
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Lintang Sang penguasa Tuan besar tentu tak terima dengan ajakan Shena pada Phiunya barusan. Kemarin ia sudah kecolongan dengan perginya dua orang itu ke taman jajan dan ia bersumpah untuk hal tersebut tak terulang lagi.
"Berani ajak Phiu, Lilin?"
"Berani dong, Dek," jawab Shena dengan menjulurkan sedikit lidahnya.
"Buuuuuuuun, masa Si panda Ngatain Lilin!"
"Eh, aku udah sopan loh itu,", protes Shena saat adik iparnya itu mengadu.
" Cukup Lintang, ayo sarapan," ajak Mhiu namun di tolak dengan gelengan kepala, dan setelahnya ia berhambur ke dalam pelukan Rinjani.
"ChiMa doang yang sayang Lilin," ucapnya dengan tatapan tajam kearah Phiu yang tersenyum simpul kearah cucu kesayangannya tersebut.
Puas mengerjai adik iparnya yang sangat menyebelkan, Shena memilih kembali ke kamar dengan alasan ia akan membangun kan Fajar lebih dulu.
Ceklek..
"Aa, belum bangun juga. Dibawah udah rame," kata Shena yang duduk di tepi ranjang sembari mengusap pipi suaminya itu.
"Dibawah enak, Sayang." gumamnya sambil tersenyum.
"Engap A'," jawab Shena dengan polosnya, ia tak tahu jika pria itu sedang mengigau karna momennya memang benar benar sangat pas.
Eeeeugh..
Fajar melEngUh pelan namun mampu membuat Shena menautkan kedua alisnya, hatinya bertanya apa yang sedang di impikan suaminya saat ini.
"Aa, kenapa sih?" Tanpa pantang menyerah, ia tetap membangunkan Fajar mulai dari mengusap tapi lama lama mencubit.
"Aaaaah, sakit!" Fajar yang kaget langsung meringis, kedua matanya yang merah membuat Shena turun dari ranjang.
Ada hal yang ia ingat, tapi masih berusaha untuk tenang dan mengusir perasaan takut itu.
"Aduh, sakit, Sayang." Fajar yang sedari tadi sibuk mengusap lengannya lalu menoleh. "Shena, kamu kenapa?" tanya Fajar sambil mengulurkan tangan.
"Gak apa-apa, sakit ya?"
"Kenapa? Aa yang di cubit kok kamu yang takut?"
"Iya, takut di omelin," jawabnya sembari memasang wajah sedih namun Fajar justru tertawa.
Pikirnya, mana mungkin ia memarahi Shena yang kini sudah melengkapi hidupnya menjadi sangat sempurna itu. Apapun yang di lakukan Shena selagi tak mendua tentu akan di maafkan oleh Fajar
"Mamang Shena buat salah?" tanya Fajar yang terus menciumi pucuk kepala wanita yang baru di nikahinya kemarin itu.
"Iya, bangunin Aa," jawabnya jujur.
"Bangunin yang lainnya juga nih," sahut Fajar yang kemudian menyibakkan selimutnya.
Shena yang yang melihat milik suaminya tegak menjelang langsung membuang pandangannya tapi Fajar justru ingin Shena berani.
"Ini punya Aa, dia sopan karna buang di tempatnya," bisik Fajar yang sebenarnya ingin tertawa.
Shena mengangguk dan mulai memberanikan diri untuk melihat dengan jelas, ia juga pasrah saat Fajar menuntun tangannya untuk memegang juga.
"Beda kan?" tanya Fajar, ia yang sudah melihat milik Si batagor yang gundal gandul saat itu tentu bangga saat membandingkan dengan miliknya sendiri.
"Ayo pegang," titahnya lagi, karna semalam Fajar belum berani dan rasanya tak sempat untuk kenalan lebih lama karna ia ingin langsung ke menu utama.
"Pegang aja?" tanya Shena.
"Ikutin kata hatimu sendiri, Sayang," bisik Fajar yang mulai merasakan hangat dari tangan Shena.
"Kok diem?" tanya pria yang tentunya sudah sangat terangsang itu.
.
.
.
Kan hatiku gak ngomong apa-apa...