
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Satu hari yang begitu berat sudah di lewati pasangan suami istri itu dengan penuh drama dan rasa. Mulai dari kecewa, sedih, khawatir dan juga sakit kepala atas dan bawah tapi itu khusus untuk Fajar saja.
"Terima kasih ya, Sayang. Aku tahu kamu cemburu dan itu membuatku yakin jika kamu mencintaiku, Senandung." Fajar mengusap pipi istrinya yang kini sudah terlelap dalam pelukannya.
Meski mereka masih dalam keadaan polos, namun bukan berarti keduanya usai melakukan hal yang menyenangkan. Fajar memilih memeluk Shena yang masih berusaha menjabarkan perasaannya yang kurang ia pahami.
Tak pernah jatuh cinta, dan sekalinya bertemu jodoh langsung di Ratu kan tentu membuat Shena tak punya pikiran macam macam selama dekat dengan Fajar yang kini menjadi suaminya.
"Aa belum tidur?" tanya Shena, suaranya yang serak membuat Fajar gemas pada wanita halalnya tersebut.
"Belum, lagi jagain Shena," jawab Fajar sambil mengeratkan. Tak ada alasan untuk ia tak suka keadaan ini.
"Kenapa di jagain? Shena kan gak demam."
"Hem, gak apa apa, Cuma lagi pengen jagain aja," sahutnya yang kemudian mencium kening sang istri.
"Besok kita jalan jalan yuk," ajak Shena dan itu membuat Fajar menautkan kedua alis tebalnya. Ini jarang terjadi meski pun Shena ingin jalan-jalan tapi itu tak pernah ke tempat yang jauh.
"Tumben, mau kemana?"
"Beli kalung buat Bubu, boleh ya."
"Bubu? oh ya, kapan mau di pulangin?" tanya Fajar yang baru ingat hal tersebut karna sempat di bahas juga kemarij malam bersama Phiu.
"Gak tahu. Nanti aja. Jangan sekarang, aku masih mau main main."
"Kalau kelamaan nanti kamu makin sayang dan susah untuk lepas, ganti pilihara yang lain aja ya," kata Fajar yang sebenarnya selama ini khawatir dengan keselamatan Shena jika sudah berada di kandang anak Macan.
"Pelihara apa? ayam boleh? Shena mau jadi peternak ayam deh," jawabnya sambil tertawa padahal kesadarannya belum semua terkumpul.
"Boleh, lebih bermanfaat itu." Keduanya pun tertawa bersama sambil membayangkan rumah utama yang bukan hanya ada manusia di dalamnya, tapi hewan dan juga para leluhur yang kadang tak terasa memberi tahu hadirnya.
.
.
.
"Pagi, Sayang," sapa Bubun pada menantu keduanya.
"Pagi, Bun. Aku mau bikin susu coklat."
Shena yang baru mau kearah rak tiba-tiba di cegah, ia di minta duduk saja di kursi meja makan dan biarkan ART yang membuatnya nanti.
Tapi Shena menolak, ia tetap melanjutkan langkahnya untuk membuat apa yang ia mau. Bubun melirik kearah Mhiu dan wanita itu hanya sedikit mengangkat bahunya.
Bubun hanya aneh karna menantunya yang paling kecil itu tak pernah ingin susu, Shena cukup dengan hanya air putih dan teh tanpa gula ( Tawar)
"Loh, kamu mau apa?" tanya Bubun yang kaget saat Shena membuka lemari pendingin.
"Ambil batu es buat susu," jawab Shena.
"Ini masih pagi, Shena!" Mhiu yang mendengar itupun lekas menghampiri cucu mantunya yang selalu saja tak bisa di tebak.
"Tapi mau, Shena haus."
"Susu hangat aja ya, biar Mhiu yang buatkan untukmu," titah Nyonya besar Rahardian dan itu tak bisa di bantah oleh Shena maupun yang lain.
Shena duduk di samping Bubun yang menatap aneh menantunya, sampai Shena pun melakukan hal yang sama pada wanita beranak tiga tersebut.
"Kamu memang abis ngapain, jam segini udah haus?" tanya Nyonya besar Lee yang jiwa penasarannya sedang meronta ronta.
.
.
.
Habis balas dendam tanpa menyentuh..