
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Makasih, Hiu," ucap Shena sambil bertepuk tangan kecil, dan dengan bangganya kini ia sudah berdiri sejajar dengan Sang Tuan besar Rahardian.
Melihat itu semua sudah bisa di pastikan jika Lintang lah yang paling marah sebab Tutut Markentutnya kini sedang di ambil alih oleh Shena yang jelas asing baginya. Setelah memberi perintah Phiu dah Shena duduk di ruang tengah lantai dua sedangkan Angkasa, Lintang dan El turun ke bawah. Betapa dongkol nya hati ketiga pria tampan itu saat berjalan kearah halaman samping .
"Harusnya itu kan kalian berdua, Abang gak perlu ikutan," protes Si sulung.
"Sama, aturan Si anak kecil nih yang di hukum," sahut Lintang tak mau kalah juga.
"Kok Demoy?" sahutnya bingung sebab ia tak bisa menyalahkan siapa siapa lagi.
"Kamu! ngapain pake ledekin Si Dung-Dung? pake nambahin Pret, lagi," kata Lintang yang tahu asal muasal Shena mengamuk.
"Biar makin cantik pakein Pret, Yiyiiiiiiiin," jawabnya yang usel usel manja di lengan kakak sepupunya.
Apapun itu, sekali pun di hukum ia akan senang senang saja selagi masih ada Yiyin oh Yiyin nya.
Mereka yang sedang berdebat panjang kali lebar langsung diam saat di datangi oleh tiga orang pelayan dengan atribut kebersihan di tangan mereka masing-masing.
"Selamat siang, Tuan. Kami mendapat perintah dari Tuan besar untuk membawakan sapu dan yang lainnya," terang salah satu pelayan.
"Kita beneran di hukum Phiu?" tanya Angkasa tak percaya, pikir Si sulung ia hanya di minta menjauh dari Shena.
"Gak mau! El gak bisa," tolak El yang seumur hidupnya tak pernah memegang benda tersebut.
"Tapi ini perintah dari Tuan besar."
"Phiu nakal," ucap lirih Lintang sedih. Tak pernah sekalipun Si bungsu di hukum apalagi gara-gara orang tak jelas asal usulnya.
Tapi, demi menghargai perintah Tuan besar, ketiganya pun langsung mengambil satu persatu alat kebersihan tersebut. Mereka kembali menoleh saat Phiu Samudera datang bersama dengan Shena.
"Heh, Panda! Jangan deket deket Phiu Lilin ya!"
"Nyapu yang bersih, tuh kotor banget disana," bukan takut dengan ancaman Lintang, Si JanCiL malah menyuruh para Tuan Muda itu dengan entengnya.
"Huaaaaaa, Panda masuk Neraka hayuuuuuuuu," rengek Lintang kesal dan tak mau melihat ada orang lain di samping kesayangannya.
Phiu yang mati matian menahan tawa hanya bisa memalingkan wajah karna akan lain ceritanya jika ia luluh dengan rajukan cucu kesayangannya itu.
"Phiu nih bercandanya kelewatan, yuk ke kamar aja El mau ngetek, " ajak Si anak kecil, ia yang mau berjalan kearah Phiu ditarik belakang bajunya oleh Lintang.
"Jangan macem-macem!"
"Enggak, satu macem doang, El etek nanan kaya biasa, ok." kekehnya sambil menaik turunkan alis, Si anak kecil seolah tak paham dengan arti sebuah hukuman.
"Cepat bersihkan! harus selesai sebelum makan malam nanti, paham kalian," titah Phiu lagi, ia pun dengan Shena berjalan kearah Gazebo.
Lintang yang melihat itupun kedua matanya langsung bulat sempurna, ia yang tak tahan karna rasa cemburunya langsung berteriak histeris.
"Sabar, ini ujian ahli Surga," ledek Angkasa yang malah meledek adik kembarnya itu.
Lintang yang kesal semakin kesal tentunya, ia sampai melempar Si sapu berharap Phiu tak sekejam ini padanya, tapi pria baya itu masih nampak santai.
"Ambil El, cepetan nyapu sana!" titah Angkasa.
"Ini gimana?" tanya Sang Tuan Muda manja.
"Ya sapu lah sampe bersih," jawab Angkasa mulai emosi.
"Gak bisa, gak gimana caranya."
Angkasa pun membuang napas kasar, ia langsung mempraktekkan bagaimana caranya menyapu yang benar sambil marah marah tentunya, sedang kedua adiknya itu malah duduk santai.
