
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Rumah utama pagi pagi sudah di hebohkan dengan kabar Shena yang masuk rumah sakit sejak semalam, Sang tuan besar memang baru mengabarinya barusan karna tak ingin menganggu istirahat yang lain, terlebih tak ada yang harus di khawatirkan meski kabar baik jika shena hamil sudah di dengar olehnya, tapi lagi dan lagi pria baya itu ingin yang bersangkutan saja yang menyampaikan hal tersebut, meski mereka harus datang di dua pekan mendatang untuk hasil yang lebih akurat di banding semalam.
"Kesian si dung dung pret, dari kemarin Lilin belum ketemu," ucapnya tak kalah sedih karna bagaimana pun Shena tetap kakak iparnya walau yang paling menyebalkan.
"Gada aja baru kasihan, bagian ada ngajak ribut terus," ledek Ayah Keanu sambil mencibir ke arah si bungsu.
Lintang hanya senyum senyum tak jelas karna yang di katakan ayahnya memang benar, rasa kehilangan itu ada saat orang itu tak ada.
"kapan pulang? Kalau belum bisa pulang sekarang biar Bubun ke sana sekarang, Yah," kata Bubun Embun pada suaminya yang sangat khawatir.
"Bun, sabar ya, nanti tunggu kabar dari Aa dulu," timpal Rinjani yang paham betul dengan yang kini di rasakan ibu mertuanya karna ia juga punya mama yang tingkat paniknya tak kalah jauh berbeda.
"Dari malam loh Bubun nunggu kabar, taunya baru tau pagi ini. Itupun dari Phiu karnkarna aa gak balas satupun balas pesan bubun," omelnya panjang lebar.
"Yang terpenting kan sudah ada kabar, bun," sahut Ayah yang sejak semalam sibuk menenagkan wanita halalnya tersebut.
"Memang si dung dung pret sakit apa?" tanya Angkasa, meski ia sibuk dengan perusahannya tapi rasa perdulinya tetap tinggi pada keluarga.
"Awalnya hanya mual muntah di kantor, tapi mungkin karna Aa khawair jadi di bawa ke rumah sakit dan katanya pingsan," jelas Mhiu yang kali ini angkat bicara.
"Separah itu?" tanya Bintang kaget.
"Kebanyakan di ajakin buka bukaan terus sama Aa jadilah si Dung Dung pret masuk angin akut," kekeh Lintang yang langsung mendapat tatapan tajam dari Bubun.
"Nanti biar Ayah yang telepon Aa dulunya," kata Ayah yang pikirannya bercabang antara menantu dan istri.
"Pulang gak pulang Bubun mau kesana, Bubun gak mau nunggu di rumah, Bubun harus temenin Shena, kasihan dia cuma berdua sama Aa," sahut wanita itu lagi dengan tegas dan tak ingin ada bantahan, Ayah pun mau tak mau menuruti, mereka langsung pergi ke rumah sakit bahkan tak sampai menghabiskan makanan lebih dulu.
.
.
.
Begitulah fajar, saking fokusnya ia sampai lupa dengan keluarganya, ia abaikan ponselnya yang berada di atas nakas samping ranjang pasien tanpa di sentuh sama sekali sejak pindah ke ruang rawat inap.
"Wah, bubur ayam," ucap Shena senang saat suaminya kembali membawa sarapan, Shena yang tak mau makan makan dari rumah sakit mau tak mau Fajar harus ke kantin.
"Iya, habisin ya, habis ini minum obat lalu pulang," jawab Fajar yang kali ini langsung di iyakan tanpa banyak protes dan drama tanya jawab karna perut sudah benar benar terasa lapar.
"Pulang ke rumah Abah dan Enin boleh? Mereka sudah pulang?" tanya Shena yang sudah sangat rindu dengan sepasang suami istri baya tersebut.
"Entah, aa coba telepon dulu ya," jawab Fajar yang meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja tepat di samping sebotol air mineral.
Fajar tak bisa membayangkan sepanik apa Bubun dan yang lainnya tentang tak adanya kabar darinya ini. Pesan di grup chat para sepupunya pun sama, mereka malah berghibah ria tebak tebak buah manggis tentang keadaan Shena, tentu yang paling heboh adalah Lintang dan El meski begitu ada terselip doa juga yang kedua pria itu berikan untuk Shena.
"Aa telepon Bubun dulu sebentar ya," ucap Fajar yang hanya di balas dengan anggukan kepala oleh istrinya.
Tak perlu menunggu lama, suara pemilik surganya itu pun terdengar, tanpa membalas sapaan fajar, Bubun langsung memberondong putra keduanya itu dengan banyak pertanyaan yang sama seperti pesan yang di kirimnya.
"Iya, Bun, Aa sama Shena masih di rumah sakit, bubun jangan khawatir ya, siang ini habis sarapan kami pulang," jelas Fajar yang merasa sangat bersalah luar biasa, ia tak tersinggung saat Bubun mulai memarahinya yang sudah mengabaikan ponsel sejak semalam hingg saat ini.
"Bubun dan Ayah sudah di jalan, kami akan kesana sekarang," jawab Bubun dari sebrang sana, sedangkan Fajar malah mengangguk seolah Bubun ada di hadapannya saat ini bicara langsung dengannya.
"Ya sudah, kami tunggu."
"Kamu benar sudah sarapan? Ingin di bawakan apa, hem? tanya Bubun.
"Tak perlu, Bun. Aku dan Shena sedang sarapan bubur ayam dan teh hangat,"
"Baiklah, tunggu Bubun dan Ayah ya," ucap Bubun lagi sebelum akhirnya panggilan terputus.
Shena dan Fajar kini saling tatap namun hanya fajar yang tersenyum, sedang Shena memasang wajah serius menunggu cerita dari pria tersebut.
"Bubun bilang apa?"
"Mau kesini sama Ayah, bubun khawatir jadi gak mau nunggu kita pulang jadinya kesini," jawab Fajar yang menciumi punggung tangan kanan istrinya, sebab yang kiri masih terpasang jarum infus.
"Iya, tapi tetep pulang ke rumah abah ya, aku kangen Enin," ,mohon Shena lagi.
"Iya, tapi kalau sudah pulang ya, kalau belum pulang masih harus pulang kerumah utama, nanti saat Abah dan Enin sudah sampai rumah baru kita kesana, gimana?" tawar Fajar yang mulai bernegoisasi, kini bukan hanya ada ia dan Shena tapi juga ada buah cinta mereka di dalam rahim wanita itu yang harus ia jaga semaksimal mungkin.
Keduanya sarapan dengan cukup lahap, bahkan sate telur sebagai toping dari si bubur ayam pun ludes oleh Shena.
Suami mana pun akan senang melihat pujaan hatinya kini berangsur baik, cukup banyak yang sudah mereka lewati, terutama keluar dari rasa trauma yang sempat Shena lalui.
.
.
.
$$$$$$$$$$$$
Lapak Chio udah Up ya, gabung sama ManDud ya di bab 181😘😘😘