Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 49


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Tiga hari berada di rumah sakit, akhirnya Fajar kini bisa di jenguk oleh pihak keluarga karna saat pertama kali sadar team dokter meminta Tuan mudanya itu untuk fokus lebih dulu pada pemeriksaan dan istirahat, setelah berangsur membaik barulah ia di perbolehkan berinteraksi dengan orang-orang.


Shena, ia yang datang paling akhir justru paling di tunggu oleh Fajar, meski ia tak bertanya tapi semua orang tahu jika ada yang sedang dicarinya saat semua orang justru sedang berkumpul.


"Kamu baru datang?" tanya Fajar yang suaranya mulai lemas tapi ada senyum tersungging di ujung bibirnya.


"Maaf--, gak apa-apa kan? dari pada enggak datang sama sekali," jawabnya masih menunduk.


"Hem, iya. Tapi ini sudah malam, Shena."


"Sssst, jangan berisik. Ini tuh sengaja." Shena meletakkan satu jarinya di bibir agar pria yang sedang terbaring itu diam tak banyak bicara.


Dengan dahi mengernyit karna tak paham, Fajar pun menurut saja. Terserah apapun yang akan di lakukan gadis itu yang terpenting kini ia sudah ada di rumah sakit.


"Shena sejak pagi sakit perut, sudah minum obat dan yang lainnya. Makanya ia baru datang sekarang tak jadi ikut dengan yang lain," jelas Bintang yang mengantar Shena ke rumah sakit.


"Kamu sakit?" tanya Fajar yang pastinya langsung cemas.


"Hem, tapi itu tadi pagi. Sekarang udah enggak, A'," jawab Shena sambil tersenyum simpul, beberapa hari tak bertemu nyatanya ia semakin cantik.


Tatapan mata Shena sungguh lekat namun tak mengurangi kesenduannya sampai Fajar tak ingin sedetik pun berpaling dari gadis itu.


"Kamu yakin mau nunggu disini?" tanya Bintang memastikan keinginan Shena.


"Iya, biar aku yang jagain Aa malam ini, Kak Bee jangan khawatir ya," jawab Shena, ia menutup wajah malunya saat Bintang tersenyum penuh arti.


Akankah si pawang Buaya cilik tahu dengan sandiwaranya pagi tadi?


"Ya sudah, kakak pulang kalau begitu. Nanti kakak bilang Abang kalau tak perlu kemari jaga Aa," pamitnya yang di jawab anggukan kepala oleh Shena.


Bagi Bintang, andai mereka berjodoh tentu Shena tak hanya menjadi adik iparnya seperti Rinjani tapi ia sudah menganggap Shena seperti adiknya sendiri yang manja karna jarak 10 tahun membuat Bintang layaknya seorang kakak sungguhan, karna dengan pawang Kuncen Akhirat mereka hanya berbeda bebera bulan saja, jadilah kedua menantu Lee Rahardian itu layaknya sahabat, tak ada yang bisa Bintang manja sebab Rinjani si sulung yang dewasa dan mandiri.


"Jaga Aa baik baik ya, hubungi kakak atau siapa pun jika terjadi dan ingin sesuatu ya," pesan Bintang sebelum ia benar-benar keluar dari ruang rawat inap adik iparnya itu.


Shena mengantar Bintang sampai depan pintu yang dimana ada empat pasukan gajah yang berjaga.


Setelah memastikan Bintang pergi, Shena masuk kembali ke dalam, ia kaget saat Fajar berusaha ingin bangun dan duduk.


"Aa--, mau apa?" Shena sedikit berteriak saat mendekat lagi kearah ranjang.


"Aku mau duduk, Shena. Punggungku pegal dan panas sekali rasanya," jawab Fajar sambil di bantu oleh Shena pastinya.


"Pelan-pelan, A'."


"kamu--, benar-benar sakit perut pagi tadi?" tanya Fajar yang masih khawatir padahal keadaannya sendiri saja tak jauh lebih baik.


"Hem, maaf. Aku bohong. Aku cuma gak mau datang saat pagi dan siang, aku maunya malam makanya aku pura-pura sakit perut."


"Shena! kenapa nakal?" Fajar benar-benar tak habis pikir meski dalam hatinya seolah ada ribuan kupu-kupu yang terbang.


"Maaf, Ih.."


.


.


.


Maaf katamu? sini Aa gigit....