarga lantai atas. Tapi di rumah utama bagai surga baginya karna bisa menonton drama kesukaannya sambil berguling malas di atas ranjang.
"Ya ampun, kerja kaya gini bosan juga ya," gumamnya bingung sendiri karna waktu beranjak siang sedang ia masih malas untuk mandi.
Shena turun dari ranjang besarnya lalu berjalan menuju balkon, tirai putih yang tertutup ia buka dengan pelan dan betapa terkejutnya gadis tersebut saat melihat pemandangan didepannya kini, belum lagi saat pandangannya ke bawah yang ternyata itu halaman samping.
"Rumah besar gini, gimana ngepelnya ya?" pikir Shena tak habis pikir, entah berapa jam untuk melakukan pekerjaan itu.
Shena yang merasa angin yang berhembus cukup kencang sesekali menyingkirkan rambut panjangnya yang lurus sepinggang.
"Itu apa? kaya kuburan?" bathin Shena tapi menurutnya itu terlalu bagus jika di sebut makam.
Rasa penasaran itupun ia tepis dan memilih untuk masuk kembali kedalam kamar, matahari yang semakin naik membuat ia berniat untuk membersihkan diri sebelum Bubun menemuinya karna Bintang maupun Rinjani nyatanya tak ada satupun yang datang, mungkin sibuk entah apa Shena pun tak mau terlalu memikirkan.
Cek lek
Meski semalam sudah memakai kamar mandi tersebut untuk membersihkan diri tapi rasa kagum itu tak juga hilang. Shena tersenyum lebar karna tak menyangka ia ada di tempat yang bahkan terlintas di pikirannya pun tak pernah, apalagi bermimpi atau pun berharap.
"Dulu nonton Cinderella di TV tetangga, tapi kenapa aku sekarang serasa jadi Cinderellanya ya?" gumam Shena yang kini berdiri di depan cermin besar yang memperliat seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga kepala.
Satu persatu kancing piyama tidurnya di buka, lalu di tanggalkannya semua yang melekat hingga terlepas. Tubuh polos tanpa apapun itu kini terpampang dengan sangat jelas yang pastinya sampai detik ini hanya Shena yang tahu bagaimana lekuk tubuh mulusnya tersebut.
"Bang Tagor apa masih di penjara ya?" tanya pelan Shena. Meski tak pernah membahas ini pada Fajar tapi ia tak pernah lupa dengan sosok pria yang selalu mencengkram wajahnya saat sedang berusaha menggapai pelepasan. Kelainan yang di derita Tagor benar-benar melukai lahir bathin Shena selama menyandang status istri.
Ia tak boleh per paling dan memejamkan kedua matanya saat Sang suami sedang menggali kenikmatan dunianya yang jelas menyimpang.
"Bagaimana jika ia kembali? apa dia akan balas dendam padaku? aku tak ingin kembali padanya apapun alasannya pria brengSeKk tersebut termasuk jika---," ucap Shena penuh tekad meski akhirnya ia tak mampu meneruskan kata katanya lagi.
"Termasuk jika ayah yang meminta ku," sambung Shena dengan nada lirih.
Sakit rasanya di jadikan alat tukar oleh pria yang kata orang adalah cinta pertama seorang anak perempuan apalagi Shena yang notabene nya adalah anak bungsu.
"Semua anak punya Ayah tapi tak semua anak beruntung bisa menikmati kasih sayang dari sosok tersebut, Shena contohnya."
.
.
.
Si JanCiL yang sudah cantik dengan rambut sedikit basahnya pun keluar dari kamar, ia yang sebenarnya cukup ragu untuk melangkah hanya bisa berdoa dalam hati agar tak tersesat. Tak ada siapapun di lantai dua, semua pintu tertutup rapat yang entah itu ruang atau kamar para penghuni lainnya karena hampir semuanya sama selain satu pintu yang sangat besar. Shena tak berani bertanya jika Fajar tak cerita apapun padanya.
"Ini cara ngebedainnya gimana? kenapa jadi kaya Aa, Abang sama Si Lilin ngepet sih?" gumam Shena lagi, jika ketiga pria itu sedang diam dengan ekspresi sama tentu sulit di bedakan. Tapi rasanya sangat mustahil mengingat Si sulung yang pecicilan dan Si bungsu yang teramat bawel.
Tapi, Shena tahu jika satu diantara ketiganya yang menyebalkan itu adalah Lintang dan itu tak akan tertukar dalam pikirannya, karna kesan pertama bertemu saja pria itu sudah di tandai olehnya.
"Dari depan kamar, jalan ke kanan.... lurus... terus... maju.... fokus Shena biar inget," ucapnya sambil melangkah dengan pelan. Ia menoleh dan berhenti sesaat saat melihat pintu kaca, apalagi jika bukan lift keramat.
"Andai aku bisa sendiri pakai ini," kekehnya sambil meraba benda tersebut.
Ehem...
"Aduh apaaan tuh?" serunya kaget yang tak lama langsung kabur. Beruntungnya Shena melihat tangga dan ia yakin itu adalah tangga yang ia naiki semalam bersama Fajar saat pria itu mengantarnya untuk istirahat.
"Huft, ini tangga banyak panjang banget ya? sampe gak ada ujungnya," lanjut Shena yang bergumam sendiri, ia begitu sangat hati-hati menuruni setiap anak tangga yang tentu berbeda dengan anak tangga di rumah Abah dan Enin.
"Suara apa itu ya?" bathin Shena tak berani bersuara saat di ruang tengah dengan TV besar yang menyala, seperti ada orang di sofa tapi Shena tak tahu itu siapa.
Adanya rasa penasaran tentu membuat gadis itu semakin mendekat, ia ingin tahu suara siapa yang sedang cekikikan yang sesekali terdengar suara rajukan manja juga. Tapi ada yang menggelitik telinga Shena saat ia mendengar justru ada suara laki-laki sedang bernyanyi...
.
.
.
Doyang doyang Utel utel aju aju undul undul lili lili nanan nanan... Clulut clulut, gitu kan, Yin?
Demoooooooooy.... itu ujung nyanyianmu apa?????????? 😭😭😭😭😭😭
Jangan dulu gede ya sayang, 😆
Lapakmu belom ada hilal, jangan dulu meresahkan nanti gak boleh numpang maen 🤣🤣