
🍂🍂🍂🍂🍂
Eeeugh..
Shena yang menggeliat dalam pelukan Fajar saat pagi menjelang membuat pria yang masih enggan bangun itu akhirnya mengerjapkan kedua matanya.
"Selamat pagi, Sayang. Istri ku yang cantik, Ibu hebatnya ZaRa dan XaRa," ucap Fajar tanpa suara serak karna ia memang sudah bangun dari beberapa waktu lalu, hanya saja ia menunggu wanita halalnya bangun terlebih dulu.
"Pagi, Aa," jawab Shena meski hanya singkat tapi suaminya sudah sangat bahagia karna sudah cukup rasanya hanya di tatap tanpa suara.
"Bagaimana mimpimu? apa menyenangkan?" tanya Fajar setelah menciumi kening dan kedua pipi istrinya.
"Lupa, mimpi apa ya?" tanyanya bingung namun kembali masuk kedalam pelukan pria sabarnya.
Mungkin, jika bukan Fajar jodohnya ia sudah di buang jauh jauh karna kurang lebih dua tahun bak boneka bernyawa, tak bisa apa-apa kecuali menetes kan air mata. Tapi berkat sabar dan kasih sayang keluarga, Shena bisa perlahan keluar dari masa masa Trauma tersebut meski belum bisa mengembalikan apa yang sudah terlupakan termasuk memiliki dua putri cantik yang menggemaskan. Untungnya, Shena tak pernah mencoba melukai dirinya sendiri atau orang lain, jika takut atau traumanya kambuh, ia hanya menangis sambil menutup mata rapat rapat seolah sedang menepis rasa tak amannya. Yang paling di banggakan tentu ZaRa dan XaRa sebab bisa menerima keadaan mamanya tanpa banyak menuntut seperti anak yang lain.
"Mau mandi sekarang? nanti sarapan mau dimana?" tanya Fajar setelah di rasa cukup bermalas malasan di atas ranjang.
"Mana aja," jawabanya yang tak pernah banyak.
Keduanya pun turun dari ranjang, berjalan bersama menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum akhirnya memanjakan perut dengan hidangan sarapan yang selalu terlewat karna Shena selalu terlelap tengah malam, ia masih merasa sering gelisah sendiri saat menjelang tidur.
.
.
.
"Main apa? sini sama Papa," ujar Fajar pada si cengeng yang mudah sekali merajuk.
"Ini napa pakai bajunya susah benel sih?!" rengek XaRa yang kesal karna tak bisa mengancingkan baju boneka Barbie nya.
"Pelan pelan dong, Dek. Apapun, kalau di lakukan dengan tak sabar hasilnya justru berantakan, tak apa lama dari pada salah dan kamu harus mengulang nya dari awal," sahut Fajar sembari memberi pengertian pada si bungsu.
Ya, sampai saat ini XaRa memang masih jadi anak terakahir tapi entah jika orang tua nya sudah bisa mengadon anak lagi, ckck.
Keduanya asik memakaikan baju sedang Shena hanya melihat dari sofa semua aktifitas yang sedang di lakukan orang-orang di sekitarnya itu, ia masih jarang mau ikut bergabung kecuali jika di dalam kamarnya.
XaRa yang merasa terbantu pun bertepuk tangan senang dan terus mengucapkan terimakasih pada papanya, tak lupa ia juga memperlihatkan bonekanya yang sudah cantik dengan baju barunya kepada sang Mama.
Mumpung XaRa sedang anteng dengan Shena, Fajar pun mencari keberadaan si sulung yang ternyata asik bermain dengan sepupunya yang lain.
"Kak ZaRa lagi apa?" tanya Fajar yang aneh melihat penampilan anak gadisnya yang sedang memakai topeng.
.
.
.
Kakak lagi mau pelang sama anaknya Papih Yiyin nih...