Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 104


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Sayang, cepetan tidur!" mohon Fajar saat miliknya malah di mainkan oleh Shena.


Padahal kedua mata wanita itu sudah terpenjam tapi anehnya tangan Shena masih saja aktif di bagian inti tubuhnya yang justru semakin lama semakin ingin pecah kepalanya.


Di rasa tak ada jawaban dari sang istri, Fajar mulai menyingkirkan tangan Shena namun yang ada ia terlonjak kaget hingga akhirnya mencengkram miliknya kuat.


"Aw!!!!" pekik Fajar yang merasa kesakitan saat si daging tak bertulang itu di remas cukup kuat.


"Tidur gak sih?!" Fajar yang kesal, gemas dan pastinya pening mulai memperhatikan istrinya.


Lama ia menatap Shena yang akhirnya yakin jika wanita itu memang tidur karna ada dengkuran halus yang di dengar.


"Kalau udah tidur kenapa tangannya gak mau lepas?!" gerutunya karna Shena benar benar terlihat sangat pulas.


Fajar yang sedang menahan hasrat hanya bisa menarik napas dan di buangnya secara perlahan. Andai tangan Shena bisa di lepas sudah bisa di pastikan wanita itu akan habis ia terkam karna napSUU nya sungguh sudah berada di puncak ubun ubun.


Tapi, ada rasa tak tega saat ingat bagaimana Shena sangat mengantuk, mual hingga muntah muntah. Jadi, untuk meredakan hasrAAtnya, ia memilih ikut tidur.


Kini, keduanya saling memeluk dan mengeratkan dekapan tak perduli dengan tubuhnya yang polos tanpa apapun kecuali handuk yang jadi penutup di bagian Si daging tak bertulang yang masih tegang.


.


.


.


Pasangan suami istri itu bangun setelah jam makan siang, berhubung mereka sudah mandi, jadilah kini tinggal merapihkan diri sebelum akahirnya turun kae lantai bawah.


Tak ada siapa pun di ruang makan, semuanya sudah berpencar ke tempat favorit masing masing, ada yang di ruang tenga, kamar dan juga halaman samping arau depan.


"Pengen nasi goreng A', tapi gak mau di kecapin." pintanya lagi, Fajar pun langsung mengiyakan dan meminta pada pelayan membuatkan apa yang di minta istrinya tersebut.


Sambil menunggu, Fajar makan makanannya karna nanti ia harus menyuapi Shena. Dan di tengah rasa nikmat mengisi perutnya itulah lagi lagi Fajar ingat dengan ucapan Phiu.


Nikmati saja, karna akan ada mau mau yang lainnya juga dari istrimu, jaga perasaannya dan jangan pernah tinggikan nada bicaramu padanya, karna mulai sekarang sampai batas waktu yang tak di tentukan hatinya akan jauh lebih sensitif.


Fajar menatap lekat wajah Shena yang sedang melihat kearahnya juga, tatapan biasa itu mulai berubah dengan kedua alis yang saling bertautan.


"Aa ih, apaan sih! liatin aku kok kaya gitu?" tanya Shena yang tak suka karna ia merasa takut, Fajar tak pernah seperti itu sebelumnya, tatapan pria itu selalu hangat dan penuh cinta.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Fajar bangun sambil menarik tangan Shena yang otomatis ikut bangun juga.


"Tapi--," ucap Shena yang kebingungan dengan sikap mendadak suaminya.


"Tapi apa lagi sih, Sayang?" tanya Fajar yang tak sabaran.


"Nasi goreng aku gimana? aku mau makan A'," jawab Shena yang perutnya sudah bunyi sejak tadi, makanan sederhana nan nikmat itu buyar dari pelupuk mata Shena karna ajakan suaminya barusan.


"Bungkus deh, makan di mobil," jawab Fajar.


.


.


.


Ok, tapi pake daun pisang ya..