
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Setelah kejadian kemarin di rumah utama yang cukup menghebohkan antara El dan Bubu, kini giliran Si mantan JanCiL yang bersenang senang. Ia ikut Bubun untuk menemani wanita itu ber shoping ria seperti yang sudah di rencanakan sebelum drama kejar kejaran terjadi.
"Aunty---, siapa ya?" tanya Shena sambil berpikir keras sedang wanita cantik di depannya hanya tertawa.
"Hayo, siapa?"
"Gak tau, lupa! kebanyakan orangnya," jawab Shena yang semakin pasrah.
SyahRaa, ia adalah sepupu Bubun yang satu server pastinya, jika Bubun adalah Ratu Rahardian, wanita yang kini bersama Shena adalah Ratu Pradipta. Keduanya memiliki pekerjaan yang sama yaitu menghabiskan uang para Tuan besar.
"Bubunmu ada? hari ini kita jalan jalan, Ok."
"Tadi masih di kamar, mau kemana?" tanya Shena tak bersemangat.
Jika bisa menolak rasanya ia justru lebih ingin tidur atau m
bermain dengan Bubu sebelum lusa anak Macan itu di kembalikan.
"Kemana aja, gak ada rencana pasti," jawab Aunty SyahRaa.
Dan tak lama, Nyonya besar Lee datang menghampiri Shena dan SyahRaa.
"Bee sama Jani mana? gak ikut?"
"Enggak, cuma titipan yang ikut," jawab Bubun sembari tertawa kecil.
Meski punya tiga menantu perempuan, tapi mereka jelas berbeda. Bintang sibuk dengan usaha kedua orang tuanya yang mana ia adalah anak tunggal sedangkan Ranjani lebih sibuk bolak balik ke rumah sakit mengurus suami dan mamanya.
"Jadi, kita bertiga aja nih?" tanya SyahRaa lagi sambil memastikan dan hanya di jawab anggukan kepala.
"Bertiga aja pasti lama, gimana kalau banyakan?" sahut Shena, pengalaman adalah hal berharga untuk antisipasi di kemudian hari meski rasanya itu tak bisa karna semua seakan terulang jika sudah menyangkut perbelanjaan di antara Ratu dan Nona muda.
"Tapi cara makan dulu ya, Buy. Aku lapar," ujar SyahRaa.
Walau memiliki nama yang begitu indah yaitu Embun RaLiana Rahardian Wijaya, namun semua orang memanggilnya tetap Buy, Ta Buy atau Bul-Bul karna itu adalah nama kesayangan yang di berikan oleh Appa Jajah yang saat itu baru memiliki cicit pertama perempuan.
"Ok, di tempat biasa ya, cari yang bikin kenyang biar bisa bertenaga."
Shena yang mendengar itu malah lemas, ia lebih suka pergi ke minimarket membeli cemilan lalu pulang.
.
.
.
Berada di salah satu restoran milik keluarga, membuat mereka tak serta merta pada karyawan dalam segi pelayanan, semua di samakan layaknya pengunjung biasa.
Satu porsi makanan di pesan Bubun untuk menantunya, ia tak memesan hidangan yang aneh-aneh yang tak cocok di lidah Shena. Bukan masalah latar belakang kaya atau miskin tapi jika sudah menyangkut tentang rasa sepertinya itu perihal selera masing masing.
"Ayo habiskan, " titah Bubun.
"Shena kenapa? makanannya gak enak? mau ganti menu lain, hem?" tanya Aunty SyahRaa saar melihat makanan di piring istri keponakannya itu belum habis.
"Enak, cuma gak laper. Shena masih kenyang."
"Shena, ayo." Bubun mengulurkan tangannya dan itu langsung di sambut oleh sang menantu.
Shena yang sudah bangun ikut dengan ibu mertuanya itu keluar dari Resto. Namun ia menarik tangan Bubun sampai wanita itu menoleh.
"Ada apa?" tanya Bubun.
"Shena mau ke kantor Aa aja, boleh?" pintanya yang langsung membuat dua wanita paruh baya itu saling pandang.
"Hem, mau ke Aa aja? ya sudah, biar supir yang antar kamu. Bubun dan Aunty bisa minta jemput lagi nanti."
"Maaf ya, Bun."
Shena pun berpamitan, ia ikut dengan supir yang tadi mengantar mereka ke Resto dari rumah utama.
Selama perjalanan menuju gedung bak pencakar langit ia diam seribu bahasa hanya menikmati apa yang sedang ia lihat saat ini. Tak ada yang ia lakukan kecuali bertanya tanya dalam hati, ada apa dengannya?
"Nona, sekarang Anda sudah sampai di perusahaan Rahardian Group," ucap Pak Supir yang tentu mengagetkan Shena yang sedang melamun.
"Hem, bisa antar saya sampai sana?" pinta Shena sambik menunjuk tempat kerja suaminya, ia pasti akan kebingungan karna ini adalah yang pertama kalinya ia datang.
"Baik, Nona. Nanti saya akan antar Anda sampai meja resepsionis."
Shena turun dari mobil mewah milik keluarga sang suami setelah dibuka kan pintu nya oleh supir. Ia mengikuti langkah pria tersebut hingga akhirnya ia bicara dengan dua orang wanita di Lobby kantor.
"Nanti ada sekertaris Tuan yang akan mengantar Nona. Nona, silahkan menunggu dulu," ucap si supir lagi sambil mempersilahkan Shena duduk di ruang tunggu.
Shena hanya mengangguk, ia edarkan pandangan matanya dengan perasaan tak percaya jika suaminya adalah pemilik gedung mewah ini.
Dan, tak sampai lima belas menit, ada yang seorang wanita seksi datang menghampiri Shena, ia di minta untuk ikut ke arah Lift yang akan mengantar mereka sampai di lantai ruang kerja Presiden Direktur. Rasanya ingin sekali ia cepat sampai karna merasa malu sedang menjadi pusat perhatian dari para pekerja yang baru melihatnya pertama kali.
Shena yang sempat meminta untuk tak di beritahu kedatangannya pun mengukir senyum di ujung bibir tipisnya, ia membayangkan entah bagian tubuh mana yang akan mendapatkan gigitan dari Fajar sebagai bentuk hukuman sudah datang mendadak.
Triiiing..
Suara pintu lift adalah tanda ia dan sang sekertaris sudah sampai di lantai yang di tuju.
"Silahkan, Nona."
Shena hanya mengangguk, ada rasa jengkel dalam hati karena ternyata sang suami selama ini di keliling wanita cantik dengan pakaian super ketat di tambah rok setengah Paha.
"Ini, ruangannya, Nona. Tapi Tuan sedang ada tamu."
Shena hanya tersenyum simpul, tanpa mengetuk pintu ia masuk kedalam ruang kerja Sang Presiden Direktur yang tak lain adalah suaminya..
.
.
.
.
Aa... Aa lagi ngapain???