
🍂🍂🍂🍂🍂
Hari paling sakral itu pun tiba, hari dimana tak ada lagi yang seharusnya di sembunyikan sebab setelah ada lebel Halal semua akan jadi satu, termasuk tubuh yang akan menyatu juga dalam keadaan polos tanpa benang sehelai pun.
Tak ada lagi Privasi dan Rahasia meski tak semua pasangan menerapkan hal ini di dalam mahligai rumah tangga mereka. Tergantung pola pikir masing-masing tapi pastinya semua punya visi dan misi yang sama dalam tujuan pernikahan.
Begitu pula yang di rasakan Fajar, tak hanya cinta yang ia berikan untuk Shena, tapi waktu, kejujuran dan pastinya kesetian. Semua itu akan ia limpahkan termasuk Harta, tak ada jaminan jika istrinya itu nanti tak seperti Bubun dan dua iparnya yang lain.
"Sudah siap A'?" tanya Ayah saat masuk kedalam kamar Si tengah.
Acara ijab Qabul memang akan di adakan di rumah utama dengan di hadiri keluarga, kerabat dan sahabat terdekat. Barulah Resepsi akan di laksanakan pada akhir pekan di Ballroom hotel milik keluarga.
Meski Terima beres, bukan berarti Shena tak turut andil dalam pernikahannya. Ia yang sebenarnya tak tahu apa apa hanya ingin menjadi Ratu bak di dalam negeri dongeng dan itu tak sulit untuk untuk di wujudkan.
Semua yang ada dalam khayalan Shena ia tuangkan dengan bebas, mulai dari gaun, dekor hingga kue pernikahannya. Semua itu atas ingin Shena yang akan di usahakan oleh pihak W.O nantinya.
"Sudah, Yah. Aa deg degan," jawab Fajar yang serasa untuk berdiri saja ia tak lagi mampu.
"Biasa itu sih, kuatlah masa kalah sama Lilin," kekeh Ayah. Di banding Angkasa dan Fajar memang Si bungsu yang paling di khawatirkan sat menikah karna memang ia memiliki riwayat penyakit jantung, tapi karna rasa tak tahannya ingin segera menghalalkan Sang pujaan hati ia kuat sampai kata SAH tiba.
"Hem, iya ya. Tapi ini jantung serasa mau copot, Yah. Tanganku aja dingin dan gemeteran loh," adu Si tengah karna perasaan ini pertama kalinya ia rasa.
"Tenang, semua aman kok. Banyak banyak berdoa ya," pesan Ayah sambil menepuk pelan bahu putranya.
Jika Fajar merasa tak karuan lain halnya dengan Ayah yang justru sangat lega hari ini, ketiga putra nya kini sudah menikah dengan wanita pilihan mereka masing-masing, dan pastinya akan selalu hidup bahagia dengan limpahan cinta dalam pernikahan mereka. Tak ada lagi yang harus di khawatirkan, Ayah dan Bubun akan ikut senang juga di waktu tua nanti, menikmati tingkah laku cucu mereka yang banyak dengan berbagai drama yang di lakukan.
"Ayo, semua sudah menunggumu. Pak penghulu juga sebentar lagi datang," ajak Ayah.
Fajar mengangguk, sebelum bangun dari duduknya ia menarik napasnya dalam dalam lalu di hempaskan secara perlahan, itu ia ulang berkali-kali sampai detak jantungnya berangsur normal dan tubuhnya bertenaga untuk berdiri.
Ia keluar dari kamar bersama Ayah menuju lantai bawah, namun tatapan matanya tertuju pada satu kamar sebelum kakinya menuruni anak tangga. Apa lagi jika bukan kamar Shena yang di dalamnya pasti ada gadis itu yang sudah berdandan cantik. Fajar sengaja tak tahu apa apa karna ingin menjadi kejutan tersendiri untuk dirinya saat pertama melihat Shena di meja Akad setelah resmi menjadi istrinya.
