
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Eh, Shena--," Phiu yang takut dan geli tentu langsung menghindar, karna jangankan anak Macan karna kucing kucing putranya saja sudah membuatnya mual saking banyak dan warna warni bikin pusing kepala.
"Jilat aja, gak gigit apa lagi kejar kejar loh, Hiu."
"Gigit?" tanya pria baya itu semakin ngeri bahkan sampai bergidik ngeri.
"Iya, Bubu mau gigit tangan Aa yang udah pegang pegang bibir perempuan itu di kantor," jawabnya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Memang--, mereka lagi apa? kok Aa bisa sampai pegang bibir Alina?"
"Alina katanya di pukul, mukanya kaya Shena dulu, tapi Shena dulu obatin sendiri di rumah. Gak kemana mana, kan gak punya uang buat ke dokter, tapi perempuan itu pasti punya uang kan? kenapa gak ke dokter atau rumah sakit? malah datang ke tempat kerja Aa," jelasnya yang di akhir sedikit bergetar suaranya.
Wanita itu hanya tak habis pikir, kenapa harus kepada suaminya? yang jelas bukan dokter.
Adapun jika seandainya Shena ingat bagaimana Fajar dulu terhadapnya tentu lain cerita. Pria itu yang datang menawarkan bantuan hingga sembuh dan selalu bilang jika ia adalah tanggung jawabnya.
Phiu mengusap punggung cucu mantunya, ia paham betul apa yang di rasakan Shena saat ini adalah sebuah rasa yang wajar sebagai seorang istri, bahkan suami pun akan merasakan hal yang sama jika miliknya di sentuh dengan sangat sengaja.
Dan, Phiu memang tahu jika hubungan Alina sedang tatak baik baik saja, entah itu dengan ayahnya juga pasangannya.
Dan untuk Fajar, memang sedikit wajar jika Alina datang pada cucunya tersebut karna sebelum di jodohkan mereka sudah bersahabat lama. Ada kalanya memang hati selalu menunjuk satu orang yang kita Anggap tepat untuk bercerita, karna tak semua teman dapat di percaya dan paham dengan masalah kita.
"Shena percaya sama Aa kan?" tanya Phiu yang mulai khawatir, bukan takut Shena merajuk tapi rasanya tak tega jika cucunya harus di gigit oleh Bubu.
"Hem, percaya apa?" tanya balik wanita itu.
"Shena harus percaya, kalau Aa gak mungkin macam macam di belakang Shena, Ok," jelas Phiu memberi pengertian karna sejauh ini tak ada kasus selingkuh dalam keturunan Singa, tapi entah jika mak othor iseng ingin huru hara.
"Ish, bukan di belakang Hiuuuuuuuuuuu, tapi di kantor!"
Tuan besar Rahardian pun tertawa, ia lupa jika bicara dengan Shena harus jelas tanpa istilah apapun agar mudah di pahami olehnya yang tak bisa di ajak muter-muter kecuali ke pasar malam dan taman jajan.
"Iya, iya. Dimana pun itu Aa pasti tak mungkin macam macam, Shena harus yakin jika Aa sayang Shena."
Shena mengangguk pelan , masih ada rasa ragu dalam hatinya karna ia melihat sendiri apa yang di lakukan suaminya, bukan lagi katanya tapi langsung dari matanya.
"Hukum Aa? hukum gimana?" tanya Phiu penasaran.
"Shena mau suruh Bubu buat gigit tangan Aa yang udah nakal barusan," jawabnya jujur padahal pria di dekatnya itu adalah kakek dari mangsa berikutnya.
"Di gigit?"
"Iya, pokonya Aa harus ngerasain tangannya sakit!"
"Duh, hukum cara lain aja ya, Nak. Masih banyak cara, Ok. sekarang Bubunya masukin kandang, kasian dia ngantuk banget itu," titah Phiu yang di jawab gelengan kepala.
Tapi, sang Tuan besar masih tetap merayu karna tahu jika cucu mantunya itu cukup berani, ia yang dulu lemah tak bisa berbuat apa-apa kini justru seakan sedang membentengi dirinya sendiri dari hal yang mungkin akan menyakitinya...
"Tapi Shena kesel sama Aa," ucapnya sedih namun geram.
"Iya, Phiu tahu. Kamu cari cara lain ya buat hukum Aa."
Shena membuang napas kecewa, dan akhirnya ia mengangguk sedangkan Phiu tersenyum simpul karna lega jika Shena paham tak semuanya bisa ia lakukan.
.
.
.
Iya... Shena mau bikin Aa jerit jerit di atas ranjang.
Ada promo novel Chia "Mengejar Cinta Suamiku"
yang belum baca, bisa cus ke lapak ManDud ya.
"Jatuh cinta pada mantan istri"