
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Tantik, nda? taya Adek kan?" tanya XaRa yang memperlihatkan boneka yang tadi sudah di dandani bersama papa nya, mulai dari baju hingga kunciran di rambut barbie tersebut.
"Iya," jawab sang Mama yang selalu saja singkat, wanita itu belum mau di ajak bicara banyak karna kepalanya akan langsung pusing jika terlalu berisik.
Tapi, bukan Fajar jika tak sabar karena terbukti kali ini ia membawa istri nya itu ke ruang tengah di mana banyak anak anak sedang main, ia akan terus membiasa kan Shena di tengah keramaian agar tak takut lagi, karna tak mungkin juga membiar kan wanita itu menghabiskan sisa umur nya di dalam kamar sebab semua hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan.
"Main sama Adek ya, ntal Mama yang jadi balbienya, tan Mama tantik," kata XaRa yang membuat Fajar langsung menoleh saat mendengar ajakan dari si bungsu untuk istrinya.
Tatapan Shena beralih pada pria yang tak pernah jauh dari nya. Apa pun yang ia lakukan semua harus atas izin Fajar, itulah yang masih melekat di dalam diri wanita cantik tersebut.
"Main ya sama Adek, gak apa apa." Fajar mengusap pelan kepala Shena dengan lembut.
Percaya tak percaya, Fajar seakan punya tiga anak perempuan yang manis dan penurut. Ia yang sejak dalam rahim di uji sabarnya oleh kedua saudara kembarnya sekarang tinggal memetik dari kebiasaan itu jika mengurus keluarga kecilnya adalah hal mudah sebab Abang Asha dan Lintang jauh lebih menguji kesabaran dan menguras emosinya.
Shena yang menganggguk membuat XaRa bertepuk tangan senang, ia sampai bersorak dan langsung mencium pipi mamanya yang kini tak mendapat penolakan lagi. Dulu, Shena selalu mundur atau menghindar tapi tidak dengan sekarang atau tepatnya akhir akhir ini.
Fajar yang melihat semua aman mulai menepi, bergegas pelan masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel dan laptop, ia akan mengerjakan apa yang bisa ia kerjaan sedikit demi sedikit selagi semua sibuk bermain.
.
.
.
Suara gelak tawa XaRa dan Shena membuat Bubun tak kuat menjatuhkan air matanya. Ia senang perlahan melihat pelangi di rumah utama kini sudah mau dekat dengan putri yang ia lahirkan dengan penuh perjuangan. Ia rindu dengan kegaduhan yang di buat menantu nya tersebut meski tak di pungkiri sering menjengkelkan.
"Gak apa apa, Bee. Mama mu jadi kesini malam nanti?" tanya Bubun.
"Iya, lagi nunggu Papa selesaikan urusannya. Bubun kenapa? kok nangis?" tanya ulang si menantu pertama saking penasarannya.
Tapi, belum juga menjawab, keduanya menoleh ke arah satu suara yang tak lain adalah jeritan dari ZaRa...
"Iiiiih, olang ini punyaku!" teriak bocah menggemaskan yang tak mau buahnya di makan satu oleh ZaRa.
"Minta, pelit banet sih!" omel ZaRa karna memang buah punya nya habis lebih dulu.
"Nda boleh!" jawabnya tak mau kalah.
"Jangan pelit pelit, ntal kubulannya tempit telus masuk Nelaka," ancam ZaRa sambil menakut nakuti sepupunya itu namun yang di takuti malah mencibir.
"Boong, nda mungkin macup Nelaka," katanya denga sangat percaya diri.
"Mang apa? olang jahat semua masuk Nelaka," sahut ZaRa lagi.
.
.
.
Tan, Nelaka nya punya Papih, aku yang absen atu atu ntal...