
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Tuan besar Rahardian yang baru datang ke halaman samping rumah utama langsung duduk di sebelah menantu laki lakinya, mereka yang tahu jika ada hal yang akan di bahas pun langsung membenarkan posisi masing-masing.
"Kamu jadi, lusa mencari Ayahnya Shena?" tanya Phiu yang kebetulan ada Abah Rendra juga disana.
"Jadi, Phiu tau kan orangnya dimana?" tanya Ayah Keanu sambil tersenyum simpul, ia tahu jika tak mungkin mertuanya itu tak tahu apa-apa.
"Hem, nanti Phiu berikan alamatnya."
"Terimakasih, Phiu. Semoga mereka bisa segera di halalkan, karna makin lama makin meresahkan," ucap Ayah Keanu lagi.
"Anak siapa?" tanya adik iparnya, Si bapak Miong.
"Noh, cucunya Abi," tunjuknya pada Abah Rendra.
Uhuk... uhuk.. uhuk..
Pria baya yang kebetulan sedang menyesap minumannya terbatuk batuk saat semua mata tertuju padanya, perhatian yang Fajar tunjukan memang lain, ia pelan tapi pasti tak banyak drama seperti kedua saudaranya yang lain yang kadang heboh sendiri.
Jika Flashback kepada kisah cinta Abi Rendra, tentu semua tahu bagaimana sabarnya pria itu saat menikahi gadis berumur 17tahun yang bahkan belum lulus SMA. Ya, ia adalah Umma Cheryl yang kabur karna mendapat pelecehan dari para lelaki yang bebas keluar masuk di rumahnya, semua itu tak lain dan tak bukan kekasih dari Sang Mama sendiri.
"Ayahnya Shena galak gak sih??" tanya Ayah yang tahu siapa pria yang akan di datanginya itu.
"Kalau takut, dibawa Hiu nya, Bang." Rain tertawa di balik punggung Phiunya, mumpung tak ada Si kuncen Akhirat, Pikirnya!
"Nah, bener tuh," kompor meleduk pun mulai beraksi yang kali ini sahutan dari Skala.
"Cih, males banget harus bawa tuh orang ke laut lepas. Mending pinjem si MariMar, iya gak?" kata Ayah Keanu pada Heaven dengan menaik turunkan alisnya.
"Enak aja!"
Lagi dan lagi, jika sudah berkumpul pembahasan serius akan selalu melenceng kemana-mana sampai hal intinya justru jauh di lupakan begitu saja.
"Mau pergi sama siapa kesana?" tanya Phiu yang ingin kembali ke inti pembahasan awal.
"Rain, kalau sama ArXy emosian orangnya," jawab Ayah Keanu sambil tertawa.
"Ya elah, pergi sama Bapak Miong ke area pasar yang ada dia pulang bawa anak angkat banyak," ledek Skala tak kalah kencang tawanya.
"Lah, iya ya. Rain kan paling gak bisa liat kucing keluyuran."
"Bum kan baik hati dan tidak sombong, selain berprikemanusiaan Bum juga Berprikekucingan!" tegasnya dengan bangga karna sampai saat ini ia dan Rindu tetap menjadi orang tua angkat dari ratusan hewan berbulu itu.
Lain di halaman samping tentu lain juga di kamar Si tengah. Ia yang berniat akan istirahat usai makan siang nyatanya malah asik bercanda dengan Shena.
"Cepetan, mau tidur gak?"
"Enggak, gak ngantuk," jawab Fajar yang setelah menggit Shena ia menarik gadis itu ke sofa lalu ia meletakkan kepalanya di atas paha Shena.
"Ya udah, kalau gitu aku mau keluar."
"Enggak, disini aja." Fajar melipat tangan di dada lalu memejamkan mata, bodohnya ia jadi tak melihat jika Shena tersenyum barusan.
Tangan Shena yang di pakai mengusap kepala Fajar sangat di nikmati oleh pria itu, ia masih belum tidur meski perlahan rasa kantuk itu datang .
"A', Aa jadi mau nikahin aku?" tanya Shena.
Tentu, pertanyaan itu membuat Kedua mata Fajar langsung terbuka. Tak hanya itu, nyatanya ia juga langsung bangun dari baringnya.
Fajar tak tahu jika kedua orang tuanya sudah mendatangkan seorang Psikiater selama ia di rawat kemarin, semua itu tentu hanya untuk kebahagiaan Sang putra. Karna rasanya perasaan Bubun dan Ayah akan tenang jika satu lagi anak mereka sudah menikah. Tak perduli siapa Shena dan apa status juga latar belakangnya yang terpenting saling terbuka, menghargai dan mencinta.
