Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 107


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Huft--." Fajar setidaknya masih bisa membuang napas lega saat Shena untungnya hanya berbisik saat ia mengatakan Gel yang di gunakan untuk USG itu sama dengan lahar cintanya yang hanya.


Tak jarang memang Fajar mengeluarkan di luar saat Shena sedang halangan, entah itu di tangan atau di dada sang istri.


"Jangan berisik, nanti kedengaran dokter, Sayang."


"Ini gak berisik, kan lagi bisik bisik Aa'," sahut Shena yang malah cekikikan padahal perutnya sedang di periksa dan mulai merasakan geli dan dingin luar biasa.


"Bagaimana, Dok?" tanya Fajar yang penasaran, hatinya berdebar hebat menunggu jawaban.


Tak seperti Shena yang nampak santai dan menurut saja saat di minta untuk diam, sepertinya ia sedang benar benar menikmati sensasi yang baru pertama kali dirasakan.


Shena yang putus sekolah saat SMP tentu putus juga pergaulannya, jika tak sibuk membantu Ibu ia akan di kunci di dalam kamar dan itu ia jalani hampir tiga tahun lamanya sampai akhirnya menikah dengan Tagor lalu di urus dengan baik oleh Fajar hingga saat ini.


Jadi, bisa di bayangkan bagaimana kosongnya pengetahuan Shena yang di rumah pun tak ada televisi, apa lagi ponsel yang hanya orang orang tertentu yang punya barang mewah di kota tersebut. Kota kecil yang di datangi Fajar yang sebenarnya untuk sekedar singgah sebelum ia sampai di tujuan sebenarnya.


Dokter yang mendengar pertanyaan dari sang tuan muda pun hanya menoleh lalu tersenyum simpul di balik masker, meski begitu tetap bisa terlihat karna kedua matanya yang sedikit menyipit.


"Sebenarnya belum bisa terdeteksi secara pasti, bagaimana jika tespek lebih dulu?"


Fajar mengusap wajahnya dengan kasar, kenapa hal ini bisa terlewat olehnya. Harusnya ia periksa dulu di rumah dengan alat kecil tersebut dan apapun hasilnya barulah ia periksakan lagi ke rumah sakit.


"Baik, Dok," jawab Fajar.


Salah satu perawat langsung menyerahkan alat tes kehamilan yang masih terbungkus rapih berwarna biru.


Fajar yang menerima benda tersebut langsung menarik tangan Shena menuju toilet, ia tak yakin jika istrinya bisa menggunakan tespek jika seorang diri di dalam sana. Dari pada terjadi kesalahan atau banyak bertanya lebih baik ia yang mengajari langsung.


Meski Fajar pun tak tahu dan baru pertama kali tapi setidaknya ia paham langkah langkah bagaimana caranya menggunakan benda tersebut.


"Ngapain A'?" tanya Shena yang bingung saat di bawa ke dalam kamar mandi, ia juga malu karena di luar ada dokter dan juga dua perawat.


"Buka celananya, terus piPiSs," titah Fajar.


Mendengar perintah sang suami, tentu Shena hanya bisa mengernyit kan dahinya, apa ia tak salah dengar?


"Buat apa buka celana? aku gak mau jepit hampit disini," tolak Shena yang mundur satu langkah.


Kedua pipi Fajar langsung merah merona, ia malu rasanya di fitnah ingin main main di dalam toilet ruang dokter oleh istrinya sendiri. Fajar hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal karna kebingungan sendiri. Ia belum berani mengutarakan tebakannya pada Shena.


"Kamu ikutin Aa ya, sekarang buka celanya terus piPIs, tapi air air PIPisnya taruh kesini sedikit, Ok. Emaknya Bubu paham dong?" tanya Fajar setelah ia menjelaskan apa yang harus di lakukan istrinya tersebut.


"Enggak!" jawab Shena sambil menggelengkan kepala.


Tak ingin berlama-lama berdebat karna waktu semakin lama, Fajar pun menarik tubuh Shena. Tangannya yang mau membuka kancing celana di tahan hingga keduanya kini saling tatap dengan jarak yang cukup lumayan dekat.


"Ayolah, Sayang. Kita gak punya waktu banyak," mohon Fajar yang sengaja memasang wajah menyedihkan agar Shena mau menurut padanya.


"Tapi Shena gak pengen PiPiSs," ucapnya kekeuh.


"Tapi kamu harus pipiSs biar tahu hasilnya nanti," paksa Fajar yang langsung di jawab gelengan kepala oleh Shena lagi.


.


.


Aku gak pengen piPis, lagian biasanya juga kan di PiPisIn Aa!!