Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 68


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Pamitnya Abah dan Enin dari rumah utama tentu membuat Shena sedih, bahkan ia meminta untuk ikut namun sang suami menjanjikannya pulang akhir pekan ini. Masih ada yang harus mereka lakukan yaitu bulan madu.


"Jangan cemberut, Sayang. Aku sakit kepala bawah liat kamu kaya gini," kata Fajar istrinya yang masih merengut kesal.


"Pergi sana," usir Shena yang malah mendapat Pamitnya Abah dan Enin dari rumah utama tentu membuat Shena sedih, bahkan ia meminta untuk ikut namun sang suami menjanjikannya pulang akhir pekan ini. Masih ada yang harus mereka lakukan yaitu bulan madu.


"Jangan cemberut, Sayang. Aku sakit kepala bawah liat kamu kaya gini," kata Fajar istrinya yang masih merengut kesal.


"Pergi sana," usir Shena yang malah mendapat pelukan dan ciuman di seluruh wajahnya.


Tak ada yang tak lucu dari Shena dari di setiap ekspresinya. Ia selalu menggemaskan sampai harus membuat Fajar terus jatuh cinta di setiap detik yang meereka lewati bersama.


"Aku betah di kamu, gak mau jauh jauh," goda pria itu lagi yang semakin menempel, ia sedang menikmai waktu bersamanya dengan sang istri sebelum akhirnya harus sibuk kembali di kantor. Fajar tak bisa membayangkan bagaimana beratnya berpisah dan sesaknya menahan rindu karna mereka sudah terbiasa berdua.


"Jadi gak jalan jalan?"


"Ini masih sore, pasar malemnya belum buka," sahut Shena yang di janjikan keluar rumah malam ini.


"Kan judulnya jalan jalan, Sayang."


"Idh, muterin rumah utama aja aku udah capeeeeee banget, bisa gak sih rumahnya di kecilin?" tanya Shena yang kadang jika sudah di atas malas ke bawah dan jika sudah di bawah rasanya malas ke atas lagi , sedangkan untuk naik lift perasaannya selalu tak enak hati sebab tahu jika kotak kaca itu bukan benda sembarangan, ada ceritanya sendiri jadi tak salah jika sangat d jaga.


"Aku punya beberapa rumah dan Apertemen, apa kita kesana untuk lihat satu persatu sesuai maumu yang mana, atau jika tak ada yang cocok, kita bisa beli baru ," tawar Fajar yang ingin memberikan istananya sendiri untuk sang istri.


"Aa tuh orang kayanya pake banget ya?" tanya Shena yang akhirnya penasaran juga padahal selama ini ia tak pernah perduli akan hal itu sebab sudah bissa makan teratur sehari 3 kali.


Bicara soal harta tentu manusia tak akan pernah ada puasnya, sudah punya ini tentu ingin itu, sudah punya keduanya ingin tiga, empat, bahkan seterusnya.


"Aa yakin, mau beliin maunya aku?" tanya Shena memastikan jika itu buka rayuan semata


"Iya, memang kamu mau apa?" tanya balik Fajar, hatinya berdebar bukan takut Shena minta barang mahal karna itu tak akan pernah mungkin untuknya saat ini, entah tapi jika para pawang Rahardian terus meracuninya.


"Tapi janji mau di beliin gak?"


"Iya selagi di jual, Sayang."


Shena malah terkekeh, ia ingin tapi masih takut karn atak yakin suaminya akan mau menuruti maunya itiu.


"Kok ketawa? Ayo bilang Shena mau apa?" melihat ekspresi istrinya tentu membuat pria tampan itu penasaran.


"Aku mau anak macan putih," jawab Shena.


"Buat apa?"


.


.


.


Buat ngejar-ngejar Lilin Ngepet sama Kutu Kupret