
🍂🍂🍂🍂🍂
Satu gelas susu hangat di tegak habis oleh Shena dan lagi lagi itu membuat Mhiu dan Bubun saling pandang.
"Kamu laper? sarapan duluan ya," kata Bubun pada menantu keduanya itu.
Shena menggeleng, meski sebenarnya ia lapar tapi ada rasa tak enak jika harus mendahului keluarga yang belum semua kumpul di meja makan termasuk suaminya yang mungkin masuk terbuai mimpi.
Begitupun dengan Angkasa dan Lintang karna baru para pawang dan krucil mereka saja yang turun ke bawah dan berada di ruang makan.
"Kak Jani, ini apa?" tanya Shena.
Meski keturunan Wardhana itu adalah adik iparnya tapi Shena tetap menghormatinya sebab jarak usia yang cukup lumayan jauh, begitupun dengan Rinjani, meski Shena di anggapnya adik yang menggemaskan tapi ia tetap menghargai Shena sebagai kakak iparnya. Jadilah dua wanita itu saling memanggil dengan sebutan Kakak dan Shena tak bisa protes apalagi di depan orang tua.
"Itu kue dari yang di buat dari beras ketan, dalamnya ada abon sapi, ayam suir juga daging cincang," jawab Rinjani.
"Enak?" tanya nya lagi yang seingatnya ia belum pernah makan itu.
"Cobain aja, kalau menurut ku itu enak."
"Apa namanya? kaya lontong mini."
Semua yang mendengar pun akhirnya tertawa, termsuk Rinjani yang sambil membuka satu untuk Shena cicipi.
"Ini bukan lontong mini, iya sih mirip karna sama-sama di Bangkus daun pisang tapi bukan lontong, awas ketuker ya, " kekeh menantu bungsu Lee Rahardian tersebut.
"Terus apa?" tanya Shena lagi.
"Ini tuh---."
"LEMPAR! namanya lempar ya Dung Dung Pret," jawab Angkasa yang tiba tiba datang lalu mengacaukan fokus Shena yang sedang menikmati makanan dalam mulutnya.
"Gak nanya sama Abang!" cetus wanita itu.
Meski jarang berdebat karna Si sulung sering balik ke rumah pribadinya tapi bukan berarti mereka akur akur saja, sebab bagi Shena pria yang baik di rumah utama kecuali suaminya tentu hanya Phiu dan Ayah saja.
"Maunya Terima gaji, kalo kasih gak mau!" balas Shena sambil mencibir.
"Minta sana sama Aa, lagian emang masih kerja?" tanya Si buaya cilik pada adik iparnya tersebut.
"Kemarin sih masih, tapi hari ini lagi C U T I."
"Alah laganya pake cuti segala Dung Dung Pret," timpal Lintang sambil menarik kursi meja makan di samping isterinya, ia ciumi pipi Rinjani sambik merengek rindu padahal pasangan itu berpisah tak lebih dari satu jam.
"Kan Aa gak kerja, jadi Shena juga gak kerja."
Semua saling pandang melempar pertanyaan lewat sorot mata ada apa dan kenapa Si tengah tak masuk kerja hari ini.
"Aa sakit?" tanya Bubun mulai panik karena ini sudah siang tapi memang putranya itu belum juga datang ikut bergabung untuk sarapan.
"Enggak, cuma katanya berdenyut denyut," Jawab Shena yang tanpa ia sadari sudah menghabiskan 6 biji kue lempar eh salah, LEMPER!
"Terus kenapa gak kerja? kalian mau pergi?" tanya Bubun lagi, di antara ketiga menantu keduanya hanya pada Shena wanita itu selalu karna jawabannya selalu di luar dugaan.
"Iya, Shena sama Aa mau beli kalung buat Bubu," jawab Shana.
Angkasa dan Lintang pun tertawa, ia tak bisa bayangkan si anak Macan itu pakai kalung layaknya para keturunan Si Madu dan Si Ireng.
"Buat apa? tuh Macan juga gak akan ilang, lagian siapa yang mau nuntun tuh si Bubu jalan-jalan," sahut Angkasa.
.
.
.
Shena lah... kan buat anter Aa ke kantor!!