
FLASHBACK
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Braaaak...
Pintu kamar yang tertutup di buka oleh pria tinggi dengan postur tubuh biasa, ada beberapa tato di bagian tangan dan leher untuk memberi kesan jika ia adalah anak penguasa salah satu pasar di kota tersebut.
Ia berjalan kearah ranjang tempat di mana ada seorang gadis cantik berusia 17 tahun duduk di pojokan dengan memeluk lututnya sendiri. Dari ekspresi dan kedua mata yang merah dan banjir air mata sudah bisa di pastikan jika ia begitu ketakutan.
Senandung namanya, ia yang baru sore tadi menyandang status istri kini sedang di hampiri oleh suaminya.
Ya, suami yang menikahinya tanpa ada rasa cinta melainkan hanya napsu semata, Shena terpaksa dan mau tak mau di nikahi hanya karna ia adalah satu satunya alat untuk menebus hutang Sang ayah. Pernikahan yang sebenarnya tak pernah terbersit ada di benak gadis itu. Shena anak yang polos, ia putus sekolah karna kendala biaya, ayah yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga hanya menghabiskan uang hasil rampok, jambret, mencuri atau menang judinya itu untuk dirinya sendiri dengan cara mabuk mabukan dan main perempuan, sedangkan ibu yang harus banting tulang untuk sekedar bisa makan dua kali sehari dengan putrinya tersebut. Shena yang punya kakak laki laki pun tak bisa di andalkan, ia justru menjelma seperti ayah dengan kelakuan dan sifat yang sama persis.
"Aku mau pulang," ucap Shena lirih dan sambil terisak, ia takut dan benar benar merasa takut luar biasa.
"Pulang kemana?Emang lo punya rumah, hah?'' tanya Tagor, pria yang sudah mengikrarkan janji pernikah di bawah tangan.
Tawa pria itu pun langsung menggelegar di dalam kamar dengan hasRrAat yang tak bisa ia kendalikan lagi. Melihat Shena ia seperti mendapat harta karun, karna Tagor tak butuh pasangan yang cantik dengan body bak gitar spanyol yang di butuhkan Tagor adalah ekspresi takut dan kaget dari lawannya nanti dan itu ia dapat dari Shena, karna Tagor tahu Shena gadis polos yang belum terjamah, ia juga yakin jika istri sirinya itu tak pernah melihat bagian inti dari seorang laki laki dewasa. Tak bisa Tagor bayangkan bagaimana nikmatnya nanti saat ia pelepasan tepat di wajah polos Sang istri.
"Bapak, aku mau ke Bapak," mohonnya lagi masih terisak sedih dan itu wajar karna Shena hanya punya ibu semasa hidupnya, tapi wanita itu meninggal tak lama setelah sang kakak juga menghembuskan napas terakhir.
"Bapak lo mana perduli, sekarang lo itu MAINAN gue dan artinya terserah gue mau apain lo!"
Shena yang semakin takut tak bisa apa apa sebab ia sudah ada di pojok kasur yang tak terlalu besar, hanya cukup dua orang dengan sedikit sisa celah.
"Jangan, jangan apa apain aku, kumohon." dengan derai air mata, gadis itu terus meminta pria di depannya untuk mundur dan menjauh.
Tapi yang di dapat Shena justru kekerasan fisik, ia di tampar untuk pertama kali nya guna semakin pecah tangisnya sebab jika hanya isakan saja tentu tak menaikan gaiRRah Si Tagor.
"Ayo nangis, kalau bisa lo ngejerit sampe urat leher lo putus!" bentak Tagor.
Tak hanya sampai di situ, ia juga mencengkam wajah Si cantik yang sudah basah air mata dengan kedua tangan yang memiliki kuku tajam. Shena yang berusaha memejamkan mata justru di ludahiiii dengan cara kasar.
"BUKA MATA LO, BANG SAATTT!"
Jangan tanya bagaimana perasaan Shena karna dalam hatinya ia terus berdoa ibu datang dan membawanya pergi dari hadapan Tagor.
"Jangan harap gue akan memperlaku kan lo layaknya istri pada umumnya. Inget ya, lo itu cuma MAINAN gue yang gak akan lebih dari seorang pemuas napSuuU, paham?" sentak Tagor lagi, ia benar benar ingin mendoktrin otak Shena jika istri versinya bukan wanita manja yang hanya bisa menuntut kasih sayang dan perhatian karna justru sebaiknya, yang akan di dapat Shena nanti hanya kekerasan fisik dan mental.
"Sakit---," pekik Shena tak kuat lagi dengan cengkraman di wajahnya.
"Semakin sakit lo itu semakin cantik, dan gue makin napsu buat siksa lo," kekeh tagor merasa sangat senang karna permainannya akan segera di mulai.
Ia buka ikat pinggang celananya lebih dulu untuk memberi siksaan di tubuh putih mulus nan mungil istrinya, awalnya pelan karna permainan tentu tak langsung panas dan Tagor ingin gaIRahnYa sampai di puncak dengan cara bertahap.
