
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Shena yang baru keluar dari kamar di tuntun pelan oleh suaminya. Kini, ia tak bisa sama sekali berjalan cepat apalagi untuk jarak jauh.
Sudah kurang lebih 4 bulan wanita itu tak di izinkan untuk naik turun tangga, Shena selalu menggunakan Lift yang di rasanya selalu hangat tersebut saat ingin ke ruang lain di lantai bawah dan juga saat kembali ke kamarnya.
Dengan tangan saling menggenggam, keduanya masuk kedalam kotak besi, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Shena, ada saja yang ia rasakan jika sedang ada di dalam sana, hingga suara nyaring terdengar yang menandakan mereka sudah sampai di lantai 1.
"Ayo, sudah Aa bilang jangan melamun," ajak Fajar sembari mengingatkan.
Shena hanya mengangguk, lalu tersebut simpul kearah pria yang selalu ada untuknya tersebut.
Sampai di ruang makan, semua mata tertuju pada pasangan suami istri yang baru datang, Fajar lebih dulu menarik kursi untuk Shena duduki, baru setelah itu ia melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri.
Tak ada keributan pagi ini, semua terasa tenang dan sepi karna semua tahu jika hari ini Shena akan melahirkan. Begitupun dengan Lintang yang mengunci mulutnya rapat rapat padahal tak ada yang meminta nya untuk bersikap manis seperti itu.
"Makan yang banyak ya, habis ini kamu pasti akan di minta untuk puasa," titah Bubun yang tatapan begitu teduh, dan itu berhasil membuat Shena terharu sedih ingat dengan ibu.
"Iya, Bun."
"Kami disini akan mendoakanmu, kamu tenang saja ya, kamu tak sendiri Shena," timpal Mhiu tak kalah perhatian.
Shena mengangguk pelan sambil berusaha menelan apa yang kini sedang ia kunyah. Tak seperti biasanya sudah siang begini ia belum merasa lapar, padahal jika di ingat ingat Shena sudah bisa langsung memakan beberapa potong kue dan segelas susu sebelum sarapan bersama.
Apa yang ia kunyah terasa hambar sampai sulit di telan, dan Fajar peka akan hal itu.
Tentu, bukan hanya fajar dan Shena yang akan kerumah sakit karna ayah dan bubun pun akan ikut mengantar juga. Keduanya tak akan dilepas begitu saja karna untuk kontrol setiap bulan pun Bubun tetap ikut serta, hanya kemarin saja ia tak bisa ikut karna ada urusan yang cukup mendesak.
Setelah sarapan, Fajar pamit sekalian meminta doa pada semua yang ada di meja makan, tak terkecuali pada abang dan adiknya. Lintang yang pastinya sayang pada Shena pun bersikap manis pada kakak iparnya.
"Nanti, kalau udah lahir Lilin kesana ya, mau liat hasil karya Dung Dung Pret," ucapnya sambil mencubit pipi Shena dengan gemas.
"Gak usah, ribet!" jawab Shena dengan mata berkaca-kaca, itu tahu jika semua orang sayang padanya tapi entah kenapa ia selalu tak betah jika tak berdebat dengan para iparnya itu.
"Yakin?" goda Lintang dengan senyum jahilnya. Meski memiliki wajah yang sama namun bagi Shena senyum suami nya lah yang terbaik.
.
.
.
Selama perjalanan, Fajar terus menciumi punggung dan telapak tangan istrinya. Andai bisa di bagi dan di gantikan tentu ia tak keberatan tapi sekaya, sehebat, dan sekuasa apapun seorang Fajar Rahardian Lee Wijaya, ia tetap tak bisa berbuat apa apa, hanya bisa menemani dan terus berdoa untuk keselamatan anak dan istrinya.
Semua tentu akan kembali pada kodrat dan Fitrahnya masing-masing sesuai porsi serta posisi.
"Aa nanti gak akan kemana-mana 'kan?" tanya Shena yang terlihat semakin cemas.
"Enggak, Aa akan terus temenin kamu," jawab Fajar meyakinkan. Ia memang tak berniat meninggalkan Shena sedikit pun biarkan ayah dan bubun yang mengurus segala sesuatunya termasuk memberikan kabar karna semua anggota keluarga pasti akan menunggu termasuk Abah dan Enin yang kini ada di rumah mereka.
"Jangan banyak memikirkan hal lain, cukup fokus pada persalinanmu saja ya," pesan Bubun sambil mengusap lembut punggung menantu keduanya tersebut.
Satu hal yang paling Shena sesali adalah, belumnya ia ke makam sang ibu di detik detik terakhir ia tak bisa lagi kemana mana nantinya, dan Fajar sudah menjanjikan kesana akhir pekan ini namun jadwal persalinan justru sangat mendadak dari dokter.
Meski doa akan sampai dari mana saja, tapi ia sangat ingin menatap tulisan nama Ibu di batu nisan, memberinya air aroma mawar dan juga menabur bunga segar berwarna merah, hijau dan putih di atas rerumputan yang sengaja di tanam disana. Makam sang pemilik Surga kini begitu cantik tak hanya sekedar gundukan tanah dan bambu saja yang tertancap sebagai tanda, tempat peristirahatan terakhir Ibu benar-benar di urus dengan baik dan rajin di kunjungi juga oleh bapak sekarang.
Sampai di rumah sakit, Shena langsung di periksa mulai dari tes urine, tekanan darah, detak jantung bayi dan sebagainya termasuk suntik anastesi. Semua ia lalui dengan perasaan berdebar di usia yang belum genap dua puluh tahun. Itulah salah satu alasan kenapa wanita cantik tersebut tak bisa melahirkan normal meski ada alasan alasan lainnya.
Waktu yang paling mendebarkan tiba, Shena yang tak mau di bius total karna takut di tinggal suaminya tetap menatap kearah Fajar. Ia tahu dan terharu saat pria itu terus berdoa demi keselamatannya.
"Kenapa?" tanya Fajar sambil mengusap cairan bening di ujung mata Shena.
.
.
.
"Kalau ada apa-apa nanti denganku, tolong pilih anak kita ya A',"