Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 145


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Ibuuu...


Hanya satu kata itu yang selalu keluar dari mulut Shena. Sudah banyak pengobatan yang di lakukan tapi hasilnya tak banyak berubah.


Shena belum merespon siapapun yang bicara dengannya termasuk suami dan kedua putrinya. Ia yang akhirnya bisa di bawa pulang ke rumah utama memang sudah berkumpul lagi dengan kelurga, secara fisik tak ada yang perlu di khawatirkan karna sedikit demi sedikit ia sudah mau makan meski tak lepas dari selang infus agar tak sampai dehidrasi, disana lah vitamin dan obat bisa masuk kedalam tubuh Ibu dua anak tersebut.


"Sayang, mandi ya," ujar Fajar yang begitu telaten mengurus semua kebutuhan sang istri termasuk membersihkan diri walau ada perawat khusus.


Tak ada dan tak pernah lagi ada jawaban yang di dengar Fajar semenjak hari buruk itu. Jangankan bicara, senyum pun tak terlihat lagi dari bibirnya yang kini pucat.


Semua sudah di siapkan oleh suster, kini Fajar tinggal membawa Shena ke kamar mandi. Satu persatu baju tidur yang melekat di tubuhnya di lepas hingga polos. Ia yang duduk sebuah kursi hanya bersandar pasrah, seolah tak perduli dengan apa apapun dengan dirinya.


Buuuuuu.


"Iya, nanti kita ke Ibu ya, Shena pasti kangen Ibu kan? Shena cepat sembuh, nanti kesana sama ZaRa dan XaRa, Ok." meski tak pernah merespon tapi Fajar tak pernah bosan dan menyerah untuk mengajak istrinya bicara.


Setiap inci tubuh polos wanita halalnya itu tak lepas dari sentuhan tangan Fajar. Pelecehan seksual yang di alami oleh Shena memang berbeda, ia tak di sentuh hanya di paksa untuk menyentuh.


"Habis ini sarapan di halaman samping ya, bareng si kembar." Fajar yang sedang mengering kan rambut Shena tersenyum kecil di depan cermin.


Tak ada yang di harapkan pria itu untuk saat ini, cukup Shena ingat keluarga kecil nya saja ia sudah sangat bahagia, mengingat Si kembar kadang meraung ingin ke mama nya tapi Shena hanya diam bak patung cantik tanpa respon meski sudah berkali-kali di dudukan atau tidur bersama.


.


.


Selesai mandi, Shena langsung dibawa ke halaman samping, ia sengaja tak hanya diam di kamar, Shena sering di bawa keluar demi merangSanG ingatannya kembali, setiap sudut ruangan terutama ruang makan tak lepas dari keseharian Shena bersama keluarga, beruntunglah ia ada di tengah orang orang yang penuh cinta kasih.


"Sarapan dulu, habis ini minum obat langsung mau ya," kata Fajar yang hanya bisa saling tatap tanpa jawaban.


Tak hanya Fajar, tapi ada ZaRa dan XaRa juga bersama mereka. Kedua putri cantik yang kadang seolah paham yang sedang di alami orang tuanya. Mereka yang kini di asuh siapa saja yang sempat dan ada waktu jarang sekali rewel meski terus memanggil mamanya jika mau dan bangun tidur, mengingat Shena selalu bersama dengan si kembar.


"Ayo buka mulutmu, makan pelan pelan." Fajar yang punya tingkat kesabaran luar biasa benar benar fokus tanpa memikirkan hal lain termasuk urusan pekerjaan yang kini di limpahkan pada Asisten dan dua Saudaranya.


"Shena---, ayo makan dulu, Sayang. Buburnya kalau dingin gak enak."


Shena yang diam tanpa Ekspresi apapun lagi lagi menitikan air matanya, Fajar yang akhirnya menunduk sedih kaget saat punggungnya ada yang mengusap.


.


.


.


Sini, Dung Dung Pret, El yang suapin...