
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Jalan kaki??!" tanya Fajar kaget.
Lagi dan lagi apa yang di inginkan Shena selalu di luar prediksi. Ia selalu menginginkan apa yang tak pernah terlintas di otak orang lain.
"Aa dan paham jalan jalan? apa mau lari lari? yuuuuk," ajak Shena yang langsung menarik tangan sang suami namun di tarik lagi.
"Gak! ke toko Aksesoris sana itu kurang lebih 30menit pakai mobil, kalau jalan mau berapa lama? dari sini ke gerbangnya aja jalan kaki 20 menit loh, Sayang." Fajar membayangkannya saja sudah lelah karna keluar dari rumah utama saja butuh waktu belum lagi ke tokonya.
"Aa gak mau?"
"Bukan gak mau, tapi gak bisa," sahut pria tampan.
"Gak bisa jalan??" tanya Shena yang kebingungan sambil melihat kedua kaki suaminya tersebut.
Fajar yang tahu apa yang ada di otak istrinya kini langsung di peluk sambil tertawa gemas. Ia ciumi pucuk kepala wanita itu yang pasti sudah berpikiran yang aneh aneh.
"Aa bisa jalan, cuma kan jauh. Nanti Shena cape, gimana?" tanya Fajar.
"Gendong Aa lah."
Akan panjang rasanya bila di teruskan dan akan ada hal hal lain yang menjadi kejutan tak terduga .
"Jadi, mau jalan jalan atau gendong?"
"Jalan deh jalan," jawab Fajar pasrah.
"Tapi kalau aku cape gendong ya," kekeh Shena dengan wajah menggemaskan.
Keduanya keluar dari rumah utama sambil bergandengan tangan, tak ada obrolan serius hanya ada ledekan dan tawa renyah dari sepasang suami isteri tersebut. Shena yang kadang berlari kecil membuat Fajar harus mengejarnya juga.
"Capeeeeeeeeee," teriak Shena yang baru sampai gerbang utama.
"Aa bilang juga apa," ledek Fajar, bahkan seumur hidupnya ini hal pertama yang ia lakukan, yaitu berjalan kaki.
"Aa bilang kalau aku cape mau gendong kaaaaaan?" Shena tertawa senang, ia yang hidup serba kurang dan sempit memang paling suka di tempat terbuka seperti ini, dengan alasan ibu bisa melihatnya dari atas langit sana.
"Kapan Aa bilang gitu?" cibir Fajar, ia pun lalu berterima kasih pada penjaga keamanan yang sudah membuka kan pintu gerbang kecil yang khusus orang saja.
Keduanya kembali saling menggenggam dan bercanda, menyusuri jalan yang tak terlalu ramai. Rumah utama bukan area komplek, ia benar-benar satu wilayah yang hanya ada bangunan itu saja. Jadi bisa di bayangkan, sejauh apa nanti mereka berjalan.
"Udah sampe belum?" tanya Shena.
"Masih jauh, Sayang."
"Aa kenapa gak bawa air sih? Shena kan haus," ucapnya yang merengut sambil ngos ngosan mencoba mengatur napas.
Kening Shena yang banjir keringat mulai di hapus oleh Fajar dengan tangannya sendiri, tak ada yang di bawa oleh pasangan itu kecuali Fajar yang membawa dompet dan ponsel saja.
"Kata Aa juga apa, ke tokonya naik mobil. Kalau jalan kaki pasti cape," jawab Fajar sambil memesan dua minuman kepada pelayan rumah utama, mereka yang belum jauh tentu masih bisa di jangkau oleh sepeda motor.
"Bosen, kaya gini kan enak. Keringetan sambil duduk di rumput," jawabnya.
Shena bukan tak pernah, justru ia sedang rindu saat saat seperti ini, jalan berdua atau sendiri yang kadang sambil berjualan atau memang tak punya uang lebih untuk ongkos, dan jalan kaki adalah solusinya. Semenjak kenal dan menjadi bagian keluarga Lee Rahardian tentu kehidupannya berbanding terbalik, naik turun mobil mewah sudah biasa ia lakukan dalam kegiatan sehari hari.
"Bilang dong kalau mau keringetan," ledek Fajar dengan tatapan mesum ala ala pria keturunan gajah.