.
.
.
#Kamar...
"Cantiknya, Shena." pujian terus terlontar dari semua yang ada di ruangan tersebut tak terkecuali Enin yang terus menyeka air matanya. Setelah Bubun, Bintang dan Rinjani rasanya semua sudah lengkap saat melihat Shena dengan Gaun pengantin nya.
Nanti, bukan lagi Bubun serta Enin yang di cari oleh Fajar melainkan istrinya, wanita itu juga akan menjadi satu-satunya penghuni hati Si tengah tapi Sang pemegang tahta tentu tetap Bubun seorang yang punya restu, Ridha dan juga surga atas putranya tersebut.
"Setelah Sah nanti, kamu akan terlahir menjadi istri, berbaktilah pada suamimu ya, Nak." pesan Enin saat Shena berhambur ke dalam pelukan wanita baya itu.
"I--iya, Enin," jawab Shena yang masih berusaha untuk tidak berurai mata namun rasanya sangat sulit.
Tak hanya Si pengantin yang terharu karna semua sudah meneteskan air matanya masing-masing.
Dan ketukan pintu mengalihkan fokus mereka dari Enin yang sedang memberi banyak wejangan dan nasihat.
"Nyonya, Nona, acara akad akan segera di mulai," ucap salah satu pelayan memberi kabar jika detik-detik janji sakral sehidup semati dalam segala keadaan akan terlaksana.
"Iya, kami akan segera turun," jawab Bubun yang kini mulai bersiap lagi dengan yang lainnya juga.
Satu persatu semua keluar dari kamar, agar cepat tentunya para Nyonya dan Nona itu turun menggunakan lift. Kini, hanya tersisa Shena dan Chia serta beberapa yang lainnya di dalam kamar. Si pengantin akan keluar setelah Sah menjadi istri dari seorang Fajar Rahardian Lee Wijaya.
Semua duduk secara berdampingan dengan pasangan masing-masing, ada Phiu, Mhiu, Ayah, Bubun, Abah dan Enin di kursi paling depan tepat di belakang Fajar yang entah seperti apa dalam dadanya saat ini. Ia seperti melayang dengan perut mules tak karuan, ingin buang angin tapi tak ada yang keluar ditahan pun hanya membuat duduknya menjadi tak nyaman.
"Bagaimana? sudah siap?" tanya Pak Penghulu.
"Siap, Pak!" jawab Fajar yang kali berusah tegas padahal telapak tangannya sudah sangat banjir oleh keringat.
"Bisa di mulai sekarang? Ini ayahnya langsung yang akan menikahkan, betul begitu?" tanya Pak penghulu memastikan.
"Betul sekali, Pak. Saya yang akan menikahkan putri saya untuk yang terakhir kalinya," jawab Pak Edi, tak perduli dengan tato yang terukir jelas di bagian lehernya jika sedang terharu ia akan menangis tersedu sedu, dan itu jadi perhatian khusus bagi semua yang menyaksikan.
Selagi masih ada iman, segalak apapun Ayah ia tetap seorang Ayah. Dulu, saat biah cintanya lahir ia adalah sosok yang di cari untuk mengadzani dan setelah dewasa ia juga yang menjadi wali.
Meski bukan yang pertama, tapi Pak Edi begitu sangat gugup saat mengucap Ijab Qabul yang ia baca di secarik kertas, karna ini adalah pernikahan yang sangat di rencanakan dengan aura khidmat yang terasa.
"Bismillahirrahmanirrahim, Saya Terima nikah dan kawinnya Senandung Binti Edi dengan mas kawin tersebut di bayar, Tunai."
"Bagaimana, saksi? apa Sah?"
Sah... sah.. sah..
"Alhamdulillah...."
Disaat yang sama juga Shena keluar dari kamar meski begitu ia melihat semua detik-detik proses ijab kabul yang terjadi antara bapak dan Fajar yang kini resmi menjadi suaminya.