"Astaga! kenapa abang yang kerjain sendiri!" Angkasa yang baru sadar melempar dua benda yang ada ditangannya.
"Kalian kenapa duduk?"
"Capek," jawab El cepat, padat dan jelas.
"Duduk, sama Yiyin oh Yiyin, iya kan, Yiiiiiin?"
Ah, memang menggemaskan sekali anak itu bagi semua orang tapi tidak bagi Lintang yang kedua matanya tetap menatap tajam kearah Phiu dan Si JanCiL.
.
.
.
#Kantor.
"Apa aku bisa pulang cepat hari ini?" tanya Fajar pada Nina setelah semua berkas ia serahkan pada Asistennya usai di tanda tangani.
"Kita ada makan siang dengan Tuan Peter, sudah lama beliau ingin bertemu dengan Anda, Tuan."
"Hanya dengan dia kan? apa habis itu aku bisa pulang?" tanya Sang PresDir lagi.
"Bisa, Tuan. Selebihnya biar saya yang Handle," jawab Niha.
Senyum pun mengembang di sudut bibir fajar yang ingat dengan Shena, jika boleh jujur dan berprasangka buruk rasanya perasaanya kini sedang tak enak tapi ia coba menepis nya sebab yakin Shena baik baik saja di rumah utama. Terakhir Fajar menelepon ia tahu jika gadis itu baru mau mandi.
Tak pernah terbersit dalam benak Fajar jika Abangnya akan pulang dan El datang juga, sedang ia tahu jika Lintang memang akan chekup ke rumah sakit siang ini.
Semuanya di selesaikan Fajar dengan cepat, ia tak mau menghubungi Shena dulu karna biasanya akan sulit untuk di akhiri, ujung-ujungnya tentu pekerjaannya yang akan jadi korban atas rasa rindunya.
Seperti yang Niha katakan, mereka kini makan siang dengan Tuan Peter, salah satu klien yang sudah cukup lama menjalin kerja sama dengan Rahardian Group. Fajar yang sudah mulai resah akhirnya berpamitan lebih dulu dengan alasan ada urusan mendadak padahal semua itu tak lebih dari urusan hati dan rindu.
"Mohon maaf sekali lagi, tapi nanti kita bisa atur waktu kembali," ucap Fajar setelah ia bangun dari duduk lalu berjabat tangan.
"Tak apa, Tuan Fajar. Saya sangat paham dengan kesibukan Anda. Bisa makan siang seperti ini saja sudah suatu kehormatan bagi saya," jawab Tuan Peter yang jarak usianya beberapa tahun di atas Fajar.
"Baiklah, saya pamit dan terimakasih."
Fajar pergi dari Resto bersama Niha, padahal gadis cantik itu tak apa jika harus balik ke kantor dengan menggunakan taksi tapi Fajar tak mengizinkannya.
"Sudah serindu itukah? sampai rasanya aku dibawa terbang olehmu A'," sindir Niha.
"Ups, maaf. Ini terlalu kencang ya?" kekeh Fajar yang paham dengan yang di ucapkan gadi di sebelahnya.
"Aku belum menikah, aku tak mau mati sia-sia."
"Kamu pikir aku sudah, hem?" tanya Fajar dengan sedikit mencibir.
"Setidaknya kamu sudah punya calon istri, sedangkan aku?" Niha pun membuang napas kasar serasa hidupnya begitu malang.
Fajar pun hanya bisa tertawa, sebab orang yang di sangka sudah menjadi calon istrinya masih belum peka dengan ajakan serius Fajar. Entahlah, seolah masih ada trauma dalam diri Shena.
"Aku antar sampai sini saja ya, kerjakan yang menurutnya lebih penting," pesan Fajar yang hanya di iyakan oleh Niha sebelum ia turun dari mobil mewah Bosnya tersebut.
Tak pernah terdengat ada skandal apapun antara Fajar dan Niha, karna selain hubungan spesial PresDir dan AsPir mereka juga adalah sahabat baik. Keduanya bersikap senormal dan sewajarnya meski jauh dalam hati Niha ada getaran rasa berbeda.
"Tak apa, kamu pasti sudah sangat ingin bertemu dengan Shena kan? aku titip salam untuknya boleh?"
"Tentu, akan kusampaikan padanya," jawab Fajar.
"Berjanjilah untuk mengenalkan kami lain waktu, aku sangat penasaran Semenggemaskan apa Shena sampai membuat mu sangat mencintainya," ujar Niha, meski ada rasa mencelos dalam hati saat mengatakan itu.
.
.
.
Entah lah.. aku tak punya jawaban kenapa aku bisa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada Senandung...