
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Shena hamil," ucap Bubun saat ia ada di kamar Mhiu dan Phiu nya bersama dengan XyRa yang baru datang ke rumah utama.
"Hem," sahut Sang tuan besar hanya berdehem pelan, seperti yang di katakan Ayah Keanu nampaknya pria baya beserta istrinya itu sudah tahu dengan kabar baik tersebut.
"Kalian sudah tahu sepertinya, iya kan?" protes Bubun yang merutuk dirinya sendiri yang tak peka.
Apakah ia terlalu sibuk? sampai hal sekecil ini saja luput dari pantauannya.
"Bukan tahu, hanya saja menebak dari awal. Syukur lah jika benar," jawab Phiu sambil tersenyum simpul.
Bubun hanya bisa membuang napas kasar, Shena tentu tak seperti Bintang maupun Rinjani yang meski hamil muda anak pertama mereka sudah bisa menerka saat merasa ada yang tak beres dengan tubuh mereka. Lagi dan lagi tak semua orang punya kepekaan dan pikiran yang sama dalam menghadapai perihal masalah.
"Berapa bulan?" tanya XyRa.
"Belum tahu, masih kurang dari 6 minggu sepertinya, karna 2 pekan mendatang Shena harus kembali ke rumah sakit. Ia harus di periksa lagi agar semua bisa lebih jelas dan akurat," jawab Bubun Embun.
"Lalu, apa ada yang kamu khawatirkan?" Mhiu bertanya sambil meraih tangan putri sulungnya yang terlihat cemas.
"Shena masih muda, Mhiu."
Ya, di umurnya yang sekarang kurang dari 20 tahun memang sangat beresiko untuk menjalani persalinan, semua tentu tak bisa di pukul rata karna kondisi tubuh setiap orang berbeda-beda. Wajar rasanya jika sang ibu mertua rasa ibu kandung itu kini teramat khawatir. Shena tak punya tempat mengadu, hanya bubun satu-satunya yang bisa memberikan pelukan hangat setelah suaminya.
"Kita jaga Shena sama sama ya, percaya lah dia akan baik baik saja."
Bubun Embun mengangguk, Shena itu bukan sekedar menantu baginya tapi juga di anggap anak bungsu perempuan karna jarak yang lumayan jauh dengan si kembar. jika tentang Angkasa dan Lintang semua sudah tahu jika dua pria itu mendapat istri dari teman sekolah dan kuliah itu artinya mereka seumuran, lain halnya dengan Fajar yang justru mendapatkan jodoh yang umurnya sampai selisih 10 tahun. Shena yang memang memiliki karakter polos yang tak tahu banyak tentang dunia luar semakin menjadi saat ia masuk kedalam keluarga Rahardian yang ternyata menerimanya dengan sangat baik, Shena di urus dan di manja tanpa perbedaan sama sekali dari para menantu lainnya yang kebetulan memang dari keluarga terhormat juga.
"Shena itu gak mau diem, aku takut kenapa napa, apalagi--," ucap Bubun yang kaget saat XyRa memotong omongannya itu.
"Ada El, ya Tuhan semoga El dan Shena tak bertengkar," timpal XyRa yang tahu jika putranya sejak awal tak akur dengan Shena.
Bubun menarik napas, sedangkan Phiu malah terkekeh melihat putrinya itu yang sepertinya terlalu overthinking dan was was.
"Hati hati, Buy. 9 bulan itu lama loh," ledek Phiu yang langsung membuat si mantan buaya betina merengek kesal.
Tawa ketiga orang itu pun akhirnya pecah apalagi saat Nyonya besar Lee itu menolak saat di berikan kartu ajaib dengan alasan lemas tak bergairah.
.
.
.
Cek lek
Fajar yang kembali masuk kedalam kamar mendapati istrinya masih meringkuk sama seperti terakhir ia tinggalkan. Wanita itu merajuk karna tak di izinkan melepar genderang perang dengan Si kutu kupret.
