
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Lagi dan lagi ungkapan perasaan yang Fajar katakan tak di respon baik oleh Shena, jika dulu ia balik bertanya tapi kali ini ia kian menjauh.
Ya, Shena menghindari Fajar dengan cara sering mengurung diri di kamar, ia yabg sudah pulang kerumah Abah dan Enin kembali murung dan sulit di ajak bicara. Sudah banyak yang di lakukan oleh Fajar tapi semua tak banyak membuahkan hasil.
Mulai dari mengajak Bintang dan Rinjani untuk jadi teman ngobrolnya hingga para mendatangkan para keponakan yang lucu dan menggemaskan, tapi semua itu tak bertahan lama karna Shena langsung kembali kedalam kamarnya.
"Aku harus gimana, Bah?" tanya Fajar yang terlihat sangat frustasi, ia yang duduk berdua dengan pria baya kesayangannya berkali kali mengudp wajahnya dan meremas rambutnya dengan kasar.
Semenjak ajakan menikah hari itu, Shena tak pernah mau berinteraksi berdua dengan Fajar keduanya bagai asing seolah beberapa bulan ini tak pernah ada kedekatan intim antara mereka berdua.
"Sabar, dekati pelan pelan lagi, Shena butuh waktu. Abah yakin, ia pun sedang berusaha melawan rasa takutnya," kata Abah yang merasa kasihan dengan pasangan tersebut.
"Aku pikir Shena sudah sembuh, Bah. Tapi nyatanya, ia kembali seperti dulu bahkan ini jauh lebih parah."
Jika di masa penyembuhannya dulu Shena butuh Fajar, justru sekarang sebaliknya, ia takut bertemu dengan pria itu karna menurutnya Fajar bukan lagi sosok malaikat penolong. Ajakan menikah dan memintanya menjadi seorang istri seolah ajakan untuk ia kembali pada situasi seperti di neraka.
Bayangan ia di siksa, di cengkram, di tampar hingga banjir cairan khas lelaki di wajah terus berputar dalam otak Shena. Ia takut dengan keadaan seperti itu lagi, ia tak ingin jatuh dan sakit untuk kedua kalinya.
"Apa aku terlalu cepat ingin menikahinya?"
"Bisa jadi, meski kapanpun sebenaranya kamu bisa menikahinya karna Shena adalah janda dengan stastus perawan. Tapi kenyataannya tak begitu," sahut Abah yang membenarkan ucapan Sang cucu, padahal maksud hati Fajar kala itu hanya ingin bisa jauh lebih dekat dengan gadis itu.
"Sulit sekali untuknya bertemu dengan Psikolog sekarang. Aku rindu Shena, Bah." tatapan Fajar tak lepas dari pintu kamar tamu yang di dalamnya ada gadis yang teramat ia cintai, ia harap Shena keluar sebentar saja karna sejak kemarin keduanya tak bertemu. Bukan hanya tak ingin bertetap wajah tapi Shena masih enggan mengangkat telepon darinya, mereka hanya berkomunikasi lewat pesan chat itu pun hanya beberapa yang di balas oleh Shena.
Jadi, jangan tanya bagaiman perasaan Fajar kali ini, karna tak hanya rindu tai juga sakit seperti yang Shena rasakan meskki tentu sakitnya Shena tak ada seorabg pun yang paham bahkan ia yakin tak akan ada manusia lain yang mau jika menjadi dirinya.
Senandung sayang, Senandung malang.
.
.
.
#RUMAH UTAMA
Usai makan malam, semua berkumpul seperti biasa di ruang tengah, biasanya pembahasan keluarga Lee Rahardian hanya seputaran saling bertukar cerita dengan yang mereka lalui sepanjang hari ini, tapi tidak dengan sekarang, semu berkumpul untuk diskusi tentang masalah hubungan Shena dan Fajar.
"Ayah memang gak bisa lakuin sesuatu untuk mereka?" tanya Bubun yang ikut pusing sendiri, bahkan ia tak bernapsu shoping akhir akhir ini.
