
🍂🍂🍂🍂🍂
Tiga tahun berlalu...
Adakah yang berubah??
Tentu tidak, semua nampak sama bagi keluarga kecil Senandung Fajar.
"Mamaaaaaaa--," teriak ZaRa dari ambang pintu, ia yang memang sedang mandi terlihat begitu banyak busah di kepalanya.
Shena yang merasa terpanggil pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Apa?" tanyanya yang tak bangun dari duduknya.
Meski sudah jauh lebih baik dengan merespon dan bisa di ajak bicara tapi bukan berarti wanita itu mau banyak melakukan aktivitas seperti dulu, ia masih sering melamun jika tak ada yang menemani. Seperti sekarang, ZaRa dan XaRa yang sedang mandi di biarkan nya saja.
"Maaaah, handuk kakak mana?" tanya Si sulung.
Shena yang mendapat pertanyaan itu masih diam tak menjawab hingga beruntungnya Bubun datang tepat waktu ke kedalam kamar, jika tak ada anaknya ia tak pernah mengetuk pintu lebih dulu karna percuma sebab Shena tak akan menjawab apa lagi mempersilahkan untuk masuk.
"Loh, kakak," seru wanita paruh baya itu saat melihat ZaRa.
Sudah dari bayi di urus dengan baik, meski serupa dengan XaRa, ia tak pernah tertukar sebab kembar di keluarga Rahardian Wijaya itu sangat wajar dan biasa.
"Handuk nya lupa bawa, dimana?"
Bubun yang melihat kearah Shena hanya bisa membuang napas berat, menantu nya itu justru terlihat kebingungan.
"Biar Bubun ambilkan ya, Kakak lanjut mandi, Adek mana?" tanya Bubun yang baru ingat dengan satu cucunya lagi.
"Tuh, lagi belendem main sama bebek," jawab ZaRa sambil menunjuk ke arah kembarannya.
Di dalam kamar mandi, Nyonya besar Lee itu mengurus ZaRa dan XaRa seperti biasa, semua memang di lakukan sendiri tanpa orang lain. Semenjak Shena perlahan membaik ia jadi takut bertemu orang lain termasuk keluarga, hanya suami, Bubun dam Enin yang bisa dekat dengannya selain kedua putrinya.
"Buuuun--," panggil ZaRa.
"Mama kapan sembuh? kakak mau main sama Mama," tanya ZaRa, ini bukan pertanyaan pertama namun rasanya tetap mencelos ke hati.
"Sabar ya, kan ada Bubun dan Enin."
"Tapi mau sama Mama, kaya teman teman kakak juga adek, iya kan, Dek?" tanyanya pada XaRa yang di jawab angguk kan kepala.
"Iya, nanti bisa main sama Mama. Sekarang selesai kan dulu mandinya." Bubun yang tak punya jawaban hanya bisa mengalihkan fokus mereka dengan mengajak bercanda si kembar hingga suara gelak tawa cukup menggema ke seisi kamar mandi.
Urusan membersihkan diri selesai, kini saatnya para kesayangan Buaya betina dan kadal jantan berdandan secantik mungkin, di tangan bubun dua gadis cilik itu akan menjelma layaknya princess.
Belum selesai menyisiri XaRa, terdengar suara pintu terbuka yang tak lain itu adalah Fajar. Ada senyum kecil terulas di ujung bibir Shena saat melihat pria halal, baik, dan sabarnya itu masuk.
"Papaaaaaaah," teriak XaRa, si paling manja dan rewel sejak bayi.
"Kok udah mandi? mau kemana?" tanya Fajar bingung karna jam masih menujukkan pukul 2 siang.
"Entahlah, Bubun masuk mereka sedang mandi," jawab Bubun.
Fajar yang membawa sebuah Paper bag di tangannya langsung di ambil oleh ZaRa, ia begitu senang dengan apa yang kini sedang ia keluarkan dari dalam bungkusan.
"Awas jatuh, pelan pelan," kata Fajar. Ia yang mau mengambil satu dari sekian banyak yang sudah terhidang di atas meja pun di cegah oleh ZaRa.
.
.
.
Sini, bial kakak aja yang suapin Mama yaaa...