Kali ini Shena langsung peka, tatapan tajam pun ia berikan pada suaminya yang tak kuasa menahan tawa. Wanita itu tak tahu saja jika sakitnya seperti apa jika sedang menahan hasrat. Dan si Mantan JanCiL sudah berhasil melakukannya semalam hingga serasa isi kepala suaminya itu mau pecah saat ada sesuatu yang tak bisa di salurkan.
"Selamat siang, Tuan."
"Terimakasih."
"Sama-sama, Tuan. Saya permisi," ucap Si pelayan tadi yang mundur beberapa langkah sebelum membalikkan badan.
"Tunggu," panggil Shena.
Fajar yang tak di panggil pun ikut menoleh saat mendengar suara istrinya, dahinya mengernyit dengan telinga yang sudah di buka lebar lebar siap mendengar apa lagi yang di inginkan wanita halalnya tersebut.
"Kita motor motoran yuk, A'," ajak Shena yang langsung menghampiri sepeda motor matic yang tadi di gunakan oleh Di pelayan saat mengantar minuman untuk kedua majikannya.
"Nah, ini baru bener," sahut Fajar yang mengusap dadanya lega.
Dari pada ia harus berjalan jauh, lebih baik naik motor. Belum lagi matahari yang kian tinggi kian terik juga panasnya.
Si pelayan yang bingung hanya bisa diam mematung melihat sepeda motor yang memang ada di rumah utama sudah di naiki oleh Nona mudanya.
"Pulang lah, ini untukmu," titah Fajar sambil mengeluarkan dua lembar uang dari dalam dompet, hitung hitung itu adalah upah Si pelayan jalan kaki ke rumah utama karna motornya akan di pakai ke toko penjual aksesoris hewan.
"Ba-- baik, Tuan." Si pelayan menjawab sambil mengusap tengkuknya sendiri, berat rasanya harus berjalan sejauh itu seorang diri.
Shena yang sudah ada di jok belakang bertepuk tangan kecil saat Fajar sudah duduk di depannya. Ia sungguh bahagia hari ini ia setelah melewati satu hari dengan pikiran dan hati kacau karna rasa cemburu melihat suaminya yang selama ini menjadi tempat berlindung menyentuh wanita lain.
"Aa bisa jalanin motornya kan?" tanya Shena yang tak pernah melihat pria itu mengendarai kendaraan roda dua. Kecuali Angkasa yang memang kadang pergi berdua dengan Bintang menggunakan motor gede atau motor sport.
"Bisa, kalau gak jalan kamu yang dorong ya," jawab Fajar sambil tergelak karna ia pun lupa kapan terakhir kali menggunakan kendaraan tersebut.
"Gak mau!"
Motor yang sudah menyala mesinnya kini berjalan pelan menyusuri jalanan sampai ke jalan raya, Fajar sengaja menekankan laju nya karna ingin menikmati saat saat seperti ini berdua dengan Shena.
Bersama wanita itu, begitu banyak hal baru yang di lakukan oleh Fajar, hidupnya benar-benar penuh warna dan juga kejutan yang tak terduga sama sekali hingga hatinya seolah Rollercoaster yang naik turun dengan segala tingkah istri kecilnya.
"Sayang, kamu orang pertama yang Aa boncengin gini loh," ucap Fajar sambil mengelus tangan Shena yang melingkar di perutnya.
"Iya kah?" tanya Shena seolah tak percaya.
"Hem, iya. Dan juga jadi orang satu-satunya serta terakhir," jawabnya lagi meyakinkan.
Shena yang mendengar itu malah tertawa, tentu ia mulai salah tingkah dan senang dengan pengakuan dan harapan pria halalnya tersebut.
"Aa boleh kok boncengin cewe lain kalau mau," bisik Shena.
Hawa tak enak mulai di rasakan Fajar, pegang bibir saja hukumnya sangat berat, lalu bagaimana jika berboncengan?
"Enggak deh, Sayang. Terimakasih banyak. Sama kamu aja Aa mah, atau sendiri," sahut Fajar.
"Beneran ih, gak apa-apa, asaaaaaal."
"Asal apa?" tanya sang suami.
.
.
.
Cewenya gak duduk di jok motor...