Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 100


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Terima kasih untuk semua LIKE dan KOMENTAR nya, maaf jika ada beberapa yang kurang berkenan dengan karakter Shena di sini, bisa di SKIP gak apa apa kok kalau tak sesuai selera kalian! Saya gak pernah tau apa yang kalian mau, karna saya menyuguhkan cerita menurut yang ada dalam pikiran saya yang kadang itu terjadi spontan. Suka tak sukanya tentu memang dari penilaian kalian masing-masing. Dirasa menurut saya normal, nyatanya mungkin tak masuk di akal untuk kalian. Karna untuk sesuatu yang saya buat dan saya berikan tentu pasti ada celah salahnya.


Untuk itu saya mohon maaf, tapi Shena tetap Shena. Kalau bukan saya yang bela Shena, siapa lagi? πŸ˜”πŸ₯ΊπŸ˜’


\#\#\#\#\#\#\#\#\#


"Tenang A', Bubu Cuma mau cium bibir Aa aja tuh yang nakal karna udah curhat curhat ke perempuan lain!" ucapnya kesal.


"Enak aja, masa iya di cium anak Macan!" tolak Fajar yang masih meringis karna Bubu masih diatas pangkuannya.


"Enak tau, Hiu aja di jiLAaat diem aja, malah ketawa ketawa," jawabnya yang masih berdiri di dekat meja kerja.


Fajar yang mendengar itupun lekas tak percaya, tak pernah ia dengar hal tersebut dari siapa pun termasuk dari Sang tuan besar sendiri. Jadi tak salah jika ekspresinya saat ini adalah menautkan kedua alisnya.


"Aa mau di jiLaAat apa di cium?" tawarnya lagi.


"Terimakasih banyak, Aa cuma mau kamu ambil Bubu sekarang ya," mohon Fajar yang tak berani mengangkat tubuh si anak Macan karna takut dengan cakarannya. Se lucu dan sekecil apapun Bubu ia tetap punya kuku panjang yang pasti bisa merobek bajunya.


"Aa payah," ledek Shena sambil meraih Bubu dari atas pangkuan sang suami.


Hewan berbulu putih tersebut di bawanya ke sofa, dan entah kenapa bayangan ia melihat Fajar dan Alina pun terlintas lagi. Rasanya bagai tercubit di bagian hatinya yang selama ini selalu bahagia cukup bersama dengan Fajar saja.


"A', Abah sama Enin udah pulang?"


"Lusa katanya, kenapa?" tanya balik Fajar yang baru saja memulai pekerjaannya.


"Kangen, memang gak bisa pulang sekarang?"


Fajar reflek menoleh dan ia langsung bisa melihat adanya kerinduan dari binar mata istrinya tersebut.


"Kurang tahu, semalam cuma bilang pulang lusa dan minta kita pulang kesana," jawab Fajar yang langsung merasa kasihan.


Ia tahu, dari sekian banyak penghuni rumah utama, Abah dan Enin tentu punya tempat tersendiri dalam hati Shena sebab keduanya sejak awal sudah di anggap orang tua terutama Enin.


"Di susulin gak bisa?"


"Hem, Aa tanya Niha dulu ya, kalau bisa kita kesana," sahutnya yang juga masih ragu makanya belum bisa memastikan.


Bukan sangat memanjakan, tapi sebagai Cucu ia pun tentu rindu pada Abah dan Enin, dan ajakan Shena barusan seolah menguatkan rasa rindu tersebut. Siapa pun, entah istri maupun suami pasti akan bahagia saat Keluarganya bisa di Terima baik oleh pasangan, begitu juga sebaliknya.


.


.


.


Lama bernegosiasi dengan Niha lewat panggilan telepon, Fajar sama sekali tak bisa meninggalkan pekerjaan nya itu, mau tak mau mereya harus sabar menunggu sampai lusa.


Dan mengobrol lewat video call tentu masih jalan alternatif bagi mereka yang Saling merindu, meski tetap tak terobati tapi cukup sedikit mengikis rasa tersebut.


