
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Persoalan Ketek Phiu tak berhenti begitu saja, Shena dan Lintang terus berdebat sampai semua yang ada di meja makan ikut menengahi bahkan Fajar tak hentinya merayu. Begitu pula dengan Rinjanin.
"Pokonya ini nasi harus ada CAP ketek Hiu!"
"Sono nyebur ke tengah laut," omel Lintang yang tak akan mau kalah jika soal tempat semedinya tersebut.
"Hiunya disini," jawab Shena.
"Gak! itu punya Lilin," tegas si bungsu Rahardian.
Fajar yang sudah pusing dengan pertengkaran dua orang itu langsung menarik tangan Shena kembali ke kandang anak Macan. Hanya itu yang bisa membuat istrinya lupa dengan apapun termasuk makan yang harus di jepit dulu di ketek sang tuan besar.
"Berangkat ke kantor sekarang?" tanya Shena.
"Hem," sahut Fajar, ia yang punya rasa sabar yang banyak ada. kalanya kesal juga.
"Tapi belum sarapan."
"Nanti aja di kantor, ini udah siang. Aa banyak kerjaan," sahutnya yang lalu meminta Pak Iwan membuka pintu kandang dan membawa Bubu keluar.
"Aku laper," ucap Shena yang menarik tangan suaminya.
"Ya udah makanya jangan ribut terus sama Lilin."
"Aku gak ajakin ribut, kan aku cuma minta nasinya di ketekin dulu, A'!" jawab Shena kesal.
Kedua matanya berkaca-kaca lalu berlari untuk masuk kembali ke rumah utama.
Melihat sikap shena barusan, Fajar sudah bisa menebak jika istri pasti merajuk. Dan ia hanya bisa membuang napas kasar karna semakin hari wanita itu semakin sulit di tebak maunya.
Fajar yang menyusul langsung menuju kamar mereka di lantai atas, pintu yang di tertutup rapat di bukanya dengan tangan kanan lalu masuk dengan langkah pelan.
Tujuannya tentu kearah ranjang dimana kini Shena berada. Wanita halalnya itu tersungkur dengan wajah ia sembunyikan di atas bantal.
"Sayang--, mau ke kantor gak?" tanya Fajar yang duduk di tepi ranjang sambil mengusap punggung istrinya.
"Gak!"
"Aa berangkat sekarang ya kalau begitu," ucapnya yang langsung membuat Shena menunjukkan wajah kesalnya itu.
"Aa mau ninggalin aku?"
"Kan tadi di ajak gak mau," jawab Fajar yang sekarang ada di posisi serba salah.
"Tapi aku mau makan, Aa tau gak kalau aku laper?"
"Ketekin dulu nasinya!" pesan Shena yang di abaikan oleh Pria tampan itu, sang suami keluar tanpa menyahut.
.
.
.
Fajar kembali ke ruang makan, disana masih ada keluarganya yang menikmati sarapan.
"Siapkan makanan untuk saya dan istri saya ya," titah Fajar pada salah satu pelayan.
"Baik, Tuan."
"Mau sarapan di kamar?" tanya Bubun yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Fajar.
"Sabar ya, Phiu nunggu di kamar," bisik Mhiu sambil berjalan di belakang cucu keduanya tersebut.
Lintang yang curiga masih memberi tatapan tajam namun di abaikan oleh Kakaknya itu. Fajar memang lebih memilih pergi menjauh di banding meladeni saudaranya yang sering bertingkah tak jelas dan jahil.
"Aa awas ya kalau pegang pegang ketek, Phiu!" ancam Lintang.
"Maaf ya, gak doyan!" balas Fajar sambil mencibir lalu pergi membawa makannya ke kamar.
Tidak menaiki tangga, ia memilih menggunakan lift agar cepat sampai karna lebih baik ia gunakan tenaganya itu untuk menghadapi istrinya.
Ingat dengan apa yang di katakan Mhiu barusan, Fajar pun melipir sebentar ke kamar sang tuan besar.
Dua kali mengetuk pintu, akhirnya benda itu terbuka juga.
"Phiu, bisa tolong--?" ucap Fajar yang pastinya pria baya itu paham.
"Hem, bawa kemari nasinya."
Fajar pun langsung memberikan apa yang di minta Phiu. Dengan perasaan tak habis pikir ia melihat sebungkus nasi yang kini sedang di jepit di ketiak kiri sang tuan besar.
"Biar apa coba kaya gitu?" tanya Fajar tak paham.
.
.
.
Biar jadi kesayangan emak-emak online nanti...