"Bun, sakitnya Shena bukan di tubuhnya tapi mental dan hatinya, Aa sudah membawa Psikolog kerumah Abi tapi Shena tak mau bertemu, tak baik juga jika di paksa karna yang di butuhkan Shena rasa aman dan nyaman," jawab Ayah Keanu.
"Tapi kasihan Aa," ucap lirih wanita itu lagi.
"Iya Aa kaya Zombie ya, Bang," sambung Lintang yang ikut sedih.
Jika mau adu saingan masalah rindu, tentu Lintang lah pemenangnya karna ia harus kuat menahan rasa itu lebih dari 5 tahun bersama Rinjani, bukan hanya tak pernah bertemu tapi tidak berkomunikasi sama sekali juga.
"Iya, kasian adek Abang," sahut Angkasa, keduanya pun berpelukan karna memamg mereka punya ikatan bathin yang cukup terasa saat salah satu diantara mereka tertimpa masalah atau sakit yang lain bisa ikut larut merasakan sesaknya juga.
"Itulah, Aa keliatan banget berantakannya," timpal Mhiu lagi, tak ada senyum di ujung bibir Si tengah beberapa hari terakhir ini.
"Yang bisa menyembuhkan Shena ya dirinya sendiri, mau sampai mana ia kuat melawan rasa takutnya itu, asal jangan di tinggalkan. Shena masih sangat butuh pendamping, Phiu juga khawatir dia melakukan hal di luar batas," ucap Sang tuan besar Rahardian yang iku memikirkan nasib cucu keduanya itu.
"Andai Shena mau di ajak kemari ya," timpal Bubun yang entah harus merayu yang seperti apa lagi untuk calon mantunya itu.
"Besok biar Jani dan Kak Bee kerumah Abah lagi gimana? mungkin besok Shena mau ketemu kita," saran putri sulung pasangan DuRen dan JaHe.
"Ide bagus tuh, ChiMa emang terbaik, makasih ya, Sayangnya Lilin," balas suaminya yag langsung menghujani wajah Sang istri dengan ciuman.
"Iya, kayanya cuma itu yang bisa aku dan Kak Bee lakuin."
"Bener banget, nanti kita ajak Shena buat banyak ngobrol tentang apa itu arti pernikahan, hak dan kewajiban suami istri dan juga beberapa hal dalam berumah tangga, aku yakin dia gak tahu semua itu," timpal Bintang.
"Iya, yang Shena tahu ia dijadikan istri cuma untuk di siksa dan di paksa menuruti semua perlakuan penyimpangan mantan suaminya itu," sambung Bubun yang tahu semua tentang kisah kelam didalam pernikahan Shena yang dulu meski itu semua hanya cerita dari putra keduanya saja.
"Siapa tuh nama orang jahatnya?" tanya Lintang yang tak habis pikir ada manusia sekejam mantan suami Si JanCiL.
"Tiger, " jawab Abang Asha yang sebenarnya lupa lupa ingat tapi dengan percaya dirinya ia asal menyahut.
"Emang iya? bukan ah," sahut Ayah yang ikut berpikir juga.
"Iya, Yah. Eh, apa bukan ya?" tanya Abang juga akhirnya sambil terkekeh dan ia pun langsung mendapat cibiran dari Bintang.
"Tigor," ucap Bubun sambil menjentikan jari sembari senyum-senyum serasa ia baru saja berhasil menjawab teka teki.
"Namanya aneh," sambung Rinjani.
"Apa sih kalian ini, salah semua!" kata Phiu, ia yang melipat tangannya di depan dada langsung menjadi pusat perhatian. Dari tatapan mata semua orang yang ada di ruang tengah mereka siap melempar satu pertanyaan yang sama.
"Siapa?" tanya keturunan Gajah serentak.
Batagor...
.
.
.
#Paginya.
Shena yang masih meringkuk diatas ranjang masih menyelimuti tubuhnya dengah selimut tebal yang kini tak lepas darinya. Hujan yang tak henti sejak subuh menjelang semakin membuat hatinya semakin rindu Sang Ibu.
