
🍂🍂🍂🍂🍂
Shena yang bangun dari duduk memastikan jika semua akan baik baik saja pada suaminya yang menatap ragu, ia yakin kan Fajar lewat tatapan matanya karna Shena hanya sekedar ke toilet saja.
"Cepat kembali ya, Sayang," pesan Fajar yang di iyakan dengan anggukan kepala.
Langkah demi langkah ia menyusuri sebuah bangunan yang tak begitu luas, seperti niatnya tadi, Shena pun bertanya pada salah satu pelayan yang ada disana.
"Toiletnya ada di belakang, Nona."
"Belakang sana?" tanya Shena sambil menoleh ke sebuah lorong.
"Iya, Nona, toiletnya ada di ujung lorong belok kanan karna arah kiri itu ruang ganti karyawan," jelas si pelayan.
"Baiklah Terima kasih."
Shena yang tak kuat menahan rasa ingin buang air kecilnya pun melanjutkan langkah ke arah lorong yang di tunjuk wanita berseragam tadi. Tak begitu gelap dan tak juga terlalu terang. Tapi karna sangat tergesa gesa, Shena akhirnya tak perduli dengan semua itu.
Seperti yang di ingat barusan, ia belok ke arah kanan yang katanya itu adalah toilet dan saat masuk ternyata hanya ada satu pintu yang sedikit terbuka, alhasil wanita itu pun langsung masuk. Tapi, keanehan terjadi saat pintu tak bisa di kunci, tak hanya sampai disitu saja karna kerannya pun saat di tekan hanya mengeluarkan suara saja tanpa air.
"Kok gini?" gumam Shena yang semakin panik karna sudah merasa sangat ingin buang air kecil.
"Oh ya, katanya sebelah kiri itu ruang ganti karyawan, mungkin ada orang disana," ucapnya sendiri yang lalu keluar lagi melewati satu pintu yang tertulis kata RUSAK.
Shena yang tengok kanan kiri sebenarnya ragu, ia tak punya pilihan lain karna tak yakin kuat menahan rasa ingin buang air kecilnya itu di Resort, belum lagi ia harus kembali ke suaminya sebelum pulang. Membayangkannya saja sepertinya ia justru akan pipis di tengah lorong.
"Permisi---," ulangnya lagi hingga ia melihat ada sosok pria berseragam sedang berdiri di pojok ruangan.
Bukan si pria yang jadi pusat perhatian Shena melainkan apa yang di lakukan oleh orang tersebut yang membuat Shena kaget. Ia yang sadar pun langsung berbalik badan dan ingin pergi tapi sialnya lengan Shen justru di tarik hingga ia jatuh dengan kepala membentur ke loker ruang penyimpanan barang karyawan.
"Jangan! jangan lakukan apa pun," mohon Shena yang merasa takut luar biasa.
"Tanggung, gue gak bisa keluarin sendiri jadi lo yang harus bantuin gue!" sentaknya yang sudah terbakar birahi yang semakin memuncak saat Shena databhy di waktu yang menurutnya tepat.
Shena yang di cengkram rahangnya menutup mata dengan rapat. Bayangan ia di siksa oleh sang mantan suami kembali terlintas jelas hingga membuat tubuhnya kian lemas. Di tambah rasa sakit di kepala bekas benturan tadi yang cukup kuat.
"Buka mata lo, Cantik," pinta pria itu dengan suara serak yang khas sekali sedang bergejolak napsu.
Shena tak menjawab, ia tak mau mendengar apapun karna hanya kenangan buruk yang ia ingat, dimana ia sering di cambuk, di tendang hingga di tampar berkali-kali, semakin menjerit ia kan semakin di siksa, dan kali ini Shena memilih diam meski tubuhnya bergetar hebat menahan rasa takut.
.
.
.
Buka mulut lo, lo harus bikin punya gue keluar!!!