
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Dekor gedung dan pelaminan mewah, gaun pengantin yang cantik dan sangat elegan serta kue berwarna putih yang menjulang tinggi benar-benar semua itu atas keinginan Shena yang kini di wujudkan oleh suaminya.
Resepsi pernikahan anak kedua dari pasangan keluarga Rahardian Wijaya dan Lee tersebut tak kalah indah dari kedua saudara kembarnya, apalagi Fajar anak terakhir yan menikah meski ia lahir di urutan nomer dua.
"Aku mimpi lagi," ucap Shena lirih saat ia berada di pelaminan yang di depannya bak lautan manusia.
Tapi dari banyaknya tamu, tak ada yang di kenal Shena kecuali keluarga inti suaminya.
"Kamu ngantuk?" tanya Fajar.
"Aku gak tidur, tapi aku lagi mimpi, A',"ulangnya memang tak percaya.
"Ini nyata, Sayang. Kan semua ini mau mu," jawab Fajar yang tentu langsung di iyakan oleh Shena.
Di bantu para kakak ipar, orang tua dan sepupu semula yang tak pernah di terpikirkan justru hari ini bisa ia rasakan. Acara akad yang menurut Shena luar biasa megah dan ramainya tak sebanding dengan acara Resepsi.
"Terimakasih ya A', andai Ibu ada, dia pasti senang sekali."
Bukti nyata sosok orang tua yang hanya satu dan tak terganti, sebaik apapun orang di sampingnya mereka punya ruang tersendiri hingga terasa tetap sepi meski di tengah keramaian sekalipun.
.
.
.
"El gak doyang doyang utel utel aju undul lili nanan?" goda Sean yang masih menganggap adiknya itu balita padahal sudah menjadi seorang mahasiswa.
"Ntar, El konser di kamar aja soalnya pake Celulut Celulut," sahutnya sambil cekikikan.
Bergabung dengan para kaka sepupu yang bikin istigfar mesumnya tentu membuat RaXeL Rahardian Wijaya tak sepolos yang orang kira.
Ada saja tingkahnya yang kadang ikut menyerempet ke hal yang berbau ranjangan meski hanya tipis tipis. Tapi, itu sudah menandakan jika ia memang bukan anak baru kemarin.
Huuuuaaaaa....
"Chio ngantuk, kapan pulang sih?" tanyanya yang seperti orang teler.
"Tidur noh di kolong meja," sahut Angkasa yang kesal bercampur gemas.
"Chio ke kamar duluan ya, kalau Mama tanya nanti," pesannya kepada para sepupunya.
Tak perduli apa yang sedang di bicara kan, di bercandakan apalagi di ributkan. Chio hanya tahu jika bermimpi jauh lebih menyenangkan dari segala hal.
"Kapan jeleknya sih tuh anak?" tanya Shaka.
"Bayangin kalau malam pertama? teler gak dia?" balas Angkasa yang selalu satu server dengan sepupunya itu.
"Enggak, kayanya itu akan jadi pengecualian deh," sahut Sky yang diam diam menimpali juga.
Sekalem apapun, jika pembahasannya tentang Ranjang pasti telinganya akan selebar gajah dan mulutnya pasti tak ber filter lagi.
"Huaaaaa, kaya Aa, bilang apa kemarin itu si Panda Dung Dung Pret? Aa ngompa terus, Lilin lemes seketika," ucapnya yang heboh sendiri seperti biasa.
"Cih, pedahal pengen tuh!" cetus El yang lalu bersembunyi di balik punggung abangnya, Sean
"Eh, El demoy Kutu Kupret tau aja," balas Lintang tak mau kalah.
Kedua mata si anak kecil sontak terbuka lebar saat mendengar kata tambahan dari si kuncen akhirat
"El Demoy! tolong jangan suka di lebih lebih kan, kalau di besar besarkan, boleh deh! eh, tapi apa tadi gak denger?" tanya nya yang baru sadar kembali.
"KUTU KUPRET!!!" sahut yang lain berbarengan.
"Siapa? yang bilang gitu ke El?"
.
.
.
Aku... Kak SHENA!!!