
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Shena yang sudah masuk lebih dulu di susul oleh Abah juga Enin setelah Sang cucu sudah pamit untuk berangkat ke kantor.
Pasangan baya itu langsung menghampiri Shena yang ternyata ada di ruang makan.
"Enin gak ada buah?" tanya Shena.
"Itu pisang sama jeruk," jawab wanita baya tersebut yang ikut duduk juga di sebelah cucu mantunya.
"Mau pepaya, Enin."
"Gada, Nak. Enin udah jarang banget sekarang beli Pepaya tapi di kulkas rasanya ada buah salak," sahut Enin, ia bangun dari duduk lalu menghampi lemari pendingin dua pintu yang tak pernah kosong dari segala bahan makanan.
"Udah Abi makan, Umma." Pria baya itu berucap sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal karna Sang istri langsung menoleh padahal tangannya baru saja mendarat di pegangan kulkas.
"Semua?" tanya Enin yang di balas anggukan pelan.
Shena yang tertawa semakin membuat Abah Rendra malu karna sudah menghabis kan Si buah seorang diri. Bubun memang paling rajin menyetok isi kulkas serta kebutuhan yang lain meski tidak dengan jumlah banyak karna di rumah itu hanya ada tiga orang. Abah, Enin dan ART walau dulu ada Shena juga Fajar tapi pasangan suami istri kini tinggal bergantian di rumah utama juga.
"Abah tuh keren ya, giginya masih kuat kunyah buah salak," kekeh Shena yang entah itu memuji atau meledek.
Keseruan di dapur yang menyatu dengan ruang makan itu terus berlanjut dengan banyaknya obrolan yang terjadi pada tiga manusia yang masih melepas rindu tersebut.
Gelak tawa karna kepolosan saat Shena bercerita selalu membawa warna lain bagi pasangan baya Abah dan Enunt, hingga mereka di kagetkan dengan datangnya Fajar kembali ke rumah.
"Loh, ada apa A'?" tanya Enin kaget karena takut terjadi sesuatu.
"Gak ada apa-apa, Nin, Aa mau jemput Shena lagi," Abah dan Enin langsung saling pandang kebingungan.
"Kalian jangan khawatir, Shena ada tamu di sana. Jadi aku bawa pulang dulu ya sebentar," lanjut Fajar yang tahu jika Abah dan Enin semakin di buat tak mengerti dengan alasannya kembali.
Shena yang menurut pun di bawa ke rumah utama lagi, banyak pertanyaan tentang apa dan kenapa ia di bawa pulang tapi tak satu pun di jawab oleh Fajar sampai wanita itu kesal sendiri karna merasa di abaikan.
Rumah utama yang sepi membuat keduanya langsung menuju bangunan paling belakang dimana para hewan berbulu warna warni berada, tapi kal ini tak seperti biasanya karna ada ukuran yang jauh lebih besar.
"Ini apa?" tanya Shena kaget bukan main.
"Anak Macan! siapa yang beli?" tanya balik Fajar yang langsung membuat dahi istri cantiknya itu mengernyit.
Setahu Shena, inginnya untuk punya anak Macan ditolak oleh Sang suami. Tentu ia tak akan meminta pada siapa pun lagi. Selagi bisa membeli pakai kartu ajaib pun ia bingung dimana tempat penjualan anak Macan. Jadi, saat mendapat pertanyaan seperti tadi, pastinya ia bingung sendiri.
"Aa tanya aku? lalu aku tanya---?" Shena yang berhadapan dengan suaminya kini berbalik arah lagi ke depan kandang yang cukup besar bawaan Si Macan.
"Hey, anak Macan, kamu dari mana?" tanya Shena sambil tertawa kecil.
Ia yang mau membuka kunci kandang tentu langsung di cegah oleh suaminya.
"Mau apa, Kamu?" tanya Fajar.
Mau ku kasih pelatihan awal buat nanti sore.