"Kita makan dulu ya." Fajar yang berjalan kearah sofa langsung menyiapkan makan siang yang barusan di bawa sekertaris PresDir.


"Apa? mau nasi ketek?"


Shena pun menggelengkan kepalanya, ia bangun dan berlari kearah wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.


Melihat itu Fajar tentu panik dan menyusul, ia pijat pelan tengkuk istrinya agar semua bisa di keluarkan.


"Mual banget liat mie, A'," jawab Shena yang kembali membungkuk kan seenaknya tubuhnya.


"Mual liat mie? itu mie goreng bisa, Sayang."


Shena menggelengkan kepalanya, karna yang di lihatnya barusan bukan mie yang seperti biasanya ia makan hampir setiap hari, tapi lain hal yang langsung membuat perutnya serasa teraduk aduk.


"Ayo, kembali ke sofa, Aa ambilkan air hangat agar mualmu reda."


Di sofa panjang, Shena duduk bersandar dengan tubuh yang lemas, dan itu cukup di maklumin sebab apa sudah masuk kedalam perutnya di keluarkan lagi secara paksa.


"Minum dulu, Sayang."


Shena mengambilnya dengan tangan kanan yang lemas, mungkin jika tak di bantu oleh sang suami gelas itu akan jatuh.


"Pelan-pelan, tapi habiskan jangan sampai kamu dehidrasi."


Shena mengangguk, tapi yang ia rasakan justru semakin mual serasa semua yang ada didalam perutnya di dorong untuk di keluarkan lagi .


Melihat istrinya seperti itu tentu membuat Fajar panik, tak hanya sang suami karna Bubu pun seolah paham sampai ia harus usel usel di kaki Shena.


"Apa? diem ya, Bubu." Dengan rasa yang yang tak bisa ia jabarkan, Shena masih bisa tersenyum sambil mengusap kepala Si anak Macan.


"Aku panggilkan dokter ya, atau mau pulang?" tawar Fajar yang tak tega karna keringat sebesar biji jagung mulai membanjiri kening Shena.


"Enggak, aku gak apa-apa, cuma kok aneh ya. Rasanya perut aku gak enak banget," ucap Shena sambil memperlihatkan bagian tangan yang bulu halusnya meremang.


"Kamu masuk angin mungkin, Aa olesin minyak ya." Fajar langsung bangun dari duduk lalu berjalan kearah salah satu rak berisi beberapa laci, ia ambil satu kotak yang ternyata tempat obat yang dulu pernah ia gunakan untuk mengobati bibir Alina.


Dengan cekatan dan penuh perasaan, Fajar menyingkap baju atasan sang istri untuk di oleskan minyak angin agar lebih hangat dan juga mengurangi rasa mualnya.


"A', " panggil Shena.


"Hem, kenapa??"


"Kalau bang Tagor keluar dari penjara gimana? dia bakal cari aku gak?" tanya Shena, ia mendapatkan apa tak pernah ia Terima dari suami pertamanya.


Fajar yang mendengar hal tersebut langsung mendongakkan Kepalanya hingga tatapan mata mereka bertemu.


"Masih lama banget, Sayang. Lagi pula aku gak akan biarkan itu terjadi, Si Batagor itu tak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi," jawab Fajar sambil meyakinkan jika semua baik baik saja.


Shena hanya tersenyum kecil, lalu tergelak saat Fajar bukan lagi mengoles tapi meraba perut rata Shena. Suami mana pun akan terangSaanG jika sudah di perlihatkan bagian tubuh yang sangat menarik itu.


"Aa mau ngapain?" tanya Shena saat tubuhnya di rebahkan.


"Main bentar yuk, mendadak pengen," pinta Fajar sambil menurunkan resleting celananya.


"Jangan!" pekik Shena.


"Kenapa, Sayang? udah tegang nih!"


.


.


.


Kalau disini, yang ada bukan di jepit aku tapi justru di GIGIT Bubu....