"Kenapa aku gak di ajak sih, Bu?" ucapnya lirih yang belum ada niat untuk bangun.
Tapi, ketukan pintu kamar membuatnya harus bergegas kearah pintu yang tertutup rapat sejak terakhir ia kunci.
Ceklek
"Enin buatkan bubur kacang hijau, hujan begini paling enak makan yang hangat hangat," ucapnya saat masuk kedalam kamar, Enin letakkan dulu nampan yang ia bawa itu karna ada yang ingin di bicarakan dengan Shena.
"Terima kasih, Enin."
Mereka yang kini sudah duduk di atas ranjang saling berhadapan pun siap untuk bicara dari hati ke hati, Shena tahu maksud kedatangan Enin pagi ini tak hanya sekedar membawakannya semangkuk bubur kacang untuknya.
"Shena marah sama Aa?" tanya Enin.
"Lalu kenapa? ada masalah? ayo cerita sama Enin, apa yang Shena rasakan sekarang karna semenjak pulang dari rumah utama, Shena bersikap lain," pancing wanita baya itu agar gadis yang sudah di anggapnya cucu mau buka suara.
"Aa---, Aa," jawab Shena yang hanya menyebut nama Fajar pelan.
"Aa sedih lihat Shena begini," lanjut Enin.
"Aa ajakin aku nikah, Enin."
Tangis Shena pun pecah seketika, kali ini tak hanya berderai air mata tapi benar-benar tangis yang bersuara sampai tersedu-sedu. Orang yang melihat dan mendengarnya pasti bisa menebak sesakit apa luka hati Shena.
"Luapkan semua, Enin ada di sini," ucap Enin yang bahagia dengan hadirnya Shena di rumah selama ini.
"Aku takut, aku gak mau nikah lagi, Enin."
"Enin paham, Shena. Sabar ya, Nak"
Benar dugaan mereka jika Shena masih takut dengan pernikahan. Yang baru sembuh hanya trauma kekerasan fisik yang di terimanya meski kadang ia masih gemetar saat melihat ikat pinggang atau benda lain yang pernah di pakai Tagor untuk memukulinya dulu.
"Pernikahan yang Aa tawarkan untuk Shena tentu berbeda. Apa Shena tak percaya?"
Shena tak menjawab, ia masih terus terisak sedih menumpahkan air matanya yang padahal sejak kemarin kemarin sudah deras keluar.
"Shena takut, Enin, Shena takut."
Jujur, semakin Shena mengeratkan pelukan, Enin semakin takut jika sampai terjadi sesuatu pada gadis itu tapi beruntungnya Bintang dan Rinjani datang. Kedua wanita cantik itu yang awalnya kebingungan langsung memberi pelukan juga.
"Kakak--"
"Shena gak sendiri, ada kak Bee dan Kak Jani," kata Bintang, istri dari Angkasa Rahardian Lee Wijaya.
"Tapi--, aku."
"Ssst, Shena pasti capek kan? Kak Jani bawain kue dari Mhiu," ujar menantu Bungsu.
Perlahan, Enin bangun dan keluar dari kamar, ia biarkan ketiga perempuan itu sarapan dan menghabiskan waktu bersama.
"Enin juga bawain bubur kacang hijau belum di makan," balas Shena yang ingat dengan apa yang di bawa Enin tapi ia juga baru sadar jika wanita itu sudah tak ada di kamarnya.
"Ya udah kita makan sama-sama ya."
Fajar yang berdiri disamping pintu kamar tamu sedari Enin masuk sedikit bisa bernapas lega meski kedatangan kedua iparnya itu tak terduga. Tak yang memberi tahunya jika Rinjani dan Bintang akan datang sepagi ini apalagi di tengah suasana hujan di luar sana, entah imbalan apa yang di dapat para saudaranya yang mengizinkan istri istrinya ini datang kerumah Abah hanya untuk sarapan bersama Shena.
