Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 56


🍂🍂🍂🍂🍂


Pagi tadi, Pak Edi selaku orang tua tunggal Shena sudah sampai di rumah utama, ia datang dengan di jemput oleh pasukan Gajah. Pertemuan mengharukan pun sangat jelas terasa bahkan Shena baru kali ini di peluk begitu erat oleh Bapak. Semua tentu tak di sia siakan juga oleh pihak keluarga Lee Rahardian dimana mereka langsung membicarakan hal penting yang kemarin sempat tertunda karna memang kondisi Pak Edi yang tak memungkinkan untuk bicara serius.


Kalimat demi kalimat di tuturkan oleh Ayah Keanu selaku orang tua dari Fajar, bicaranya sungguh sudah sangat lacar mengingat ini kali ketiganya ia meminta seorang anak gadis untuk putranya.


Pak Edi yang terlihat bingung, haru dan tak tahu harus bagaimana nampak tak banyak bicara, berbanding terbalik dengan Sang calon besan, ini justru pengalaman pertama untuk pria itu. Almarhum anak laki-lakinya belum menikah sedangkan Shena dulu tak ada lamar melamar bahkan bicara baik baik pun tidak. Mereka langsung di nikahkan jauh dari kesan layak.


Beruntungnya, Pak Edi melimpahkan segala keputusan Shena dan itu tak lain untuk bentuk rasa bersalahnya pasa satu-satunya anak yang ia miliki. Pak Edi begitu menyesal karna sudah menukar Shena demi hutangnya lunas. Semua ia ketahui saat Tagor di ringkus oleh pihak yang berwajib. Dan di saat yang sama juga ia mencari keberadaan Shena yang tak jelas, yang dengar anak bungsunya itu di bawa oleh orang Asing, sedangkan Si Ucil yang jadi saksi pada saat itu tak banyak memberi informasi tentang kemana dan dimana Shena saat itu.


"Bapak jangan pulang, nanti bolak balik cape," saran Shena saat pria baya yang baru di rasa pelukannya berpamitan.


"Nanti orang yang pake baju item item berotot itu datang lagi buat jemput Bapak. Adek jangan khawatir ya," ucapnya yang membuat kedua pipi Shena merah merona. Betapa bahagianya ia saat di panggil Adek oleh Bapak yang justru tak pernah menyebut namanya itu.


"Yasudah, hati hati di jalan, janji Bapak akan datang lagi, Shena tunggu disini," pesan Si anak dengan manjanya sambil bergelayut.


"Tentu, Bapak akan balik lagi untuk menikahkanmu. Meski ini bukan yang pertama tapi Bapak harap ini yang terakhir untukmu."


"Aamiin, Pak," sahut Shena yang tak bisa berkata kata lagi. Tak ada yang bisa membuatmu sebahagia hari ini apalagi jika ada Ibu dan kakaknya. Tapi, Shena yakin mereka tahu dan pastinya ikut mendoakan, karna hanya raganya saja yang pergi tapi sosok keduanya tetap ada di hati Shena. Mereka punya tempatnya tersendiri yang tak mungkin tergantikan.


Meski dengan perasaan berat, Shena tetap melepas Bapak untuk pulang ke kontrakan kumuh mereka. Ada rasa tak enak jika harus tetap tinggal di rumah utama karna merasa dirinya tak layak.


"Ayo masuk." Fajar yang sedari tadi membiarkan mereka bersama kini memeluk Shena dari belakang.


"Kaget ih," jawab Shena sambil memukul pelan tangan yang kini melingkar di perut ratanya.


"Makanya, jangan suka ngelamun, Sayang."


Shena tersenyum simpul, dua orang pria yang paling berarti dalam hidupnya punya panggilan tersendiri dan Shena suka mendengarnya.


"Aku cuma mau liat Bapak sampai benar-benar hilang dari pandanganku, A'. Dia sudah pulang dan berjanji akan kembali untuk menikahkanku lagi," ucap Shena yang menikmati sentuhan bibir Fajar di bahunya.


"Hem, dia sendiri sendiri yang akan melakukannya."


