
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
{Terima kasih dan mohon yang sudah membaca ulang part 117, ada banyak typo karna memang belum di revisi tapi sudah ke UP }
☘ HAPPY REDING ☘
"KUTUUUUUUUUUUUUU," teriak Shena saat melihat Bubu sedang bersama dengan El, sedangkan ia saja sejak kemarin bahkan hari ini belum bertemu dengan hewan berbulu pitih menggemaskan tersebut.
"DEMOOOOOOOY," sahut El tak mau kalah, sedangkan Bubun dan XyRa hanya bisa menutup telinga mereka masing masing saat Shena dan El saling berteriak.
"Jangan pegang Bubu!" Shena yang tak suka langsung menghampiri kesayangannya, ia perhatikan dengan seksama jangan sampai ada yang terluka.
"Siapa juga yang mau pegang Bubu, mohon maaf nyawa saya cuma satu!" cetus El sambil mencibir.
Ia memang tak berani melakukan itu karna bagaimana pun ia tahu betul hewan tersebut tetap buas meski masih kecil dan ada pak Iwan juga yang mengawasi. Entah Shena punya keberanian dari mana sampai mau memelihara si Bubu sementara di rumah utama, padahal semakin hari hewan itu semakin besar dan tinggi sebab di urus dengan sangat baik mulai dari makanan, susu hingga vitamin, Bubu juga punya dokternya sendiri sama seperti hewan peliharaan uncle Rain.
"Mau di abisin gak nyawanya sekali an?" tawar Shena dengan polosnya.
"Buset! Cari ribut nih Dung Dung Pret tekewer kewer," jawab El yang mau menghampiri Shena yang masih menggendong Bubu
Tapi, belum juga El melakukan itu, telinganya sudah di tarik oleh Fajar dan itu berhasil membuat Shena tertawa senang. Pria tampan dengan tubuh tinggi putih tersebut selalu menjadi pahlawannya dalam sgala keadaan.
"Aaaaaaaa, sakit Aa!" pekik El yang merintih menahan nyeri di daun telinga kanannya.
"Jangan macem macem."
"Cuma satu macem ih, si dung dung pret noh yang duluan, nawarin tuh makan, bukan nawarin ngabisin nyawa!" rutuknya kesal dan emosi tingkat dewa.
"Kan cuma nawarin, kalau gak mau gak apa apa," sahut Shena tak mau kalah sambil sedikit menjulurkan lidahnya.
Bubun yang ikut mengantar sampai pintu utama meninggalkan anak dan menantunya tetap di halaman samping.
"Taruh kandang dulu Bubu nya sana," titah Fajar yang masih ngeri ngeri sedep jika berdekatan dengan hewan tersebut.
"Bubu baik A'," tolak Shena yang masih mau melepas rindu di antara mereka berdua.
"Ya sudah, Bubunya pangku aja, jangan di gendong gendong terus, kamu harus ingat, kalau kamu ini sedang hamil, Sayang."
Shena mengangguk paham, ia dan Fajar kini duduk beralaih ke gazebo dengan bubu yang berjalan sambil ia pegangi tali kalungnya, hewan itu sudah semakin cepat berlari dan sangat kewalahan jika harus mengejarnya.
"Kapan Bubu mau di pulangkan? Cukup ya main mainnya, semakin besar dia semakin berbahaya, Sayang. Aku khawatir sekali," tanya Fajar yang tak akan tenang karna sampai sekarang Shena masih mengangkat bubu.
"Harus di pulangin? Gak bisa nanti aja?" tanya balik Shena yang langsung sedih dengan permintaan suaminya.
"Nantinya itu kapan? Semua harus pasti, kan sudah Aa bilang semakin lama Bubu disini, kamu akan semakin sayang, Aa gak larang itu tapi balik lagi ke rencana awal jika kita hanya meminjamnya sementara," ucap Fajar mengingatkan lagi.
Shena diam, ia tak punya jawaban untuk pertanyaan tersebut karna memang benar yang di katakan sang suami jika ia semakin sayang hewan itu tak perduli sebuas apa kata orang karna bagi Shena Bubu seperti anak kucing yang manja.
"Shena--," panggil Fajar lagi yang kali ini di abaikan.
.
.
.
Nanti aja ya, tunggu adeknya lahir, boleh??