"Sudah, jangan khawatir. Kamu bisa siap siap ke kantor sekarang." Abah menepuk pundak Fajar seolah memberi isyarat jika semua baik-baik saja.
"Tapi, Bah--," sahut Fajar dan pria baya itu tetap melangkah ke arah luar rumah.
Semenjak Shena mengurung diri, Fajar memang belum pulang lagi kerumah utama. Ini juga lah yang menjadi pikiran orang tua. Meski Abah dan Enin memastikan jika cucu mereka tetap baik baik Ayah dan Bubun khawatir.
Fajar membuang napas kasar, ia lihat lagi keadaan di dalam kamar, setelah memastikan Shena tenang barulah Fajar naik ke lantai atas menuju kamarnya, ia akan membersihkan diri lebih dulu lalu berangkat ke kantor.
.
.
.
Masih di dalam kamar, kedua menantu Lee Rahardian Wijaya kini sedang bersama Si calon mantu yang artinya calon ipar mereka juga. Di atas ranjang besar, ketiganya duduk bersama setelah menghabiskan sarapan. Dengan tangan saling menggenggam Rinjani pun mulai mengawali obrolan yang kali ini tentu ke topik utama dan alasan kenapa barusan ia dan Bintang datang sepagi ini.
"Shena kapan ke rumah utama lagi? jangan bilang kalau takut sama Lilin ya," tanya Rinjani.
"Enggak, Lilin tuh baik cuma ngeselin jadi mana mungkin Shena takut yang ada pengen di cincang terus di lempar ke penangkaran Buaya," sahut Si JanCiL yang entah kenapa tangannya mendadak gatal.
"Wih, mana bisa. Abang sama Bubun mana mau makan cincangan daging Lilin," jawab Bintang yang terkekeh, begitu pula dengan Rinjani.
Sedangkan Shena yang tak paham hanya bisa memandang kedua wanita yang sudah dewasa itu secara bergantian.
"Bukan ke Abang dan Bubun, kak."
"Lalu kemana? jangan ke Buaya, nanti yang ada Buayanya nangis di pojokan," kata Rinjani lagi.
"Hem, di lempar ke tengah Laut deh buat di makan ikan Hiu," jawab Shena yang kali ini tersenyum lebar.
"Itu juga sama, Shena. Gak ada hiu gak ada Lilin loh, just Buaya terpesona karna Hiu."
"Ih, kalian ini ngomong apa sih?" aku gak ngerti." Shena yang bingung benar-benar sedang di buat pusing dengan kedua wanita di dekatnya sekarang.
"Gak apa-apa kamu gak ngerti, asal ada beberapa yang harus kamu ngerti setelah ini ya," ucap Bintang yang mengeratkan genggamannya pada Shena.
"Apa?"
"Pernikahan itu indah, Shena. Apalagi saat cinta pria jauh lebih besar, karna di cintai itu jauh lebih baik bagi seorang wanita," jawab Rinjani, dan bayangan Lintang sebagai suami langsung terlintas di pelupuk matanya.
Deg....
Hati Shena tentu langsung mencelos mendengar apa yang di katakan oleh menantu ketiga Lee Rahardian tersebut.
"Jangan takut mencoba, bukankah kamu tahu, jika ada kesempatan kedua hadir dalam hidup? bukankah itu gunanya untuk memperbaiki yang pernah terjadi?" sambung Bintang yang belum di respon apapun oleh Shena.
"Jika pada orang yang sama saja bisa Happy Ending, apalagi dengan orang yang berbeda, bukan begitu? jangan pernah takut untuk memulai lagi ya, gagal itu sudah biasa, anggap itu pelajaran, Shena."
Shena mengangguk paham, bukan ia tak paham hanya saja ia hanya punya Fajar, jika Fajar seperti Tagor lantas ia harus pulang kepada siapa setelahn nya.
Braaak
Pintu yang sebenarnya sudah terbuka terhempas ke tembok karna ulah Abah yang terlihat panik.
"Ada apa, Bah?"
.
.
.
Fajar kecelakaan....