
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Setelah mengantar Niha sampai Lobby perusahan Rahardian Group, Fajar kembali melajukan mobil mewahnya itu menuju rumah utama. Rasanya sudah tak sabar ingin mendengar semua cerita atau justru rajukan dari Shena yang hampir seharian ini di dalam kamar. Fajar sudah membayangkan betapa lucunya ekspresi gadis itu nanti saat mereka duduk bersama saling berhadapan.
"Aku mencintaimu, Shena," ucap Fajar dengan senyum lebar, bahkan ia menggigit bibir bawahnya sendiri saat ingat tatapan polos mata Si Janda.
Namun, meski otaknya selalu memikirkan Shena, ia harus tetap fokus juga dengan jalan di depannya saat ini, ia ingin selamat sampai di rumah karna ada Shena yang sedang bekerja untuknya.
Dan, perjalanan kurang lebih empat puluh menit itu kini berakhir di garasi rumah utama, Fajar sedikit aneh karna ada mobil Abang Asha dan El sedangkan beberapa milik Lintang pun masih berjejer rapih disana.
"Jangan-jangan--," bathin Fajar yang seolah ini adalah jawaban dari rasa tak enak hatinya itu.
Fajar langsung masuk lewat pintu samping, beruntungnya ada pelayan yang bisa ia tanyai tentang keberadaan Shena.
"Nona muda sedang bersama Tuan besar di Gazebo halaman samping, Tuan."
"Mereka disana? sedang apa?" tanya Fajar bingung.
"Sedang---," jawab Si pelayan ikut bingung juga menjelaskan.
"Phiu dan Shena disana mengawasi saudaramu yang sedang di hukum," potong Mhiu dengan membawa sebuah nampan kecil di tangannya berisi vitamin dan segelas air putih.
"Siapa yang di hukum?"
"Abang Asha, Lilin dan El," jawab Nyonya besar Rahardian.
Jika saja tak bersama Mhiu, ingin rasanya Fajar lari langsung kearah halaman samping, tapi itu tak sopan menurutnya.
Keduanya berjalan pelan ke salah satu tempat favorit keluarga karna tak hanya ada Gazebo tapi juga ada kolam renang yang sebenarnya jarang sekali di pakai jika bukan anak anak yang bermain disana.
"Mhiuuuuuuuuuuuu---," panggil riuh Abang, Lintang dan El bagai suporter sepak bola tapi ini tentu hanya untuk meminta tolong pada sosok bidadari tak bersayap itu.
"Ssssst, ayo kerjakan," balas wanita baya itu yang membuat ketiga cucunya lemas lagi.
Sedangkan Fajar tak perduli, ia tetap melanjutkan langkah menuju Gazebo dimana Phiu dan Shena memang disana.
"Sudah pulang?"
"Iya, semua sudah selesai. Ada beberapa yang nanti di Handle oleh Niha," jawab Fajar.
Mendengar itu, Shena malah bertepuk tangan kecil dan tentu sikapnya itu menjadi pusat perhatian.
"Kenapa?"
"Aa udah pulang, aku kerjanya juga selesai deh," kaya Shena senang. Ia tentu akan minta upahnya setelah ini.
Phiu tertawa, Shena memang lucu di matanya padahal baru sehari gadis itu di rumah utama, tapi sudah membuat huru hara yang tak biasa.
Fajar mengangguk kan kepala, andai tak ada Phiu dan juga Mhiu yang baru datang sudah bisa di. pastikan jika Si JanCiL sudah masuk kedalam pelukannya.
"Mereka kenapa? kok pada nyapu?" tanya Fajar yang penasaran.
"Biar Shena yang bercerita, Phiu juga tak tahu pasti," jawab Sang Tuan besar Rahardian. Ia menegak sebutir vitamin dan air putih yang dibawa istrinya barusan.
"Ada apa?" pertanyaan pun di alihkan pada Shena.
"Hem, gak apa-apa, tadi tuuhh--"
"Lilin Capeeeeeeeek. Toloooooooong Lilin mau pingsan niiiiiiiiiih!" teriak Si bungsu.