"Kamu-- kamu nanya itu kenapa?" bagi Fajar, mereka sudah bisa sedekat ini saja sudah sangat sangat bersyukur sampai tak ingin lagi membahas pernikahan tapi nyatanya Shena yang memulai duluan.
"Aku cuma mau tahu, ajakan itu masih berlaku atau enggak untukku?" tanya Shena, tak ada ekspresi malu malu karna itu membuat Fajar sedikit ragu.
"Aku siap menikahimu kapanpun itu waktunya, lusa Ayah akan menemui Ayahmu."
"Buat apa? Ayah gak akan perduli padaku," balas Shena yang langsung terlihat sedih, ia punya Ayah tapi tak pernah merasakan kasih sayang sosok itu. Bahkan, apa yang ia inginkan kini ia dapat dari Abah, Ayah dan Phiu.
"Jangan bicara begitu, pernikahan kita harus ada Ayahmu yang menjadi walinya," kata Fajar memberi kejelasan tentang syarat pernikahan yang di anggap SAH oleh agama dan negara.
"Nanti Ayah marah padaku kalau tau aku sudah pergi dari Bang Tagor."
Isakan kecil yang terdengar dari Shena membuat gadis itu langsung ditarik masuk kedalam pelukan Fajar. Ia tenangkan gadis itu dan di yakinkan jika semua akan baik baik saja.
"Jika kamu mau, kamu tak perlu bertemu, cukup dia datang ke pernikahan kita menjadi wali saja, bagaiamana?" tanya Fajar, semua itu tentu hanya karna ingin membut Shena merasa aman dulu.
"Iya, aku takut A', aku takut di lempar lagi pakai barang."
"Sssst, semua itu tak akan terjadi lagi padamu, Sayang. Percaya padaku."
Semakin erat pelukan yang di berikan Fajar, semakin sedih juga tangis Shena sampai rasanya jika semua ini mimpi ia tak ingin bangun karna semua terlalu indah dan menyenangkan.
"Jangan pulangin Shena kesana lagi ya, Pokonya mau disini aja sama Aa, gak apa di gigitin trus juga," ucapnya di sela isak tangis.
"Kalau udah halal, justru kamu gantian yang nanti gigit, Sayang," jawab Fajar yang sedang menahan tawanya karna gemas.
"Enggak, Shena gak mau bales, mau di gigit aja gak mau gigit," tolak nya yang tentu tak paham.
"Tapi emang nanti itu kerjaan kamu, menggigit dan menghimpit," kekeh Fajar lagi yang akhirnya tawa pria itupun pecah juga.
Ngomong apa sih A'???
Lusa yang di rencanakan tiba, Ayah Keanu mulai bersiap pergi ke kota asal calon menantunya itu usai sarapan nanti agar bisa pulang pergi dalam satu hari saja.
"Hati-hati ya, Bang, kok aku ngeri sih," pesan Bubun yang setelah membantu merapihkan pakaian suaminya ia langsung berhambur memeluk pria itu.
"Tak ada yang harus kamu khawatir kan, Buy. Aku dan Rain datang dengan maksud baik," jawab Ayah yang paham dengan perasaan istrinya.
"Hem, tapi dia itu preman pasar loh, Bang."
"Preman pasar akan kalah dengan pasukan Gajah, Sayang." kekehnya yang memang tahu jika keluarga Rahardian punya pengawalnya sendiri sendiri.
"Ya, semoga semua lancar. Aku ingin yang terbaik untuk Aa, setidaknya aku lega jika semua sudah menikah."
Ayah langsung menangkup wajah istri cantiknya itu dengan kedua tangan, di ciumnya kening, pipi dan terakhir bibir meski sekilas.
"Kenapa? biar komplit ya kalau Shoping?" goda Ayah.
"Ish, tau aja Si kadal Jantan," sahut Bubun dengan malu malu.
Bintang dan Rinjani yang sudah biasa hidup mewah tak ada tantangan tersendiri bagi ibu mertua modelan Ratu Shoping seperti Embun. Sedangkan jika membawa Shena jiwa kalap nya bisa beribu ribu kali lipat, rasa sukanya pada satu barang bisa ia limpahkan pada calon mantunya itu nanti.