"A'--, Aa gak malu nikah sama aku? aku Janda loh," tanyanya mulai berkecil hati, perasaan seperti itu justru datang di mana status HALAL sudah di depan matanya seolah ini adalah ujian tersendiri bagi mereka.


"Memang ada yang salah dengan Janda?" tanya balik Fajar.


"Takutnya Aa malu, janda kan---,"


"Janda itu hanya sebuah Status, Sayang. Gak ada yang salah dengan semua itu. Jangan memukul rata semuanya, karna yang berstatus gadis pun belum tentu jauh lebih baik. Semua orang berhak bahagia tanpa terkecuali, tak apa gagal asal mau mengambil pelajaran dari kegagalan itu." potong Fajar langsung untuk membesarkan hati Shena.


Memang tak mudah baginya, apalagi yang menikahinya seorang Perjaka. Dan itu sempat juga terpikir di benak Fajar, sebab kang Ghibah tak hanya ada di kalangan tetangga rumah saja pastinya, Ia yang seorang pengusaha muda dari keluarga konglomerat pasti akan jadi sasaran empuk juga bagi para pemburu berita atau di kalangan pembisnis.


"Kalau malu, Aa nanti pergi sama aku mukanya tutupin ya," kata Shena sambil terkekeh.


"Kenapa harus Aa? kan yang Janda kamu," sahut Fajar dengan entengnya, tanpa ia ingat sepolos apapun Shena ia tetap punya naluri wanita pada umumnya.


A'aaaaaaaaaaaaaaaaa......


.


.


.


Seperti yang pernah di katakan oleh Bubun. Saat suami dan anaknya sibuk mengurus segala berkas pernikahan lain halnya dengan wanita itu yang mulai mengajak Shena sampai tak ingat waktu pulang.


"Bun, tadi kan merah sama coklat udah, kenapa harus beli yang putih lagi?" tanya Shena saat ia kembali di minta menjajal sepasang sepatu.


"Yang hitam justru lagi di ambilin, Sayang."


Glek


Shena menelan salivanya kuat kuat sebab sudah sejak pagi ia pergi bersama calon mertuanua tesebut.


"Sabar Shena, kamu itu korban ke lalapan Bubun, iyain aja ya iyain," kata Rinjani sambil terkekeh, begitu juga yang di lakukan oleh Bintang yang meski hanya mengusap punggung calon adik ipar keduanya itu.


"Tapi buat apa?" tanya Shena, karna sebelumnya ia sudah membeli tiga pasang sandal.


"Nanti juga terpakai, akan banyak acara yang harus di hadiri olehmu. Kamu harus belajar untuk sering memakainya juga dalam waktu lama ya," jelas Rinjani yang semua itu bagai makanan sehari hari untuknya.


"Pasti sakit kan?"


"Gak semua, karna yang diutamakan juga tentu rasa nyaman saat dipakai," sahut Bintang juga.


Tak seperti di awal, Shena tak lagi sedih saat barang yang sudah di belinya itu di tinggal begitu saja, dari toko satu ke toko lain, dari butik satu ke butik laih hingga dari satu Mall ke Mall lain mereka bak seorang petualang tapi tentu bukan para pemburu Diskon sebab biasanya mereka berbelanja tanpa melihat harga lagi.


"Kamu kenapa, Shena?" tanya Bubun saat gadis itu terlihat melamun.


"Marah? marah karna kamu belanja?"


Shena menangguk, sebab tak ada jawaban dari Fajar saat ia melayangkan satu pertanyaan saat itu " Aa masih punya duit kan? Aa libur kelamaan loh."


Hal tersebut siapa sangka akan menjadi beban pikiran tersendiri bagi Shena, Si polos yang tak tahu sekaya apa pria yang mencintainya tersebut.


"Kamu tenang aja, ini semua pakai kartu ajaibnya Ayah, uang Aa aman kok'," jawab Bubun sambil mengacak gemas pucuk rambut Si JanCil.


"Tuh,, denger kan?" sambung Bintang yang hal tersebut juga sudah biasa baginya. Saat pergi dengan Bubun jangan harap uang mereka akan keluar satu perak pun, semua sudah di sponsori oleh si Kadal Jantan yang tak lain adalah Ayah mertua mereka.


