Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 136


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Seperti yang sudah di rencana kan oleh Fajar. Akhir pekan ia dan Shena menghabiskan waktu berdua saja. Mereka pergi ke pulau pribadi milik keluarga Rahardian tanpa anak anak.


Si kembar di titipkan ke rumah utama karena disana jauh lebih banyak orang yang menjaga dan merawat ZaRa dan XaRa yang sedang aktif aktifnya bermain.


Keduanya yang sudah bisa merangkak kemana saja tentu akan kualahan jika hanya Enin atau Bubun saja yang mengurus.


"Pulang nanti bawa adek buat si kembar ya," bisik Bubun pada putranya.


Wanita itu benar benar tak ada lelahnya dalam mengurus pasukan buaya kadal yang memang sangat menggemaskan, waktu seolah cepat berlalu jika sudah bermain bersama mereka, meski setelah itu Bubun dan Ayah harus saling memijit secara bergantian.


"Nanti aja, Ayah pengen napas dulu," tolak si pria paruh baya yang menatap lekat kearah istrinya.


Semua yang mendengar hal itu malah tertawa apalagi saat Bubun memeluk sambil mengusap pipi suaminya yang memasang wajah menyedihkan. Bagaimana tidak, ia sering di jadikan Kuda, penjahat, polisi bahkan model make-up oleh para buah hati jagoan mereka yang bukan satu. Tarik sana tarik sini sudah biasa bahkan jika bisa si Ayah ingin di potong sama rata agar adil untuk semua cucunya.


"Aman, Yah. Tenang aja. Kasian mak othor juga tuh," jawab Fajar sambil terkekeh


Semua orang melepas kepergian pasangan itu penuh dengan doa hingga selamat sampai pulang kembali nantinya.


"Kenapa gak ajak ZaRa sama XaRa sih? kan kasian di tinggal," tanya Shena yang masih berat meninggalkan kedua putrinya tersebut.


"Waktuku khusus untuk kamu, Sayang. Kita berdua dulu ya," jawab Fajar yang di iyakan oleh Shena.


Hampir dua tahun bersama dengan segala rasa yang luar biasa tentu tak mudah di lewati jika tak banyak stok sabar, masih ada saja yang di takutkan oleh Fajar jika suatu saat nanti rasa trauma itu muncul pada Shena, makanya ia tak pernah melepas wanita itu seorang diri, harus ada yang di samping Shena sekali pun di dalam rumah.


"Kalau gitu ajak Bubu tadi," ucapnya lagi yang langsung mendapatkan ciuman dari sang suami.


"Bubu udah gede, Sayang. Jangan terlalu deket ya, bahaya," pesan Fajar.


Hewan berbulu itu sudah di pulang kan ke tempatnya beberapa bulan lalu. Fajar dan Phiu hanya menuruti permintaan Shena yang katanya sampai ia melahirkan, dan setelah Bubu melihat kedua adiknya itu, ia langsung di pulangkan meski sesekali masih di jenguk oleh Shena. Bagaimana pun sulit rasanya melepas Bubu begitu saja walau rasa itu sudah ia persiapkan jauh jauh hari saat negoisasi terjadi.


Lagi dan lagi Fajar adalah orang yang paling mengerti hatinya, jadi tak salah jika Shena tetap akan merasa jadi anak hilang saat tak bersama suaminya. Ia akan kebingungan sendiri sebab tak punya pegangan.


"Nunggu Bubu nanti punya anak, terus anaknya nanti buat aku ya, A'," goda Shena, andai saja ia tahu jika Fajar sering di buat cemburu karna ke dekatan mereka itu.


"Mending aku yang bikin anak," sahut Fajar dengan kesalnya, namun malah membuat Shena tertawa.


Mereka akan kembali merasakan bulan madu layaknya pengantin baru tanpa ada yang berani mengganggu.


.


.


.


"Aku tuh mual, A'," keluh Shena yang semakin menenggelamkan wajahnya ke dada sang suami yang terus mengelus dan juga menciumi pucuk kepala istrinya.


"Sebentar lagi sampai, nanti bisa langsung tidur ya," jawab Fajar menenangkan.


"Tidur ya, bukan di tidurin," kata Shena, Fajar yang mendengar itu pun langsung tertawa gemas.


Dan puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai di pulau pribadi dan lekas melanjutkan perjalanan ke Resort dengan mobil yang sudah menunggu.


Hawa dingin terasa begitu menusuk padahal Shena sudah memakai jaket yang cukup tebal saat ini.


Sedangkan Fajar yang peka akan hal tersebut terus menggenggam kedua tangan Shena sambil di ciumi berkali-kali.


"Masih dingin?" tanya Fajar.


"Enggak, cuma sedikit."


Shena menatap lekat wajah suaminya tanpa bosan, seolah semuanya ingin ia habiskan saat ini juga, padahal jika Tuhan berbaik hati, harusnya masih ada esok hari.


Mobil menepi saat Shena hampir saja terlelap dan itu membuat kepalanya sedikit pusing karna di bangunkan oleh sang suami.


"Lanjut kan nanti di kamar ya," ucap Fajar yang tak tega.


Dan benar saja, saat sampai di ranjang wanita itu langsung pulas tak ingat apa apa lagi.


"Yang mau liburan malah tidur, kasihan banget sih," bisik Fajar sambil mencium pipi Shena, ia singkirkan beberapa anak rambut di wajah wanita halalnya itu untuk memperjelas melihatnya.


.


.


.


Saat tubuhmu berisi seperti sekarang, justru itu ujian berat untukku, dimana aku harus tetap mencintaimu di versi baru sebagai seorang ibu hebat...