Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
part 101


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Fajar yang baru ingat jika ada Bubu di ruangannya pun hanya bisa membuang napas kasar,saking tak ada suaranya ia sampai lupa jika ada orang ketiga diantara mereka berdua di dalam ruangan.


"Jadi?" tanya Fajar masih berharap Shena mau melayaninya.


"Masukin lagi, nanti di gigit sama Bubu," tolaknya yang kembali bangun dari baringnya.


Shena yang masih mengatur napas mulai sedikit jauh lebih baik meski perutnya masih terasa tak enak, tapi setidknya rasa mual itu tak ia rasakan lagi,


"Habis makan, kita pulang aja ya," ajak Fajar yang tak di jawab oleh istrinya.


"Kenapa? Memang kerjaAN Aa sudah selesai," tanya Shena.


Fajar hanya tersenyum, jika sudah begini, rasanya tak fokus juga untuk bekerja meski Shena ada di depan mata.


"Aku gak apa apa, Aa kalau mau makan, makan aja, aku temenin ya," ucap Shena.


Wajah wanita itu langsung pucat dengantangan cuku[ [anas saat Fajar pegang, jadi tak menunggu makan siang justru mereka langsung pulang ke rumah utama.


Lagi lagi,mereka menjadi pusat saat keluar dari ruang PresDir, semua mata tertuju pada sepasang suami istri tersebut meski si anak Macan kini di bawa oleh pawang yang sesungguhnya.


"Tapi aku laper A'," kata Shena saat sudah masuk mobil yang kini sudah siap di jalankan.


"Mau makan apa?" tanya Fajar karna makan yang tadi tak di sentuh sama kali hanya karna perkara Mie.


"Apa ya, gak tau juga. Tapi, akau udah lama gak makan ayam tepung, mau itu aja boleh?" tanya Shena.


"Tentu, Sayang. Kita mampir di resto siap saji kalau begitu, tapi ada syaratnya," pinta Fajar.


"Apa?" dengan kedaua alis yang saling bertauatan, ia pun kembali bertanya karna baru kali ini suaminya meminta sebuah syarat padahal ia hanya minta ayam tepung saja.


"Cukup kita yang turun dan masuk, Bubu biarkan disini," jawab Fajar yang dari sort matanya tak ingin ada bantahan, meski sedikit menyebalkan dan keras kepala Shena masih jadi istri yang penurut.


Begitupun dengan bapak yang hanya bertukar kabar lewat telepon, pria paruh baya itu kini sudah jauh lebih baik dengan usaha barunya yaitu jual beli hewan ternak yang pastinya itu semua modal dari sang menantu, tak ada yang bisa di kerjakan bapak saat ini karna ia pun sedang berjuang lepas dari kebiasaan buruknya yaitu judi dan mabuk minuman keras, karna untuk jambret atau mencuri ia sudah punya penghasilannya sendiri yang sudah sangat jauh lebih dari cukup jika hanya untuk mengisi perutnya sendiri.


Sebahagia apapun seorang anak di tempat barunya pasti ada hari dimana ia rindu rumah berserta penghuninya, itu juga yang kininsedang d rasakan Shena, tapi ia tak pernah mau bebagi dengan sanh suami karna masih ada rasa segan dan malu jika ingat dari mana asal usulnya walau masalah itu tak pernah di ungkit sama sekali.


"Sayang, kamu melamun?" tanya Fajar yang lalu menciumi pucuk kepala Shenba.


"Enggak, cuma lagi diem aja."


"Nah kan tumben, apa ada yang kamu pikirin?" tanya Fajar lagi.


Shena hanya menggelengkan kepala, karna tak ada satu pun orang yang paham rasanya jadi anak yang di tinggal atau jauh dari orang tua kecuali orang itu merasakannya, dan Fajar yang punya keluarga lengkap dan hangat hanya bisa menjadi pendengar yang baik karna untu paham bagaimana rasnya ia tak akan bisa, sebab untuk membayangkannya sajaia tak sanggup dan siap.


Obrolan singkat itu berhenti sesaat setelah mobil mewah yang mereka naiki


Pun sudah memasuki area parkir resto siap saji.


Dan seperti kesepakatan di awal, hanya Fajar dan Shena saja yang turun untuk makan siang yang tertunda, mereka akan memesan makan untuk pak Iwan dan supir yang menunggu di dalam mobil, entah apa bagaimana perasaan pria di balik kemudi itu karna yang Fajar lihat sesekali ia terus mengelap keringatnya padahal Ac mobil cukup dingin, tak perlu di tanya, karna pastinya sudah tau alasan kenapa si supir bersikap seperti itu selama perjalan mulai dari berangkat hingga saat ini ke resto.


Karna sudah lewat dari jam makan siang yang sesungguhnya,sudah tentu tepat itu tak terlalu ramai pengunjung jadi sepasang suami istrri tersebut bisa memilih meja yang menurut mereka nyaman untuk mengisi perut yang sudah meronta minta di isi.


"Mau dada, sayap atau paha?" tanya Fajar sebeum ia memesan makan yang tak hanya untuk mereka berdua saja.


.


.


.


.


Shena mau kepalanya aja, tapi yang mata ayamnya merem ya A'....