
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Laper... bisa tolong jepit nasinya dulu sampai pipih di ketek Hiu??"
Sang Tuan besar Rahardian Wijaya yang berdiri di depan pintu pun hanya bisa mengernyitkan dahi, ia harap apa di dengarnya itu salah tapi nyatanya Shena benar-benar memberikan nasi yang di bungkus plastik padanya.
"Maksudmu apa?" tanya Phiu yang tak terlalu paham.
"Ini, jepit di ketek Hiu sampai pipih," jawab Shena sesuai inginnya.
Phiu Samudera pun mengambil apa yang di berikan oleh cucu mantunya tersebut, tatapannya yang penuh tanya karna takut salah mengartikan membuat Shena kesal.
"Gini nih." Shena mengangkat tangan kanan Phiu nya lalu meletak kan si nasi yang sudah di bungkus plastik ke ketiak lalu di jepit sampai pipih seperti yang ua bayangkan.
"Yeeeeee," serunya sambil bertepuk tangan senang. Mhiu yang menghampiri pun di buat penasaran dengan apa yang di lakukan dua orang itu di depan pintu.
"Ada apa? Shena ingin apa?" tanya Mhiu Biru pada suaminya yang di jawab dengan gelengan kepala.
"Makasih, Hiu. Dadah--," ucapnya sambil bergegas pergi dan tak lupa melambaikan tangan juga.
Shena kembali turun ke lantai bawah tepatnya ke ruang makan, disana masih ada suami, mertua dan adik iparnya seperti saat ia tinggalkan beberapa saat tadi.
"Dari mana?" tanya Fajar dan Bubun berbarengan.
Shena hanya tersenyum simpul, piring kosongnya ia isi lagi dengan nasi putih biasa yang kini sudah berbentuk pipih.
Tak hanya nasi, ia juga menambahkan lauk dan sayurnya untuk jadi pelengkap rasa..
"Aa udahan makannya?" tanya Shena saat melihat suaminya itu sudah meletakkan sendok dan garpu di atas piring kosong.
"Udah, kan dari tadi makannya. Emangnya kamu dari mana!?" tanya ulang Fajar lebih lembut dari yang barusan.
"Dari Phiu," jawab Shena.
Fajar tersenyum lebar saat melihat istrinya makan dengan sangat lahap, tentu yang di pikirkan pria itu Shena sedang benar-benar kelaparan hingga terselip rasa bersalah juga.
"Mau nambah?" tawar Fajar yang di tolak oleh Shena dengan gelengan kepala.
Selesai makan, mereka bergegas ke rumah belakang dimana Bubu berada. Dengan di bantu Pak Iwan, Shena mulai memasang kalung yang berwarna merah.
"A', cantik gak?" tanya Shena dengan ekspresi bahagianya.
"Iya, cantik. Bubu sama Shena cantik semua," sahut Fajar padahal dalam hati ia begitu ngeri apalagi saat hewan berbulu itu mengaum.
"Tapi Bubu tuh laki laki, mana ada dia cantik kaya aku?"
"Hem, kalau gitu kalungnya yang cantik ya," sahut Fajar yang lagi lagi salah, padahal Shena sendiri yang tadi bertanya padanya.
Tapi, bukan wanita jika tak begitu. Ia yang mau menang sendiri memang mengharuskan kaum laki-laki lebih banyak stok sabar dan peka seperti yang Fajar lakukan sekarang.
"Memang buat apa sih di kalungin? kan Bubu gak kemana mana," tanya Fajar yang tak tahu rencana ekstrem istrinya karna yang ia tahu, Bubu hanya main saat bersama Shena dan Pak Iwan saja.
"Buat besok," jawab Shena.
"Besok? apa yang besok?"
.
.
.
Iya.. besok Bubu ikut Aa ke kantor ya...