Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 137


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Sambil menunggu Shena bangun dari tidur lelapnya, Fajar justru memilih melakukan video call dengan Bubun untuk melihat dan tahu apa yang sedang di lakukan oleh si kembar saat ini, rasa rindu sudah seperti setinggi gunung karna ini untuk pertama kalinya mereka berpisah untuk beberapa waktu ke depan. Pasangan suami istri tersebut memang tak punya rencana akan pulang kapan, Fajar akan mengikuti saja apa yang di mau Shena karna ini memang liburan untuknya.


"XaRa kan emang agak rewel, Bun," ucap Fajar yang bertatap langsung dengan ZaRa, si sulung yang begitu sangat menggemaskan karna jauh lebih aktif dan tak mau diam.


"Iya, lagi gantian ngasuh, banyak kakaknya biarin aja," jawab Bubun yang sedang terkekeh.


Niat hati ingin menidurkan si kembar, pasukannya malah datang beramai ramai ke dalam kamar yang sialnya belum sempat di kunci.


"Hem, iya. Aku titip mereka ya, Bun.".


" Jangan khawatir, fokus perhatianmu pada Shena. Dia sedang butuh kamu saat ini, biarkan dia lepas sejenak dari rutinitas yang itu itu saja setiap hari. Kita semua tahu, ia tak pernah butuh uang selama ini, cukup di temani dan di dengar Shena merasa hidupnya berharga," pesan Bubun yang tak pernah pilih kasih pada semua keturunan.


Bukan tak pernah, Bubun juga sesekali di buat kesal tapi amarah tak menyelesaikan masalah, duduk berdua dan bicara dari hati sambil bertatap mata itu jauh lebih efektif. Jangan sampai semua kebaikan yang di lakukan wanita itu hilang di mata hati para menantu hanya karna satu bentakan emosi.


"Iya, memang itu niatku. Aku masih sangat merasa bersalah sekali."


"Salah paham itu wajar, kamu pun tak selalu baik di mata orang lain, ada kala nya pasti membuat kecewa meski kamu merasa itu adalah hal sepele untuk di d perdebatkan, sudah kodratnya wanita ingin di lindungi karna ia adalah tulang rusuk pasangannya." tegas Bubun yang kembali di iyakan oleh Fajar.


Riuh dan ramainya di dalam kamar akhirnya membuat ZaRa menangis, ia yang sudah mengantuk tentu tak ingin berlama lama dalam posisi duduk diatas pangkuan Bubun.


Dan itu, membuat sambungan telepon akhirnya mau tak mau selesai yang ke betulan berbarengan dengan bangunnya Shena.


"Iya, Aa di sini," jawab Fajar yang langsung menghampiri sang istri di ranjang, ia letakkan ponselnya diatas meja agar tak ada yang menganggu waktunya bersama dengan Shena.


"Kirain Aa ikut tidur," ucapnya yang langsung masuk kedalam pelukan sang suami, tempat satu satunya yang membuat Shena selalu aman dan nyaman.


Kemarin ia sempat sedih karna kemana pun ia pergi dan seramai apapun tempat yang di kunjungi, jika tak bersama suami nya ia akan tetap merasa kebingungan, sebab hanya Fajar yang bisa dan mampu menjamin kebahagiaannya.


"Tadi habis telepon Bubun, video call juga sama si kembar," jawab Fajar yang langsung mrmbuat Shena mendongak, wajahnya berubah lesu saat si kembar di sebut oleh suaminya barusan.


"Kangen mereka, A', biasanya aku lagi ASI in ZaRa dan XaRa," ungkap Shena sedih saat ingat kebiasaannya selama 7 bulan ini.


"Kita disini liburan, Sayang. Gak apa apa ya, Si kembar sama Bubun dulu," ucap Fajar menenangkan


"Iya, tapi dadaku mulai nyeri, gimana?"


.


.


.


Tenang, kan ada kang PIJIT profesional...