
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hari pertama Fajar masuk kerja, Shena meminta pulang ke rumah Abah dan Enin. ia tak bisa membayangkan bagaimana harinya dari pagi hingga sore di rumah utama tampa sang suami. Meski Lintang juga ke kantor tapi tidak berarti dengan El yang bak Jailangkung sebab sering datang dan pulang sesuka hatinya.
"Mau berapa hari disana?" tanya Fajar di tengah perjalanan.
"Gak tahu, kapan kapan aja pulangnya," jawab Shena yang kini merasa semua sama saja tapi jika bisa memilih ia lebih nyaman di rumah Abah dan Enin karna hidupnya jauh lebih damai dan aman, tak perlu takut ada serangan dadakan.
"Ya udah, nanti kita bagi dua ya."
"Gak! satu aja buat aku," tolak Shena sambil merengut kesal.
"Nginepnya, Sayang. Bukan akunya," sahut Fajar yang gemas dengan Si mantan JanCiL yang sedang menggodanya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang karna itu sengaja di lakukan oleh Fajar seolah ia tak ingin waktu kebersamaannya cepat berakhir dengan sang istri yang sejak awal selalu menempel padanya. Mereka yang biasa berdua dalam melakukan hal apapun seolah sudah ketergantungan satu sama lain.
Sampai di bangunan sederhana dua lantai, sepasang suami-istri itu pun turun dari mobil. Sudah ada Enin di teras yang menyambut sebab tahu jika cucu dan cucu mantunya akan pulang.
"Kalian sudah sarapan?" tanya Enin.
"Sudah, Enin. Aa langsung berangkat ya," pamitnya langsung pada kedua wanita kesayangannya tersebut yang kebetulan Abah Rendra juga keluar.
Fajar meraih punggung tangan sepasang orang tua baya itu untuk di cium takzim.
"Hati hati di jalan ya A'," pesan Abah dan Enin yang di jawab anggukan kepala serta senyum manis dari Si tengah.
"Hati hati sama hati ya A'," pesan Shena tak mau kalah.
Kaget?
pasti, karna tak menyangka Shena akan berkata demikian apalagi di depan Enin dan Abah yang tatapannya tertuju padanya kini.
"Bagus! Aa kalau nakal nanti gak jepit sama Shenaaaaaaa--," teriak Si mantan JanCiL sambil masuk kedalam, dan itu membuat Abah dan Enin tertawa.
Namun, tidak bagi Fajar yang ingin tenggelam ke dasar laut saking kalinya.
"Pulang nanti, akan ku gigit semuanya!! " bathin Fajar seolah ingin balas dendam tapi waktu yang tak memungkinkan.
"Aa berangkat ya, titip Shena."
"Iya, disini aman, kecuali Lilin dan El kesini," kekeh Enin yang tahu bagaimana tiga orang itu jika sedang berkumpul.
"Duh, jangan deh. Biarin mereka di rumah masing-masing," jawab Fajar yang tak berharap hal itu terjadi.
Fajar masuk kembali ke dalam mobilnya, ini adalah hari pertama ia ke kantor lagi setelah sekian lama memilih bekerja di rumah, mulai dari kecelakaan hingga pernikahan meski setelahnya tak pernah ada bulan madu sungguhan kecuali jalan-jalan kemana saja yang Shena mau, superti taman jajan dan kini market.
"Ya Tuhan, baik yang mana yang sedang engkau balas sampai mengirimku jodoh seperti Senandung?" gumam Fajar di tengah perjalanannya ke kantor.
Senyum tersungging di ujung bibir pria tampan itu jika ingat kelakuan istrinya selama ini termasuk barusan yang kadang bicara sesuai apa yang ada dipikirannya. Hingga bayangan itu buyar saat dering ponselnya berbunyi.
"Iya, Bun. Ada apa?" tanya Fajar menyapa wanita pemegang tahta tertinggi di dalam hatinya.
.
.
.
Ini anak MACAN siapa???