
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Tangan melingkar diperut, dagu di atas bahu dengan bicara saling bisik bisik adalah hal yang paling menyenangkan yang sedang di lakukan sepasang suami istri yang kini sedang duduk berboncengan di atas sepeda motor matic warna hitam.
Suara gelak tawa terdengar begitu renyah di telinga Fajar saat mereka saling menggoda atau mengejek satu sama lain.
"Ini tokonya, Sayang." Fajar menghentikan motornya di depan salah satu ruko yang berderet.
"Ada kan kalung buat Bubu?" tanya Shena yang malah nampak ragu karna yang terpampang di depan pintu hanya ada hewan kucing dan Doggy.
"Tanya aja dulu, malu bertanya sesat di di jalan," bisik Fajar.
"Tapi Shena nanya mulu juga tersesat," jawabnya asal dan itu membuat suami sabarnya bingung.
"Tersesat dimana?"
"Di hati Aa," kekeh Shena, kedua pipi Fajar pun langsung merah merona seakan sedang di bawa ke langit ke sepuluh.
"Siapa yang ngajarin ngegombal?" tanya Fajar.
"Gada, cuma pernah denger Ayah godain Bubun."
Fajar membuang napas kasar, pantas saja Shena bisa membalas rayuannya ternyata ia mendengar langsung dari salah satu suhu kang rayu. Untung saja wanita itu tak membawa Hiu ayah.
"Ya udah, masuk yuk. Kita cari yang kamu suka, habis itu cari makan." Fajar turun bersama dengan istrinya lalu masuk setelah mendorong salah satu pintu kaca.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu," sapa sopan nan ramah seorang pelayan toko tersebut.
"Siang, Mbak. Saya cari kalung untuk--," Fajar menjawab dengan perasaan ragu lalu menoleh ke arah istrinya yang masih mengedarkan pandangan.
"Untuk Bubu," sahut Shena.
"Oh, iya. Mari silahkan, di sebelah sini, Kak."
Shena dan Fajar mengikuti si pelayan toko tersebut ke salah satu rak di tengah, disana terdapat banyak. model dan warna sampai Shena bingung sendiri memilihnya.
"Mbak, ini buat kalung anak Macan bisa kan?" tanya Fajar.
"Ma-- macan?" tanya balik wanita berambut sebahu itu dengan ekspresi kaget.
"Iya, muat gak ya?"
Si pelayan yang kebingungan sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal, sudah bertahun-tahun bekerja di toko tersebut tapi baru kali ini ada yang menanyakan kalung untuk anak Macan sebab yang tersedia hanya untuk kucing, Doggy dan juga burung.
"Hem, kalau ukurannya tidak terlalu besar bisa pakai yang ini," ucap Si pelayan tadi sambil memberikan beberapa kalung dengan berbagai warna dan motif.
"Bubu suka warna apa ya, A?" tanya Shena.
"Entah, kan kamu emaknya."
Shena kembali merengut tapi si pelayan hanya tertawa kecil entah harus atau percaya atau tidak jika barang yang sedang di cari dua orang di dekatnya itu memang untuk anak Macan.
Pilihan pun jatuh pada kalung hewan peliharaan berwarna hitam dan juga merah agar kontras dengan bulu si Bubu yang berwarna putih.
Hanya dua itu saja yang di beli oleh Shena karna bingung tak ada yang diperuntukkan untuk anak Macan meski bisa memakai aksesoris Doggy.
"Yakin? gak mau beli bajunya?" tanya Fajar memastikan sebelum mereka bergegas ke meja kasir.
"Iya ini aja.".
" Nanti Bubu masuk angin kalo telANjaang," bisik Fajar lagi.
"Biarin, biar seksi kaya Aa kalau lagi telanjAaang," balas Shena tak mau kalah sambil sedikit menjulurkan lidahnya.
Kedua mata pria itu membesar tak menyangka dengan apa yang akan di katakan istrinya, ia harap tak satupun ada yang mendengar hal tersebut.
