Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part #40


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Doyang doyang Utel utel aju aju undul undul lili lili nanan nanan... Clulut clulut, gitu kan, Yin?" kata El yang masih cekikian sembari bermanja di lengan kakak sepupunya.


"Apa clulut clulut?" tanya Lintang bingung, ia yang sejak kecil hapal juga dengan nyanyian itu baru ini ada kata tambahannya.


"RAHASIA, khusus anak di bawah umur," kekehnya lagi dengan kedua pipi merah merona dan itu membuat Lintang curiga.


"Jangan macam macam, awas kamu!" ancam Lintang serius.


El hanya mengangguk, tak mungkin juga ia berbuat yang aneh aneh karna bukan nama orang tuanya saja yang jadi taruhan tapi semua nama besar keluarga Rahardian Wijaya.


Hatchi....


Suara bersin dari arah belakang Sofa tentu mengagetkan Lintang dan El yang sedang bersantai, keduanya langsung menoleh dan bangun dari duduk, kini ketiganya berdiri dengan Sofa di depan mereka.


Hatchi...


Lagi dan lagi Shena bersin hingga hidungnya merah sedangkan El dan Lintang saling pandang sebelum mereka melayangkan pertanyaan.


"Kamu kenapa?" tanya Lintang


"Emang itu siapa?" El balik bertanya sambil menoleh kearah pria yang tadi melempar pertanyaan.


"Si Dung-Dung," jawab Lintang dengan entengnya.


"Enak aja, Hatchi--," protes Shena yang kembali kesal.


El yang baru ingat dengan niatnya datang kemari langsung tertawa. Ia datang memang untuk melihat calon istri kakak sepupunya tapi setelah bertemu dengan Lintang seolah semua ia lupakan.


"Dung-Dung Pret?"


"Nah iya, pake Pret makin gemoy kayanya," sakit Lintang.


"ITU KAN PUNYA EL," protes Si anak kecil padahal ia sudah beranjak dewasa.


"Kamu kan Demoy, Si Dung-Dung pret kan Gemoy," balas Lintang memberi perbedaan antara dua kata tersebut.


"Engga, gak boleh!" tolak El yang tak mau di samakan oleh siapapun.


"STOP! aku ini SENANDUNG," ucap Shena yang hidungnya mulai keluar asap.


"Aku--!" tunjuk Shena dengan jadi telunjuk kearahnya sendiri.


"Siapa nanyaaaaaaa," ledek Lintang dan El yang kemudian tertawa bersama.


Shena yang semakin kesal langsung meraih bantal sofa, sedangkan El dan Lintang yang tahu akan di aniaya pun mulai berlari.


"Mau kemana kalian? hah!" teriak Shena yang tak mau sabar lagi, semalam tanduknya sudah muncul dan kini semakin besaaaaaaal dan panjang.


"Awas kamu ya, kalau sampe kena Lilin!"


Shena tak perduli, telinganya seolah ia tulikan demi fokus mengejar Lintang sedangkan yang satunya ia belum tahu siapa.


"Dung-Dung pret galak ya, kaya Zombie," teriak El saat masih di kejar, meski hanya seputaran ruang tengah tapi rasanya lelah karna ruangan tersebut cukup besar dan lebar, ada beberapa sofa panjang dan single yang ukurannya beda dengan yang biasa, ruangan tersebut memang di desain senyaman mungkin untuk tempat kumpul keluarga.


"Ini Shena, bukan Dung-Dung, bukan Zombie," balas Si JanCiL tak kalah berteriak juga dengan tangan masih memegang bantal yang akan ia pukul pada siapapun yang kena tapi sayangnya ia kalah gesit dengan Si anak kecil juga Si kuncen akhirat.


"Shena itu katamu, buat Lilin kamu Dung-Dung," sahut Lintang dan gelak tawa semakin riuh.


"Iya, El Demoy kan baik hati dan tidak sombong jadi El tambahin Pret ya, jadi Dung-Dung Pret, tenang ini gratis kok," timpal El tak kalah malah ia menjulurkan sedikit lidahnya agar ledekannya semaki sempurna.


"Awas ya, aku potekin helm kalian dari batangnya!" ancam Shena dengan deru napas yang sedang menahan amarah.


Lintang dan El saling pandang lalu menaruh kedua tangan mereka di bagian sensitif masing-masing dengan perasaan takut.


"Kabuuuuuuuur, Lilin mau ke Culugaaaaa" teriak Lintang ke arah tangga. Dan kini tinggal ada El yang semakin panik.


"Mau kemana kamu hah?"


.


.


.


.


Jangan! El belum utel utel aju undul sampe Clulut Clulut loooooh....