Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 76


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Tok... tok.. tok...


Fajar yang penasaran pun akhirnya mengetuk pintu Sang Tuan besar Rahardian, ia yakin tak mungkin pria baya itu tak tahu sama sekali karna Si anak Macan tak mungkin sampai depan pintu rumah utama tanpa ada izinnya.


Tiga kali mengetuk pintu, akhirnya benda bercat putih itu terbuka, ada seorang wanita baya yang masih terlihat cantik tengah berdiri sambil tersenyum.


"Maaf Mhiu, Aa bisa ketemu Phiu?"


"Masuklah, Phiumu juga sedang menunggu kamu datang," jawab Nyonya besar Rahardian sambil mempersilahkan cucu keduanya tersebut untuk menemui Sang suami yang sedang duduk bersandar di punggung ranjang.


"Terimakasih, Mhiu." Fajar masuk ke dalam kamar tempat semedi Lintang dan El bersama Phiu , ia hampiri pria itu yang sudah merentangkan kedua tangannya.


"Aa yakin, Phiu tahu maksud kedatanganku untuk apa kemari iya, kan?"


"Hem, masalah anak Macan kan?" tanya balik pria baya tersebut. Mumpung tak ada Si kuncen Neraka dan Si anak kecil jadilah Fajar bermanja sejenak dalam pelukan Sang penguasa.


"Iya, kenapa di beliin? kan itu bahaya, sekarang aja lagi di kamar di ajak main, aku jujur sih takut," kata Fajar yang merasa ngeri sendiri.


"Dan kamu meninggalkan Shena berdua dengan Si anak Macan?" tanya Phiu yang di jawab anggukan kepala oleh Fajar saking ia penasaran siapa yang memberi istrinya itu hewan buas.


"Phiu gak beliin, cuma pinjem. Itu hewan di lindungi meski kita mampu untuk pelihara tapi rasanya jauh lebih baik jika di urus oleh yang bersangkutan," jelas Phiu sambil tertawa saat ia ingat bagaimana ia mendengar keluh kesah cucu mantunya di depan jejeran makam para Tuan dan Nyonya besar dan itu di ceritakan nya lagi pada Fajar.


"Bisa banget ngadu nya langsung ke Oppa, Appa dan PapAy," sahut Fajar yang lagi dan lagi tak habis pikir dengan tingkah istrinya.


"Biarkan saja istrimu main main dulu sama anak Macan, membahagiakan dia itu cukup dengan hal sederhana, A'."


"Kan ada yang urus juga, tugas istrimu hanya main itupun tetap di awasi."


"Shena bukan main, tapi mau balas dendam pada Lintang dan El, Phiu. Bisa kumat jantung si Lilin nanti kalau benar di kejar anak Macan," sahut Fajar yang tak mau membayangkan hal sejauh itu.


Bisa-bisa, ia dan Shena akan di gantung hidup hidup di pohon nangka oleh Ayah dan Bubun jika anak kesayangan mereka sampai kenapa kenapa.


"Tenang saja, semua aman karna Lintang tak akan mati hanya karna di kejar Macan, yang ada Mak Othor yang dikejar emak-emak."


Keduanya pun tergelak bersama beserta Mhiu yang hanya tersenyum simpul. Ia ingat pada Appa yang dulu juga selalu menuruti apa maunya termasuk mengikhlaskan ikan Aroha kesayangannya untuk di goreng, padahal saat itu harganya Sangat sangat Fantastis bagi dirinya yang memang dari kalangan biasa.


Selesai berbincang bersama Phiu di dalam kamar, Fajar pun pamit untuk keluar, lama-lama ia juga khawatir dengan Shena yang takut terjadi apa-apa, ternyata ia cukup keras kepala dalam hal yang ia sukai dan ia ingini.


Setelah keluar, Fajar terus berjalan kearah kamarnya namun ia melihat Shena di ujung tangga bersama anak macannya tersebut, tentu itu membuat Fajar bergegas mendekat hingga berdiri di belakang Sang istri yang tak menyadari keberadaan nya saat ini.


.


.


.


Bubu, kalau Lilin udah naik pokonya harus cepet di kejar ya ...