"Kita makan apa, Sayang?" tanya Fajar sambil berpikir.
"Apa aja, aku udah laper," jawab Shena pasrah yang saat keluar dari toko perutnya mendadak perih.
Tak tega mendengar istrinya kelaparan, Fajar pun buru buru melakukan sepeda motornya itu kearah salah satu rumah makan terdekat dari toko Aksesoris hewan barusan.
Akhirnya, mereka pun sampai. Fajar dan Shena masuk dan memesan beberapa makanan tapi satu hal terjadi di luar dugaan lagi.
"Bungkus aja, aku mau makan di rumah," pinta Shena.
"Bungkus? nanti lama, Sayang. Kamu kan udah laper banget," sahut Fajar yang tentu bukan istrinya saja sebab dirinya pun sama-sama kelaparan saat ini.
"Aku mau makan dirumah," tegasnya lagi.
Fajar pun menuruti, di pikirnya mungkin sang istri tak terlalu nyaman karena memang cukup lumayan ramai dengan beberapa wanita bahkan pelayan rumah makan ada yang curi curi pandang padanya yang memang terlihat sangat tampan. Tak ingin ada salah paham, drama merajuk lagi sampai adanya hukuman diluar akal Fajar pun mencoba mengerti, padahal jika ingin makan di rumah mereka bisa langsung pulang.
Kurang lebih tiga puluh menit menunggu pesanan mereka pun datang, setelah melakukan transaksi pembayaran keduanya pun bergegas untuk kembali ke rumah utama.
Selama perjalanan pulang, Shena tak seceria saat berangkat, rasa lelah, lapar dan panasnya terik matahari membuat wanita itu hanya menyandarkan kepalanya saja di punggung suaminya.
Kadang Shena berpikir, bagian tubuh Fajar yang mana yang tak membuat ia nyaman?
.
.
.
Motor kini sudah masuk ke garasi, sepasang suami-istri itu pun masuk lewat pintu samping seperti biasa yang tak jauh dari ruang makan dan dapur bersih. Disana ada Bubun dan Rinjani sedang mengupas beberapa buah.
"Kalian dari mana? kok bawa motor?" tanya Bubun penasaran dan memang sudah menunggu anak dan menantunya itu pulang.
"Dari toko di depan sana, Bun. Beli kalung buat Bubu," jawab Fajar sambil menarik salah satu kursi meja makan.
Shena yang sudah duduk lebih dulu sampai menghabiskan segelas air putih yang memang selalu tersedia di atas meja, sedangkan Fajar mulai mengeluarkan makanan yang sudah dibelinya tadi.
"Bun, Jani, aku dan Shena makan ya," ucap Fajar yang tak kuat menahan lapar hari ini, padahal saat sarapan ia cukup banyak makan.
"Iya, makanlah."
Fajar yang baru mau menyuapkan nasi ke mulut di buat aneh lagi dengan tingkah istrinya. Nasi yang sudah tersaji di atas piring malah Shena masukan kan kedalam plastik dan itu berhasil membuat Fajar, bubun dan Rinjani saling pandang,
"Kamu mau apa lagi, Sayang?" tanya Sang suami yang hanya di balas gelengan kepala.
Semua semakin di buat aneh saat Shena bangun lalu pergi dari ruang makan begitu saja tanpa mengatakan satu patah kata pun.
Langkah wanita cantik itu terus berjalan dan menaiki tangga satu persatu sampai ke lantai atas, dan tak sampai disitu saja, karna Shena terus berjalan dan baru berhenti saat sudah didepan sebuah pintu yang tertutup rapat.
Tok.. tok.. tok..
Ketukan tangan Shena nyatanya berhasil membuat penghuni kamar itu membuka pintunya, keduanya saling berhadapan dan melempar senyum.
"Ada apa, Shena?" tanya Sang tuan besar Rahardian.
.
.
.
Laper... bisa tolong jepit nasinya dulu sampai pipih di ketek Hiu??