Dalam hati, pria yang kini sudah berganti Status itu bersorak senang sambil tak henti hentinya bersyukur saat ia melihat Shena berjalan kearahnya dengan baju kebaya modern berwarna putih yang begitu elegan di tubuhnya yang bersih dan mulus
( Tapi entah tar malem, berubah jadi MACAN loreng loreng sigana.. wkwk... )
Senandung yang resmi menjadi istri Fajar pun duduk di samping pria itu, ia raih punggung tangan suaminya untuk di cium secara takzim sambil di do'akan juga ubun ubun nya oleh Fajar dengan tangan kiri yang ia letakkan di atas kepala Shena.
Lantunan doa demi doa tentu di Aamiinkan dengan khusyuk dalam hati semua orang yang turut hadir menjadi saksi pernikahan SenandungFajar
Hal yang paling haru dalam deretan acara tentu saat meminta doa restu, belum apa-apa semua sudah menangis karna keturunan Buaya dan Kadal kini sudah tuntas.
"Ayah, Terima kasih banyak," ucap Fajar yang tak tahu harus bicara apa lagi pada pria paruh baya tersebut.
"Asal kamu bahagia, Nak. Tunjukan pada Ayah jika kamu suami yang bertanggung jawab ya."
"Iya, Ayah."
Sungkeman pun terus berlanjut, dan Kini beralih pada Bubun, wanita baik dan tak sombong meski sangat kaya raya itu memeluk putranya dengan sangat erat.
"Ingat semua pesan Bubun ya, jangan di gigit terus istrimu, kasihan." goda Bubun yang langsung membuat Fajar malu malu.
"Iya, Bun. Tapi gak janji ya karena menantu Bubun itu sering mancing-mancing Aa terus sama kelakuannya yang gemesin," jawab fajar.
"Hem, tapi mulai melam ini mancing yang lain, baju dinasnya udah kaya pelangi dalam lemarimu," bisik Bubun yang tak disangka oleh Fajar sama sekali.
Tak ingin tubuhnya kian lemas karna terus di goda Fajar beralih pada Phiu, Mhiu, Abah serta Enin. Sama seperti pesan dan nasihat pada umumnya orang tua berikan meski tetap di selingi dengan candaan mesum khusus pengantin baru.
Pelukan erat dan hangat diberikan Angkasa sebagai kakak tertua, meski sifatnya Random tak jelas ia adalah sosok penyayang bagi semua Adik-adiknya. Entah itu kandung maupun sepupu.
"Gak apa-apa ya A' emang pohonnya sama jalannya yang nakal sampe tabrak Aa, tapi sekarang udan Halal dong, meski tuh jidat harus cium cium manjah setir mobil," ucap Abang Asha yang tak jauh dari Buaya cengeng yang pasti akan menyalahkan barang sekitar.
"Iya, baru juga tuh pohon mau sungkem!" balas taj jelas Fajar.
"Huaaaaaaaaaa, Aa Lilin laku juga, Maap ya A' ulet dudut Lilin yang nyemplung duluan, padahal Lilin lahir belakangan," sambung Lintang yang menangis haru namun itu justru terkesan sangat lucu.
"GAK SOPAN!" cetus Fajar namun ia memeluk erat adik kesayangannya itu, perihal jodoh memang siapa yang tahu, mau awal atau akhir ia percaya jika ia punya tulang rusuk juga.
"El-- itutaaaaaaaaa, mau pelukan Aa weh." seru Si anak kecil yang tak mau kalah, ia tak bisa jika tak mengacaukan apapun yang di lakukan oleh Lintang.
"Aa udah bisa belum?" tanya El dengan kedua alis naik turun.
"Bisa? bisa apa?" tanya balik Fajar pada bocah yang masih berstatus mahasiswa tersebut.
.
.
.
Doyang doyang utel utel aju undul lili nanan Clulut Clulut.....
Ganteng banget si El... tapi kamu tak se polos wajahmu 🤣🤣🤣