Dan, di ruang makan kini semuanya sudah berkumpul, mereka menikmati sarapan pagi dengan berbagai menu yang tersaji di atas meja makan, tinggal pilih mana yang membuat berselera.
"Sudah cukup sarapan ku, bisakah kita bisa pergi sekarang, Bum?"
"Hem, siap!" jawab putra mahkota Rahardian Wijaya.
Banyak pesan yang di katakan oleh Phiu termasuk jangan terlalu gegabah dalam mengambil sikap nantinya, karna yang di hadapi kali ini tentu bukan orang orang yang biasa mereka hadapi yaitu para pengusaha dalam bersaing di rumah meeting. Tapi yang akan mereka datangi sekarang seorang preman pasar yang biasa main keroyokan dan tenaga dalam menyelesaikan segala masalah.
"Phiu tenang aja, Pasukan Gajahnya udah aman dong?" kekeh Si bungsu.
"Aman, kalian pulang di jamin pasti masih lengkap," jawab Sang Tuan besar pada putranya yang sempat menjadi musuh selama 2 tahun.
Ayah dan Rain di antar oleh para istri mereka sampai ke depan mobil yang sudah di siapkan oleh supir karna di antara mereka tak ada yang mau mengemudi dengan berbagai alasan.
"Hati-hati dijalan ya, Yah," ujar Bubun yang di jawab anggukan serta ciuman, hal yang sama pun di lakukan oleh Rindu pada suaminya juga.
"Kalau ada kucing gabut, bawa aja ya," bisik calon Nyonya besar di telinga Rain.
"Siap, Sayang."
"Gak usah macem-macem! emang Abang gak denger, hah?!" timpal Ayah Keanu yang masuk duluan kedalam mobil.
Setelah memastikan kedua pria itu sudah berjalan meninggalkan rumah utama, Bubun dan Rindu kembali untuk melakukan aktivas masing-masing.
"Bun, Shena mau antar Abah pulang ya," izinnya pada Sang calon ibu mertua.
"Loh, memang Abi dan Umma mau pulang sekarang?" tanya wanita itu yang langsung menghampiri mertuanya di halaman belakang bersama Mhiu juga Phiu.
"Ish, kok aku di tinggal!" keluhnya kesal yang berada di tengah-tengah ruangan yang besarnya bagai lapangan.
"Terus aku mau kemana ini?" lanjutnya lagi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Semua sibuk dengan kegiatan masing masing hingga Shena bingung harus apa setiap pagi.
Doooooooor...
"Chio nih, anak ganteng," jelasnya saat melihat Shena sedang nampak berpikir.
"Si tukang tidur?"
"Cih, siapa tuh yang bilang?" tanya Si tampan keturunan anak bawang.
"Semua bilang gitu, kamu itu Si tukang tidur, di mana mana tidur terus!" cetus Shena. Rasa-rasanya memang yang waras itu hanya Fajar, karna yang hampir semua menyebalkan.
"Ya kalau gak tidur ngapain? mumpung mimpi itu gratis," jawabnya sambil melengos pergi dan sudah bisa di tebak jika pemuda yang gak lain adalah adik sepupu Si Demoy akan masuk kedalam kamarnya.
Shena membuang napas kasar, ia melanjutkan langkahnya menuju halaman belakang untuk menyusul Bubun yang tadi mau menemui Abah dan Enin.
"Shena, kamu mau ikut pulang?" tanya Enin saat gadis itu mendekat.
"Iya, kalau Enin pulang Shena juga mau pulang."
"Tapi Aa masih belum sehat, apa kamu gak disini saja temani Aa dulu?"
Shena menggelengkan kepala, ia tetap ingin ikut pulang karna jauh kasihan pada Enin. Fajar tentu banyak yang merawat dan menemani tapi Enin?
jika Abah pergi ada urusan lain, wanita baya itu akan sendiri di rumah, itulah yang membuat Shena jauh lebih berat meninggalkan Enin di banding Fajar.
"Ya sudah, tak apa apa, selagi semua belum beres biarkan Shena dan Fajar menikmati rindu."
"Ide bagus, biar gak makin lecet nih anak orang di gigitin terus," sahut Bubun yang tahu jika kini putranya sudah berubah menjelma sebagai Vampir.
Dan pernyataan itu mengundang gelak tawa karna Shena terlihat malu malu hingga merona kedua pipinya.
Gak apa-apa, Bun. Kata Aa kalau udah nikah Shena bisa bales pake Jepit himpit...