"El itut tan yaaaaaaaaaa," sambung Si Demoy.
"Jangan, Abang dulu ya,"
Gubraaaaaak....
.
.
.
"Sini, biar ku sisiri rambutmu," ujar Fajar saat Shena berjalan kearahnya.
Gadis cantik alami itu langsung duduk membelakangi Fajar, ia biarkan surai panjangnya itu di rapihkan oleh pria yang selalu ada untuknya itu.
"Mereka kejar aku tadi A'," adu Shena memulai ceritanya.
"Memang kenapa? mereka buat ulah padamu?" tanya Fajar.
"Lilin panggil aku Dung-Dung, terus di tambahi Pret sama satu lagi, siapa tadi?" tanya balik Shena karna lupa.
"El--, dia adik sepupu kami dan sudah biasa kesini," jawab Pria yang masih sibuk menyisiri rambut panjang sepinggang gadis di depannya.
"Nah iya itu dia, katanya kesini mau liat aku."
"Kamu di sakiti mereka?"
Shena menggelengkan kepala, entah tahu apa tidak justru sebaliknya lah yang di lakukan Shena pada para saudara Fajar. Shena memukuli tiga pria itu tanpa ampun sama sekali dengan segala tenaga yang ia punya.
Meski sebenarnya, Fajar pun sudah bisa menebak jika para lelaki keturunan Singa mana mungkin mengangkat tangan untuk perempuan tanpa terkecuali.
"Jangan takut ya, mereka memang begitu, tadi Rinjani dan Bintang memang tak ada dirumah?"
"Kata Mhiu gak ada, Kak Jani lagi di Apartemen adiknya, sedangkan Kak Bee ada urusan lain, " jelas Shena, pantas saja para pria itu seenaknya ternyata para pawang sedang tak ada.
"Tapi, aku mau pulang. Aku rindu Enin. Disini aku gak ngapa-ngapain, A', bosan," ucap Shena yang lebih memilih bersama Enin dan Abah karna disana banyak yang ia lakukan, rumah pun tak terlalu besar jadi kepalanya tak terlalu pusing saking takutnya tersesat.
"Mau pulang kapan?" tanya Fajar.
"Hem, sekarang, boleh?"
"Iya, habis makan malam kita pulang ya, Enin juga pasti rindu kamu," jawab Fajar yang sangat mengejutkan ia memeluk Shena dari belakang.
"A'--, kenapa?" tanya Shena saat ia merasa pelukan pria di belakangnya itu sangat erat.
"Tak apa, tetaplah begini, aku hanya ingin memelukmu, Shena."
Shena kembali mengangguk, ia biarkan saja saat tangan Fajar berada di perut ratanya sedangkan dagu pria itu ada pundak bagian kanan.
Tak ada obrolan apapun, mereka hanya diam seribu bahasa menikmati setiap detik yang sedang keduanya lewati.
"Shena, maukah kamu menikah denganku?"
Permintaan itu terlontar begitu saja tanpa rencana, karna rasanya sia-sia jika harus seromantis mungkin sebab saat bicara dengan gadis itu semua harus jelas sampai di tujuan.
"Menikah?" tanya balik Shena.
Ini tak pernah ada dalam obrolan mereka meski kata sayang dan cinta sudah di dengar secara langsung tapi untuk menikah rasanya baru kali ini di ucapkan oleh Fajar langsung pada Shena.
"Iya, jadilah istriku, Shena. Kita menikah dan hidup jauh lebih bahagia," jawab Fajar dengan senyum di ujung bibirnya. Otaknya kini sedang membayangkan bagaimana hidupnya serasa indah saat bersama dengan wanita yang ia cintai seutuhnya.
"Istri? menikah? TIDAK! Aku tak mau!" tolak Shena yang langsung bangun dari duduk, sikap mendadaknya itu tentu membuat Fajar kaget luar biasa.
"Shena, kamu kenapa?" tanya Fajar ikut panik sebab Shena seperti orang linglung dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca sedih.
.
.
.
"Aku tak mau menikah, aku takut jadi istri "