Bukan hanya sekali, tapi berkali kali sabetan benda panjang berwarna hitam itu mendarat di tubuh Shena, luka merah bergaris dengan darah yang mulai keluar tak membuat Tagor kasihan dan menghentikan siksaannya, tawanya semakin menggelegar karna rasa puasnya tersebut. Di rasa Shena semakin cantik dengan banyaknya luka di bagian tangan dan kaki kini saatnya Tagor membuka celana panjangnya, ia buang benda itu ke sembarang arah. Daging tak bertulang yang sudah tegak berdiri di hadapkan di depan wajah Sang istri, dan benar saja dugaan Tagor jika Shena langsung membulatkan kedua matanya dengan sempurna karna kaget dan tak percaya ia akan di hadapkan dengan hal seperti itu, bukan tak tahu karna ia pun tak sebodoh itu tapi untuk melihat langsung dengan jarak yang sangat sangat dekat tentu baru pertama kalinya bagi Shena selama 17 tahun ia hidup di dunia.
"Buka mata lo!" teriak Tagor saat Shena terpejam dan berusaha mengalihkan pandangannya.
Tagor tak butuh tubuh teLANjAg istrinya, ia juga tak butuh perawan atau permainan yang membuat keduanya terbang melayang ke surga dunia. Yang di butuhkan Tagor hanya luka, darah dan jerit histeris pasangannya karna hanya disitu letak kepuasaan yang di rasa Tagor nantinya.
Pria yang tak lebih seperti DAJJAL itupun terus berusaha mencari kenikmatannya sendiri dengan tangan kiri terus menguRUUT si daging tak bertulang miliknya serta tangan kanan yang tetap mencengkram wajah Shena di bagian rahang, ia terus menjerit kesakitan dan ketakutan hingga semua berakhir dengan penuhnya wajah lelah Shena dengan cairan khas lelaki.
"Sumpah ini tuh nikmat banget, lain kali lo harus lebih dari ini, makin lo jijik lo itu main cantik dan gue makin suka," bisik Tagor di sisa desaHAANnya.
Shena yang lemas karna semua rasa bersatu dalam hatinya tak bisa berbuat apa apa, tubuhnya bagai tak bertulang tapi rasa mual itu terus bergejolak sebab bau asing yang ia hirup tepat di bagian hidungnya yang minimalis namun tak mengurangi kecantikan Senandung yang malang.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Shena keluar dari kamar dengan tergopoh gopoh bahkan ia sempat terseok dan merangkak demi bisa sampai ke dapur dan kamar mandi. Tak perduli dengan rasa sakitnya ia terus membersihkan wajah dan lehernya yang kotor tersebut.
Perih?
Tentu saja, bahkan ia tak lagi mampu menangis tersedu sedu hanya air mata yang tak henti mengalir ke pipi tanda ia begitu sangat tertekan dan pastinya terluka.
"Kata Ibu, aku harus dapat suami yang baik dan sayang denganku. Lalu, kenapa aku di pukuli sesakit ini, Bu? Apa ini yang namanya menikah dan jadi istri?" perang bathin pun di mulai karna cukup ia melihat Ibu yang tak bahgaia selama menikah dan menyandang status sebagai istri.
Meski tak semua bernasib sama seperti Ibunya tapI ia tumbuh dan besar dalam keluarga dan lingkungan yang jauh dari kata sempurna. Tak ada kehangat dari ornag utuh, yang ia tahu Ibunya harus bekerja demi mereka makan walau ayah memberi uangpun dengan cara di lempar ke wajah ibu dii sertai dengan jatuhnya barang yang lain juga.
Tak pernah ada bayangan rumah tangga baik nan harmonis selama Shena tinggal di tempatnya dulu, semua bagai neraka tempat melebur segala asa dan harapan untuk hidup ke yang jauh lebih baik.
Usaha kabur pun sudah di lakukan Shena berkali kali tapi semua nihil di dapatkan karna tak ada celah untuk gadis itu keluar dari neraka berbentuk rumah tersebut. Tak ada waktu tertentu kapan Tagor pulang pun sedikit menyulitkannya, pria itu datang hanya memberi makan, minum dan juga bermain main dan Shena harus siap tanpa bisa melawan, entah itu pagi, siang, sore malam bahkan menjelang subuh. Kapan saja haSRRAt suaminya timbul di situlah Shena harus siap juga menahan rasa jijik, takut dan perih karna Tagor akan menyiksa tubuhnya lebih dulu hingga lemas, semakin tak berdaya semakin seksi di mata suami laknantnya itu.
Seperti sekarang , Tagor yang pulang dengan keadaan mabuk pun langsung menghampiri Shena, kali ini ia tak bermain dengan ikat pinggangnya, melainkan mengikat kedua tangan Shena ke belakang. Tak sampai di situ, Shena yang lagi dan lagi di cengkram rahangnya langsung di sumpal mulutnya dengan dalaman yang barusan di lepas dari tubuh Si Tagor. Bukan hanya tak bisa bicara melainkan Shena juga sulit untuk bernapas. Dan memang itu lah yang di inginkan oleh pria yang kini sedang tertawa di tengah rasa sadar tak sadarnya tersebut.
.
.
.
Pernikahan itu cuma main-main, dan lo mainan gue!
\#\#\#\#\#\#\#\#\#
Huft cukup satu Part aja bagian ini, kalau kasian atau jijik boleh di SKIP.. tapi jangan bilang2 teteh ya, karna gak semua jujur itu menyenangkan 😞.