Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
part 103


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Setelah beberapa kali mengetuk pintu ruang kerja sang tuan besar, Fajar masuk dengan langkah pelan, ia selalu segan saat melangkah kan kakinya ke ruang keramat tersebut, tak seperti adiknya yang bolak balik kesana karna memang ia tak bisa jauh dari Phiu.


"Sudah pulang?"


"Iua, Shena kurang enak bada, di kantor tadi dia mual dan muntah. Ini habismakan siang lalu Aa ajak pulang, " jawab Fajar, meski perusahaan tersebut sudah jadi bagiannya namun semua masih di bawah arahan Uncle Rain dan juga pengawasan Phiu Samudera.


"Kenapa di bawa pulang? Kenapa tak kamu bawa ke rumah sakit untuk periksa?" tanya sang tuan besar saaat ia dan cucu keduanya itu sudah duduk berhadapan disofa .


"Shena tak mau, sudah ku tawarkan dokter kantor tapi dia--, dia makah ingin kepala ayam," jawab Fajar yang tak menyangka jika ceritanya itu justru membuat pria baya di depannya tersebut tertawa.


"Lalu, ada kepalanya?"


"Ada, tapi minta yang matanya merem, untungnya saja dia merajuk saat ayam punyaku justru bagian dada dan paha."


Pandangan keduanya bertemu dengan arti yang berbeda, ada segaris senyum yang di rasa Fajar lain dari biasanya, jauh lebih menghangatkan hati namun cukup membuat penasaran.


"Nikmati saja, karna akan ada mau mau yang lainnya juga dari istrimu, jaga perasaannya dan jangan pernah tinggikan nada bicaramu padanya, karna mulai sekarang sampai batas waktu yang tak di tentukan hatinya akan jauh lebih sensitif." pesan Phiu yang berhasil membuat dahi Fajar mengernyit tak paham.


"Kenapa bisa begitu?"


"Nanti juga kamu tahu," jawab Fajar.


Obolan kini merembet kemana mana, tak hanya Shena tapi ada yang lainnya juga termasuk perusahaan dan rencana masa depan rumah tangga Fajar hingga tak tersa sudah satu jam mereka bersama di dalam ruangan tersebut.


"Turuti saja apa mau istrimu selagi ada di dunia," kekeh pria itu yang hanya di jawab dngan anggukan kepala.


Fajar keluar dari ruang kerja tersebut dengan langkah sedikit buru buru menuju lantai atas dimana kamarnya berada dan Shena yang pastinya sudah menunggu.


Ceklek..


Pintu di buka cukup pelan tanpa suara karna takut Shena tertidur setelah membersihkan diri, dan benar saja tebakannya saat kedua matanya justru menangkap bayangan sang istri yang sedang meringkuk di atas ranjang tanpa selimut.


"Sayang, kamu tidur?" tanya pelan Fajar sambil mengusp lengan kanan Shena.


"Hem, engga. Cuma lagi mikir," jawab Shena yang kemidian bangun dari baringnya itu.


"Mikirin apa? Pengen sesuatu,hem?"


Bukan menjawab, wanita cantik berambut panjang lirus sepinggang trsebut maklah berhambur ke dalam pelukan sang suami, tak ada yang di ucapakan olehnya, Fajar pun tak mengulang pertanyaanya melainkan ia biarkan Shena merasa nyaman dan tenang dulu dalam mengusai perasaannya saat ini.


"Ayo cerita, sudah siap belum?"


"Aku datang bulan lagi, padahal kan udah ya," kata Shena dengan nada bicara sedih dan raut wajah bingung.


Begitu pun dengan Fajar, bukan hanya ekspresi tak percaya tapi juga kecewa, jangan sampai ia kembali puasa karna kini sedang ada hasrat yang harus segera di tuntaskan, sebab yang seharusnya ia main jepit himpit di kantor harus di tahan karna adanya penonton di bawah umur.


"Kok gitu?" tanya Fajar yang hanya di balas dengan gelengan kepala oleh Shena.


"Banyak gak? Kaya biasanya, gitu?" selidik Fajar lagi.