"Shena--, mau ganti baju? biar Aa bantu ya," tawar Fajar yang duduk di tepi ranjang, ia ciumi kepala istrinya yang belum juga menyahut.
"Enggak," jawab Shena.
"Kenapa? ayo ganti dulu," tawar Pria itu lagi yang masih di tolak dengan gelengan kepala.
"Males, kan gak ngapa ngapain habis makan," sindir nya yang langsung membuat Fajar tertawa.
"Maaf, Sayang. Aku cuma khawatir, karna kalau kamu udah ketemu sama El atau Lilin pasti lari lari. Kamu gak lupa sesuatu kan?" tanya Fajar mengingat kan lagi.
Tapi, belum juga ia melakukan hal tersebut justru terdengar ketukan pintu yang di yakini itu adalah pelayanan yang membawa makanan untuknya dan juga Shena.
"Tunggu sebentar ya, Sayang. Aa buka pintu dulu."
Fajar bangun dari duduknya lalu berjalan kearah pintu bercat putih tersebut
ceklek.
"Tuan, kami mengantar makanan," ucap salah satu dari dua pelayan yang datang.
"Bawa masuk dan letakan di atas meja sana," pinta Fajar sambil menunjuk kearah sofa depan TV, di sana memang ada meja diatas karpet berbulu.
"Baik, Tuan." keduanya masuk dan tak lupa menganggukan kepala sopan juga kearah Nona muda mereka yang kini sedang duduk di ranjang.
"Terimakasih," ucap Fajar setelah makanan sudah tersaji rapih diatas meja.
"Terima kasih kembali, Tuan. Kami permisi," pamit keduanya secara berbarengan. Mereka mundur dua langkah dan barulah membalikan tubuh, setelah itu keluar dari kamar Tuan dan Nona muda mereka.
Setelah pintu tertutup, Fajar merentang kan tangannya sambil berjalan kearah ranjang lagi.
"Ayo, Aa gendong ya," rayu Fajar yang langsung di iyakan dengan anggukan kepala oleh Shena.
Sebelum wanita itu bangun, Fajar menghujani wajah Shena dengan banyak ciuman. Sungguh, ia adalah anugerah dari Tuhan yang paling berharga bagi Fajar yang ia miliki saat ini, tak ingin terganti dengan apapun meski itu dengan dunia berserta isinya.
"Udah ih, geli Aa--." Shena yang semakin tergelak semakin juga Fajar gemas padanya untuk terus menggoda.
"Mual gak?" tanya Fajar yang takut rasa tak nyaman itu di rasakan oleh istrinya.
Shena diam sejenak sambil berpikir, ia fokus merasakan dirinya sendiri beberapa saat lalu setelah itu menggelengkan kepalanya.
"Yakin? kalau kamu gak mual kita makan ya."
"Iya, gak apa-apa kok' gak pusing juga kepalanya," sahut Shena dengan senyum lebarnya.
Fajar yang lega, langsung menggendong istrinya namun bukan dengan gaya ala ala bridal style namun gendong depan seperti koala. Shena yang mengalungkan tangannya di leher Fajar malah tertawa begitu pun dengan sang suami saat ia sengaja menempelkan hidung lalu memainkannya.
"Diam, nanti kamu jatuh, Sayang." Fajar yang khawatir semakin menekan boKong Shena.
"Udah, aku udah jatuh. Jatuh cinta sama Aa," jawabnya yang tumben tumbenan mengatakan cinta.
Kedua pipi Fajar yang merah merona pun langsung mendapat ciuman.
Shena yang di turunkan di sofa langsung diam saat melihat makanan yang tersaji dan itu membuat Fajar curiga sambil menyiapkan dirinya juga.
"Kenapa?" tanya Fajar.
.
.
.
Bungkus aja, terus makan nya di mobil sambil jalan jalan ya....