
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
#Kediaman Rahardian.
"Miiiiiiiih--," panggil El keluar dari kamar.
Satu kebiasaan menyebalkan anak itu adalah selalu ribut memanggil pemilik Surganya sedari jauh dan itu cukup menggelitik telinga orang yang tak terbiasa tapi untungnya semua yang ada di bangunan mewah itu sudah tahu dengan kelakuan El selama ini.
"Brisik, El!"
"Abaaaaaang, Abang tayal El, anter El ke kampus dulu yuk," pintanya sambil merajuk manja pada kakak laki-lakinya, mereka satu ayah namun beda ibu tapi keduanya begitu akur karna tak pernah ada perbedaan keduanya mendapat kasih sayang yang adil menurut porsi mereka karna adil yang sesungguhnya tak harus sama rata, tapi di cari mana yang lebih membutuhkan.
"Emang kenapa gak berangkat sendiri?, hem?" tanya Sean.
Keduanya berjalan dengan El bergelayut manja di lengan kakaknya hingga sampai di meja makan.
"Baru Mamih mau ke kamar kalian," ucap Mamih XyRa saat dua jagoan tampannya justru ada di ruang makan.
"El nih, Abang sih gak perlu," jawab Si sulung.
"El ada kuliah pagi, makanya bangun pagi juga Abaaaaaang," seru El saat di ledek Sean yang tahu jika adiknya memang sulit bangun pagi tapi itu tak ada artinya dengan Chio, karna bocah itu bukan seperti tidur melainkan MATI.
"El tumben gak bilang Mami?" tanya Wanita paruh baya nant cantik itu.
"Iya--, aduh!" ringisnya tiba tiba sambil mengusap telinga.
"Loh, ini kenapa, El?" tanya Papih Axel yang baru datang dan kebetulan akan lewat didepan anak keduanya, tapi langkahnya langsung berhenti saat melihat kearah telinga Si Demoy.
"Ini nih, dari kemarin malam gatel sama bunyi terus," jawab El masih dengan telinga yang ia usap usap sampai terlihat memerah.
"Kok bisa? kenapa?" tanya Mamih dan Papih berbarengan yang sebelumnya saling pandang.
"Biasa--, di panggil emak-emak" jawabnya sambil cekikikan.
Semua tahu, setelah,Tutut, BumBum, Lilin kini ada El yang jadi hiburan para kaum Emak, yang entah hanya sibuk di rumah saja sambil memikirkan harga bawang atau ada juga emak yang sibuk bekerja dan butuh hiburan dengan cara bayangin Si Demoy utel utel.
"Lalu?" tanya Sean.
"Hem, gak jadi kuliah deh, El mau kerumah utama," jawabnya dengan kedua alis yang naik turun
Ketiga orang yang ada di dekatnya pun semakin memandang El lekat hingga perasaan tak enak pun hinggap di hati Mamih, Papih tentunya juga Sean.
"Dirumah utama lagi ada tamu, El," jelas Mamih.
"Siapa?" tanya Si Demoy.
" Iya, semalam di bawa kerumah utama," jawab Mamih membenarkan ucapan suaminya barusan.
"Wiiih, mau ada kawinan lagi dong, Abang tayang El kapan?" tanya El sambil menyenggol kakak laki-lakinya tersebut.
"Gak tahu, tanya emak-emak sana, kapan maunya launching," jawab Sean yang pastinya sudah punya lapak ya permirsah.
El yang senyum senyum sendiri sejak tadi tentu tak sabar ingin datang ke rumah utama dimana disana ada Yiyin oh Yiyin kesayangannya.
Tak perduli Sang Mamih melarang, nyatanya ia tetap kesana saking penasaran dengan yang katanya calon pawang kakak sepupunya tersebut sebab yang El tahu hanya Alina satu-satunya yang pernah dekat dengan pria kalem dan tak banyak bicara. Tapi, setelah bertemu dengan. Si JanCiL justru Fajar meresahkan.
.
.
.
Seperti rencananya tadi, El sampai tak masuk kuliah demi datang ke rumah utama yang selalu membuatnya betah. Bukan hanya karna penghuninya tapi memang banyak cerita disana termasuk Si kuncen Akhirat kesayangan El Demoy.
Dengan menggunakan mobil mewahnya, kini pewaris Rahardian Group itu melajukan Si kereta besi dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai pastinya. Ia kini beranjak dewasa tak pernah banyak tingkah kecuali di tengah-tengah keluarganya sendiri. Ia di kenal baik, sopan dan pastinya berprestasi tak banyak tahu jika justru ia pandai Ngereog sejak kecil di depan Kuncen Akhirat.
Sampai di banguan megah Rahardian, El langsung masuk. Lagi lagi hampir semua masuk lewat pintu samping karna semua tahu jika hanya ruang makan dan ruang tengah yang sering di pakai berkumpul, karna jika perut kenyang hati pun senang dan semua aman di dalam sarang.
"Yiyiiiiiiiiiin, aciiik, Yiyinnya El gak ke kantor ya?" tanyanya senang, jika tak di jauhkan sudah pasti bibir Si anak kecil sudah mendarat di pipi Lintang saking gemasnya.
"Minggir gak?!"
"Enggak! El mau peluk karna kita jodoh," ucap El sambil tertawa, Lintang yang mendengar itu malah langsung berpikir keras.
"Jodoh apaan?" tanya Lintang, ia bingung karna merasa sudah punya jodohnya sendiri yaitu Rinjani.
"Iya, jodoh! El yang mau kesini taunya ada Lilin, apa tuh kalau bukan jodoh?" tanyanya tentu sambil senyum senyum senang seolah dunia dunia miliknya jika sedang bermanja dengan Lintang.
"Apaan sih?! aneh banget! Mana ada begitu jodoh, Lilin itu udah punya jodoh sendiri ya! Rinjani ChiMa Wardhana." tegasnya dengan kedua mata besar seakan ingin menelan El hidup-hidup.
.
.
.
Gak apa-apa, Poligami aja sama El, ntar El jadi MADU.....