"Enggal, cuma sedikit itupun warna hitam, malah kaya yang baru mau dan udahan datang bulan A'," jelas Shena yang selalu nyaman mencerutakan apapun tentang dirinya pada sang suami.


"Mau periksa? Sekalian yang tadi kamu mual dan muntah. Takutnya kamu kecapean karna sering gendong gendong Bubu," ajak Fajar yang ingat dengan ucapan Phiu barusan saat di ruang kerja.


"Iya, yuk."


"Enggak ah, mau tidur aja," tolak Shena sambil kembali meringkuk.


"Ya sudah, kamu istrirahat ya, Aa mau mandi."


"Mandinya jangan lama lama ya, A'," pinta Shena yang tentunya langsung di iyakan oleh suami baik hatinya itu.


Selama Fajar membersihkan diri, Shena mencoba untuk memejamkan kedua matanya tapi hasilnya ia malah resah dan tak jelas maunya apa padahal rasa kantuk tak lagi bisa ia tahan.


"Ayo dong tidur," gumam Shena yang akhirnya kesal sendiri, tubuhnya mulai balik kanan balik kiri mencari posisi terbaik yang menurutnya enak dan nyaman namun tetap saja ia sulit untuk terbuai mimpi meski sudah memejamkan mata.


"Loh, katanya mau tidur?" tanya Fajar yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sebatas pinggang saja.


"Iya tapi gerbang mimpinya masih di tutup, jadi gak bisa kesana," jawab Shena denagn nada jengkel luar biasa.


Mendengar alasan sang istru tentu membuat Fajar yang kini sedang berjalan ke arah ranjang langsung terjkekeh.


"Asal bukan gerbang neraka aja ya, Sayang. Karna tukang jaga gerbangnya lagi sibuk," jawab Fajar yang tak lain orang yang di maksudnya itu adalah RaXel Rahardian Wijaya.


Shena pun langsung merengut dan sedikit melamun karna ingat dengan El, ia lupa kapan terakhir bertemu pemuda menuju dewasa tersebut, tak di sangka nyatanya ia rindu dengan ledekan El dan juga omelannya tapi bukan berarti Shena tak mengakui jika El adalah orang yang baik, tak jarang ia sering di tolong meski seperti yang tak ikhlas tapi Shena tak pernah ambil pusing karna ia tak bisa memaksa untuk orang lain bersikap baik padanya. Termasuk pada El, Lintang juga Angkasa yang sudah sejak awal tak ada kesan manis saat pertama kali bertemu dan berkenalan.


"Sayang, malah ngelamun sih," kata Fajar yang sedikit mengagetkan Shena.


"Aku ngantuk, temenin aku tidur." pinta Shena yang kembali berbaring.


"Iya. Aa pakai baju dulu sebentar ya," jawab Fajar yang di tolak oleh istrinya karna Shena ingin saat itu juga di temani.


"Tapi masa pakai handuk sih," ujarnya yang serba salah.


"Memang kenapa? Kan biasanya juga malah gak pake apa apa," cibir Shena yang membuat Fajar malu sendiri mendengarnya.


Mau tak mau pria itupun menuruti, ia naik keatas ranjang lalu berbaring di samping istrinya yang sudah jauh lebih dulu melakukannya. Shena langsung masuk kedalam dekapannya tapi bukan tidur, ia malah mendongakkan wajahnya.


"Apalagi?" tanya Fajar yang merasakan hal lain dalam dirinya sendiri layaknya pria normal pada umumnya.


"Tangan aku gatel kenapa ya?"


"Kenapa? sini Aa lihat." Fajar langsung meraih tangah istrinya lalu di usap usap bagian telapaknya.


"Masih gatel Aa," rengeknya yang mulai uring-uringan.


Fajar yang kebingungan tak bisa berbuat banyak, ia juga tak tahu harus melalukan apa karna Shena sudah siap mengarungi mimpi.


Tapi, di tengah rasa kesal wanita itu ia malah menarik tangannya. Dan beberapa menit kemudian ia pun berbisik.


.


.


.


Pegang ini nya Aa gatelnya ilang..