Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 41


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Berani panggil Shena kaya tadi?!" tantang gadis itu yang kini berjalan semakin dekat kearah El.


"Dung-Dung Pret," ucap El pelan, sangat sangat pelan.


"Apa? ulang!"


"Dung-Dung Preeeeeet," sahut El yang malah menurut saja mengikuti maunya Si JanCil.


"Gak kedengeran!" ketus Shena yang sudah sangat dekat. Dan El hanya bisa menelan salivanya kuat kuat sebab Shena tepat di depannya saat ini.


"Dih, cakep doang taunya BOLOT."


"Aaaaaaaaaaaaaa, kamu anak siapa sih!!!!!" teriak Shena kesal sambil memukuli El tanpa ampun benar-benar tanpa ampun.


"El anak mamih juga papih adenya Abang tayang El, cucunya Apih dan Amih juga cicitnya Abi Ummi, aduh! sakit tau, sakit banget ini." El yang meringis, mengaduh dan berusaha kabur tak di hiraukan oleh Shena sebelum ia merasa puas.


Gadis itu kini berubah manjadi macan betina padahal saat bersama Fajar ia layaknya anak kucing yang polos dan penurut.


"Yiyiiiiii oh Yiyin! emang gak mau tolongin El?" teriak El yang tahu jika Si kuncen akhirat sudah kabur lebih dulu.


pukulan terus di layangkan Shena tak hanya di bagian punggung tapi juga kaki serta lengan. Dan untungnya Shena tak melakukannya di area wajah dan juga kepala, meski kesal tapi ia juga masih punya rasa kasihan sebab bantal yang di pakai untuk memukul cukup lumayan berat.


Dan, semua terhenti saat ada yang melerai, Shena di tarik tangannya hingga kedua wajah dan mata mereka saling tatap meski harus mendongak sebab pria di depan Shena jauh lebih tinggi.


"Nah, keluar lagi dia! masih berani mucul di depanku, hah!" omel Shena.


Bugh.. Bugh... Bugh.. Bugh...


Masih sama seperti yang tadi, Shena memukuli pria tampan dengan setelah jas rapih tersebut tanpa jeda dan ampun. Shena seperti orang kesurupan karna rambut panjang lurus sepingganya kini sudah sangat sangat berantakan. Ia tak mengurusi dirinya lagi yang penting hatinya plong sudah bisa menganiaya para pria yang senang sekali mengejeknya sejak datang ke rumah utama.


"Duuuuuh, apaan sih! Hey, kamu kenapa?" tanya pria tadi yang kini tersungkur di lantai sambil berusaha menutupi wajah tampannya agar tak babak belur terkena bantal sofa yang terus di layangkan di tubuhnya.


"Loh, memang salah ku apa?" tanyanya masih bingung.


"Banyaaaaaaaaaaaak!" jawab Shena semakin murka, ia lempar Si bantal dan mulai menganiaya dengan cubitan kecil ala kepiting yang sakitnya Naudzubillah..


"Hayo.. terus.. terus.. terus.. Pukul aja, Cubitin sampe merah kalau perlu sampe Ginjalnya," teriak suara pria lain yang di hapal oleh Shena, dan itu sontak membuatnya menoleh kearah sumber suara yang seolah adalah team Hip hip hore..


"Kamu??!" tunjuk Shena kearah tangga, tempat dimana ada Lintang yang sedang berdiri. Ya, Lintang Rahardian Lee Wijaya. Shena yakin itu Si Bungsu karna tawanya begitu khas dan menyebalkan baginya.


"Kalau itu kamu, lalu yang ku pukul siapa?" tanya Shena mulai panik, ia tak berani menoleh ke arah orang yang menjadi korban pemukulannya barusan.


"Abang! Ini Abang Asha, kenapa, hah?" sahut Si sulung menantang dengan berkacak pinggang.


"Maaf, Shena gak tau, kirain itu Si Lilin Ngepet," jawab Shena takut karna merasa bersalah.


"Wah, Bang Asha di aniaya tanpa sebab, Si Dung-Dung Pret belom pernah di terkam Buaya kayanya,!" kata El yang mulai jadi kompor sumbu pendek.


Dan itu malah di setujui dan di dukung oleh Lintang yang mulai menghampiri, ia semakin berani karna merasa ada Si Buaya Cilik.


"Eh, gak bisa dong. Suruh siapa wajah kalian mirip? bukan mau ku jika salah sasaran," bela Shena yang khawatir dengan dirinya yang sendiri di rumah utama, tentu tak ada yang bisa menolongnya saat ini karna Fajar sedang berada di kantor. Rasa sesal pun terselip dihati Shena yang andai saja tak keluar kamar.


"Kejar, Bang. Ayo kejaaaaaaaaaaaaar--," teriak El dan Lilin yang pastinya kompak. Mereka lupa jika kini status ketiganya adalah seorang PresDir dan Mahasiswa.


.


.


.


Huaaaaaaa.... Aa---, aku mau pulaaaaaaaang!!!