
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aa, Aa lagi ngapain?" tanya Shena saat ia membuka pintu ruang kerja suaminya yang baru pertama kali ia datangi.
"Shena." tak hanya Fajar karna Alina pun sama kagetnya.
"Sayang, sama siapa kemari?" tanya Fajar yang langsung bangun lalu memeluk istrinya.
Ia tak pernah se terkejut ini sebab kedatangan Shena ke kantor apalagi seorang diri tak pernah terbersit di benaknya.
"Sendiri," jawabnya yang masuk kembali ke dalam pelukan Sang suami.
Fajar yang merasa bersalah dan takut Shena marah hanya bisa menciumi pucuk kepala wanita halalnya, berharap dan berdoa istrinya tak salah paham karna yang di lihatnya barusan.
"Bukannya tadi bilang mau pergi sama Bubun?"
"Iya, tapi gak jadi, cuma ikut sampai makan di restoran aja," jawabnya lagi dengan nada pelan dan itu tentu karna suasana hatinya yang mendadak buruk.
"Kenapa gak jadi ikut?" tanya Fajar lagi.
"Kangen Aa."
Deg
Hati Fajar tentu langsung mencelos mendengar pengakuan yang terlontar dari istrinya barusan. Ini bukan yang pertama tapi entah kenapa rasanya berbeda dan itu semakin membuat Fajar merasa sangat bersalah sekali hingga ia langsung mengeratkan pelukan.
Sedangkan bagi Shena, itu bukan semata rasa rindu saja karna sejak awal ia melangkah pergi dari rumah utama perasaannya sudah tak enak, dan ia tak bisa mengartikannya, hanya merasa ada dorongan dan bisik kan untuk memilih bertemu dengan suaminya saja di banding harus ikut sang ibu mertua berbelanja.
"Ya sudah ayo, jangan di depan pintu," ajak Fajar karna memang Shena masih di posisinya seperti saat datang, hanya saja memang Fajar yang menghampirinya tadi.
"Aku baik, tapi sepertinya Kak Alina--," ucap Shena semakin memperhatikan wajah wanita itu.
"Aku juga baik baik saja, ini memang ada sedikit memar tapi tak separah yang kamu pikirkan," jawab Alina sambil memaksa untuk tersenyum meski itu sakitnya sungguh luar biasa di ujung bibirnya.
"Oh, kenapa tak langsung di obati, itu sakit loh," ucap Shena lagi seakan ia ingat dengan dirinya sendiri yang pernah seperti itu.
"Iya, ini juga tadi mau di obati oleh Fajar."
Shena mengernyitkan dahi antara paham atau tidak dengan yang di ucapkan Alina barusan, karna jika benar ingin di obati harusnya wanita itu pergi ke rumah sakit bukan ke kentor suaminya.
"Sejak kapan Aa jadi dokter yang bisa obatin orang yang abis kena pukul?" tanya Shena yang menatap lekat ke arah suaminya.
Fajar yang di serang pertanyaan seperti itu malah salah tingkah, ia mengusap tengkuknya sendiri karna hawa yang ia rasakan mulai tak enak, bulu halusnya pun mulai meremang bersamaan dengan datangnya firasat yang entah akan ada apa yang terjadi.
"Bukan gitu, Aa cuma bantu Alina buat obatin aja, Sayang," jelas Fajar yang tak ingin ada salah paham diantara mereka berdua meski rasanya itu itu sulit sebab waktunya begitu pas saat Shena melihat ia dan Alina tadi.
"Aa tau gak?"
"Tau apa?" tanya balik pria itu yang jantungnya mulai berdebar hebat.
.
.
.
Kata Abang Asha, ini tangan bisa PUTUS loh kalo di gigit BUBU...