
🍂🍂🍂🍂🍂
Hem, bawa kemari nasinya."
Fajar pun langsung memberikan apa yang di minta Phiu. Dengan perasaan tak habis pikir ia melihat sebungkus nasi yang kini sedang di jepit di ketiak kiri sang tuan besar.
"Biar apa coba kaya gitu?" tanya Fajar tak paham.
"Biar jadi kesayangan emak-emak online nanti," jawab Phiu sambil terkekeh lalu memberikan apa yang dari ketiaknya tadi.
"Berikan pada Shena, dia pasti sedang kelaparan," lanjut pria baya tersebut yang di iyakan langsung oleh cucunya.
"Terimakasih, Phiu. Maaf merepotkan," ucap Fajar yang selalu tak enak hati namun justru di balas dengan senyuman pertanda semua tak apa-apa dan baik baik saja.
"Sudahlah, yang ada Aa yang harus siap di repotkan," jawab Phiu yang seolah hanya memberi kode kode kecil pada cucu keduanya yang hanya menggangguk, padahal aslinya pria itu tak paham.
Fajar kembali ke kamarnya yang memang masih satu lantai dengan kamar Sang Tuan besar. Kedua matanya tak lepas dari nasi bungkus berbentuk pipih yang entah apa rasanya sebab ia pun bukan Lintang atau El yang sejak balita begitu tergila gila pada ketek.
Ceklek..
Pintu di buka oleh oleh Fajar hanya dengan satu tangan karna tangan lainnya ia gunakan untuk memegang si nampan.
Senyum terukir di ujung bibirnya mana kala ia melihat Shena sedang duduk di tengah ranjang mereka.
"Nasinya udah diketekin?" tanya Shena langsung yang hanya di jawab gelengan kepala saja dari Fajar.
Keduanya sarapan bersama di depan TV tepatnya di atas karpet lantai dengan sebuah meja di tengahnya.
"Enak?" tanya Fajar sambil memperhatikan Shena makan dengan lahapnya.
"Enak lah, manis loh, mau coba?" tawar wanita itu sambil menyodorkan sendok berisi nasi ke hadapan mulut Fajar.
"Enggak, buat kamu aja semua. Nanti gak kenyang kalau di kasih Aa," tolak Fajar dengan sebuah alasan.
"Kalau gak Kenyang tinggal nambah, A'," jawab Shena dengan santainya, padahal ia tahu sendiri akan ada sebuah perjuangan untuk mendapatkan hal tersebut pabila ada penghuni tetapnya.
"Nasinya tuh banyak, cuma keteknya yang gak ada. Yang kiri udah hak paten Lilin sedang yang kanan punya El," jelas Fajar yang tentu tahu betul bagaimana kelakuan adik kandung dan adik sepupunya tersebut.
"Ntar aku diem diem pinjem keteknya."
"Tapi apa seenak itu?" jiwa Fajar yang penasaran pun tak kuasa dan akhirnya meronta meronta.
Shena mengangguk mantap, dan setahu Fajar pun ia adalah sosok wanita yang paling jujur dengan apa yang di rasakan, meski jarang bisa mengartikannya terutama masalah cemburu.
"Enak banget, wangi manis Strawberry," jawab Shena yang membuat Fajar tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
Meski kadang kadang bahkan sepertinya selalu diluar akal sehat semua maunya Shena, tapi sebisa mungkin akan di turuti selagi ada dan bisa di wujudkan oleh sang suami, sebab bukan harta yang di butuhkan wanita itu, melainkan rasa hadirnya selalu di anggap.
Urusan sarapan dengan nasi ketek selesai, kini saatnya mereka pergi ke kantor.
Ya, Shena akan tetap pamer kalung Bubu pada semua karyawan kantor. Dan, yang membuat Fajar kesal adalah Ayah dan Phiunya justru memberi izin dengan alasan kasihan dan tak tega, memang se menggemaskan itu tampang Shena jika sedang ingin sesuatu.
.
.
.
.
"Kita jalan-jalan ya, Bu. Kamu gak boleh nakal dan jangan berisik, Ok." pesan Shena pada kesayangannya itu seolah sedang menasehati anaknya sendiri.
Dan sialnya hewan berbulu putih itu seakan paham sebab malah usel usel di dada majikannya.
Melihat hal tersebut tentu membuat yang punya kawasan asli merengut kesal karna area favoritnya di sentuh oleh Si Bubu.
"A' lucuan Shena atau Bubu?" tanya wanita itu dengan tatapan polos.
Andai ia tahu jika pertanyaan itu adalah sebuah jebakan BatMan bagi semua kaum Adam yang biasanya apapun jawaban yang di berikan pasti akan selalu SALAH hingga berakhir perdebatan.
"Dua duanya lucu, Sayang."
"Tapi Shena tanya yang mana loh," ucapnya yang mulai rewel.
"Kamu sama Bubu lucunya beda, jadi ada kelebihannya tersendiri, Ok." Fajar kembali memeberi pengertian sambil mencium kening istrinya.
'Punya dosa apa ya, bisa satu mobil sama anak Macan??' bathin Fajar yang tak habis pikir, tak pernah terbersit dalam hatinya hal ini akan terjadi dalam hidupnya, sungguh ini adalah uji nyali yang sangat mendebarkan melebihi saat di tagih cicilan di waktu jatuh tempo.
Sampai di kantor, semua yang awalnya tenang meski sibuk dengan urusan masing-masing mulai kaget saat Shena yang turun sambil menggendong hewan buas yang masih berukuran kecil.
"Se--selamat siang, Tuan," sapa beberapa penjaga keamanan di bagian lobby kantor, biasanya mereka menyapa dengan sangat sopan tapi untuk hari ini justru jauh berbeda dimana nada bicara para lelaki tegap dan tegas itu terbata-bata karena kaget, takut dan was was.
"Siang," jawab Fajar se normal mungkin.
Bubu yang di turunkan dari gendongan mulai berjalan sendiri dengan penjagaan dari pak Iwan, meski Shena memegang sebuah tali untuk mengontrol gerak dan jalannya namun ia tetap harus waspada sebab banyak orang baru yang di lihat Bubu, takutnya Si anak Macan putih itu tak nyaman dan mengamuk. Entah akan jadi apa gedung tersebut jika Bubu berlarian didalam sana sambil mengaum.
#JanganDibayangin.
#KetawaTakutDosa
#KalauDiCiumAppaJajahGPP.
Tapi, untungnya Bubu begitu tenang karna terbukti mereka sampai di ruangan Presdir dengan aman tanpa drama apapun meski semua semua yang berpapasan dengan Bubu akan kaget, lemas dan bahkan langsung putar arah sambil berlari tanpa menyapa pada atasan mereka tersebut.
"Sampe deh, ugh.. anak baik." ucap Shena yang begitu senang ketika ia duduk di sofa dengan Bubu di atas pangkuannya sedang Fajar langsung ke kursi kebesarannya karna pekerjaan nya sudah menunggu untuk di selesaikan.
Dan, suara ketukan pintu mengalihkan pandangan suami istri tersebut, tak lama kemudian Nina masuk dengan beberapa berkas dan Tab di tangannya.
Bukan menyapa, wanita cantik itu malah terpekik kaget dengan apa yang di lihat, anak Macan putih yang pernah di ceritakan Fajar kini ada di depan matanya.
"Astaga! Bubu!" seru Niha tak percaya dengan kedua mata yang membesar.
Shena langsung mengernyit kan dahi saat nama Bubu keluar dari mulut Asisten pribadi suaminya.
.
.
.
Kok kamu tahu ini Bubu? kan kalian belum kenalan?