Dan, dirasa semua aman juga lega kini mereka pulang saat di penghujung petang, hanya ada beberapa waktu sebelum akhirnya nanti makan malam bersama.


Cek lek


"Ya ampun, Kaget ih," pekik Shena saat ia membuka pintu kamar dan ternyata nyatu ada Fajar disana.


"Barang belanjaanmu semua di Kirim ke rumah Abah?" tanya pria itu yang sudah mau dekat dekat tapi di tahan oleh Shena.


"Iya, kenapa?"


"Gak apa-apa, yakin gak mau tinggal di sini?" tanya Fajar lagi, pembahasan semalam pun terulang.


"Dimana aja juga sama. Disini gak ngapa ngapain disana gak ngapa ngapain," jawab Shena dengan entengnya. Tapi, semua tentu benar karna tak ada yang di lakukan gadis itu apalagi di rumah utama.


"Hem, baiklah. Terserah kamu. Atau kita mau tinggal berdua? yuk cari rumah," ajak Fajar.


Heh... udah kaya ngajak beli teh gelas aja!!


"Gak! aku mau sama Enin," tolak nya tetap kekeuh ingin bersama wanita baya itu saja.


Fajar tergelak sendiri saat ia di tinggalkan oleh Shena lebih dulu kearah tangga, tapi ia tentu tinggal diam karna sekian detik kemudian Fajar menyusul lalu merangkul bahu gadis itu sampai dimana anggota keluarga sudah berkumpul untuk makan malam.


"Dung-Dung," ledek Lintang pelan tapi terdengar oleh Shena.


"Preeeeeeeet," sambung El sambil cekikikan sendiri.


"Jadinya? Dung-Dung preeeet..."seru dua pria tersebut, yang satu kuncen akhirat dan yang satu penjaga gerbang Neraka.


Yang lain bukan tak mendengar, tapi memang sedang berusaha tak mendengar karna percuma saja semua akan masuk kuping kiri lalu keluar kuping kanan. Begitu pun dengan Shena, ia yang sedang mati matia menahah geram dalam hati hanya bisa menatap Lintang dan El dengan tatapan tajam.


"Apa? colok nih matanya sama tulang ayam," ejek si bungsu, semakin Shena merengut tentu hatinya semakin bersorak senang.


"Sekalian nih, bibirnya di kuncir sama karet bungkus nasi goreng," sambung Si anak kecil yang pastinya tak mau kalah juga.


Keduanya tergelak bersama karna Shena begitu sangat menggemaskan bagi dua pria itu, jangankan bagi Lintang, karna bagi El saja Shena memang jauh lebih muda darinya, tak salah jika jadi bahan ledekan terus menerus.


Tak ingin membuat kerusuhan, Shena tetap menikmati makan malamnya dengan lahap sampai kenyang, tapi bukan berarti otaknya diam, ia justru sedang berpikir bagaimana caranya membalas dua manusia menyebalkan seperti Lintang dan El.


Usai makan malam, semua pindah tempat berkumpul yang pasti senyamannya ingin dimana. Ada yang di ruang keluarga, tengah, bahkan Gazebo halaman samping atau tepi kolam renang. Mereka memang benar-benar memanfaatkan kebersamaaan selagi ada waktu senggang sembari melepas lelah setelah satu hari melewati banyak aktifitas.


"Si Aa tumben sendirian, JanCil nya kemana?" tanya Lintang yang menghampiri kakak kembarnya itu di teras depan rumah bersama dengan El.


"Gak ada," sahut Si tengah tanpa menoleh, tatapan matanya tetap fokus pada layar ponsel yang sedang ia pegang.


"Kemana? udah tidur?" tanya El.


"Bukan, lagi pergi."


"Ke--?" kini Si duo rusuh kompak melayangkan pertanyaan yang sama.


.


.


.


Taman jajan sama Phiu.....


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Mampus!!


Phiunya di culik 😂😂😂 jadi gak bisa etek nanan sama etek Lili...


Jangan dulu di bawa pulang ya Hiunya, Shen.


Suruh utel utel dulu ampe mabok 🤣🤣