
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Fajar yang mendengar apa yang di perintahkan Shena pada si Bubu tentu langsung menarik tangan istrinya, wanita itu nampak kaget karna sedikit menjerit secara reflek.
"Aa!" pekiknya yang masih berusaha meronta.
"Jangan ngajarin yang gak bener, Shena."
"Bener kok, aku lagi ajari Bubu main sama Lilin loh, baik kan aku?" jawabnya sambil tersenyum menggemaskan bahkan sang suami hampir saja terpesona dengan keluguan wanita di depannya kini.
Shena yang sudah ditarik kedalam pelukan Fajar langsung di bawa oleh suaminya itu ke kamar, sedang Bubu di minta untuk di masukkan kembali kedalam kandang oleh si penjaga sebenarnya. Tentu, Phiu juga tak ingin ada ada yang sampai terluka akibat Si anak Macan asuhan cucu mantunya itu.
Ceklek
"Aa mau ngapain? aku belum selesai mainnya sama Bubu," Protes Shena yang terus meronta dalam pelukan Fajar.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
"Udah lama gak gigit kamu kalau nakal!" rasanya puas sekali menghukum istri kecilnya itu hingga menjerit kesakitan.
"Perih Aa," keluh Shena sambil meniup ujung jarinya.
"Mau yang enak? ok. Aa kasih buat kamu," jawab Fajar sambil membuka bajunya satu persatu hingga polos tanpa apapun.
Shena yang melihat suaminya akan beraksi hanya bisa menelan Salivanya kuat kuat. Ia yang tak luput dari tangan nakal suaminya hanya pasrah saat Pakaiannya pun semua di lucuti sampai sama-sama bak bayi baru lahir.
"Tanggung jawab, pokonya Aa yang gantian Terima beres!" titah Fajar yang sebenarnya hari ini adalah hari yang menjengkelkan baginya.
Presiden Direktur itu harus kembali tak masuk kerja karna harus mengurus Shena. Dan itu memang bukan yang pertama tapi ini adalah hari pertama setelah ia cuti sekian lamanya, hampir semua pekerjaan ia limpahkan pada Niha serta para sepupunya.
"Mau gaya apa?" tanya Shena yang justru lebih ahli soal peranjangan.
Bukan menjawab, Fajar malah tertawa tak kuasa menahan gemas dan itu pastinya membuat pria tersebut lupa juga dengan kekacauan yang di lakukan oleh Si pawang anak Macan.
.
.
Rumah utama memang akan kembali ramai jika sore menjelang saat semua sudah kembali dari aktifitas masing-masing sebab sesibuk apapun akan di usahakan untuk makan malam bersama, itu adalah momen yang paling pas untuk tak sekedar mengisi perut tapi juga bertukar cerita bahkan tak jarang juga berdiskusi bersama.
"Shena, ayo masuk udah sore," ajak Fajar yang sedang menemani istrinya main di halaman belakang bersama Bubu.
"Nanti, A'.. Aa masuk duluan aja, Bubu masih mimi susu," jawab Shena tak menoleh sama sekali karna tangan sedang memegang botol susu berukuran besar dan panjang.
#Eh.. kok?
#OtakMelenceng.
Tapi Fajar memilih tetap tinggal, ia masih sabar menunggu Shena untuk masuk kedalam rumah utama, ada rasa tak tega untuk memaksa karna wanita itu nampak sangat bahagia.
"Dooooor, kaget dong," ucap Lintang yang tiba-tiba datang dan berdiri di samping kakaknya.
"Baunya udah kecium dari jauh mana bisa kaget," ejek Fajar namun di abaikan oleh adiknya karna Lintang fokus dengan apa yang di lihatnya sekarang.
"Apaan tuh yang sama Si Dung Dung Pret? kok Miong Uncle gede amat ya?" tanya Lintang yang memang tak tahu.
"Anak Macan!"
Sedangkan Shena yang sadar dengan kedatangan adik iparnya langsung bisik bisik di telinga Bubu memberi intruksi dengan apa yang sudah ia ajarkan.
"Bubu, ayo kejar Lilin Ngepet ya kamu takutin pokonya tuh," titah Shena yang seolah di pahami oleh hewan berbulu putih dengan garis hitam samar.
Dan betapa kaget serta takutnya Lintang saat Bubu mendekat lalu mengaum tepat di depannya.
.
.
.
Huaaaaaaaa... Tolongin Lilin Phiuuuuuuuuu. Jangan di gigit gigit Lilinnya.