
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Bungkus aja, terus makan nya di mobil sambil jalan jalan ya," pinta Shena sambil membuang pandangan dari makanan yang tersaji di atas meja tersebut.
Perutnya kini serasa di aduk aduk seolah siap mengeluarkan isinya, Fajar yang paham dengan perubahan sikap sang istri mau tak mau menuruti dari pada Shena tak makan sama sekali.
"Ya sudah, nanti Aa minta semua ini untuk di bungkus, mau pake wadah apa daun pisang lagi?" tanya Fajar dari pada salah.
"Wadah aja, kan itu ada sayurnya," jawab Shena pelan sambil memejamkan kedua matanya.
"Anak pintar," kekeh Fajar yang lega.
Ia pun langsung menghubungi kepala pelayanan untuk menyiapkan ulang apa yang akan di bawa nanti.
Sambil menunggu semua di siapkan, Fajar masih berusaha menenangkan Shena dalam pelukannya yang berkali-kali bergidik entah kenapa.
"Mau di muntahin? gak apa apa, Sayang," kata Fajar yang tak tega karna Shena mulai mengeluarkan keringat dingin.
Wanita malah menggelengkan kepalanya tak mau menuruti apa yang di perintahkan oleh Fajar. Sampai semua selesai kini saatnya mereka keluar dari kamar.
"Kita turun pakai Lift aja ya," ajak Fajar.
Ia yang masih mendekap tubuh Shena hanya bisa mengimbangi jalannya wanita itu dengan pelan.
Lagi lagi, Shena selalu merasa aneh jika sedang berada dalam kotak besi tersebut. Ada saja yang ia rasakan, mulai dari kehangatan sampai rasa nyaman meski itu semua hanya berlangsung dalam waktu sepersekian detik saja.
Triiing..
"Ayo, keluar Shena." Fajar yang tak mau punya pikiran apapun mengingat kan agar istrinya tak terlalu larut dengan apa yang sedang ia rasakan.
"Iya, A'," jawab Shena yang seolah punya kekuatan setelah ia keluar dari Lift barusan.
Shena kini tak lagi di rangkul, melainkan berjalan meski tetap berpegang tangan bersama suaminya kearah garasi mobil.
Sepasang suami istri itu masuk kedalam kendaraan mewah milik Fajar setelah pintu di buka oleh sang supir. Mereka tak pergi berdua saja kali ini karna jika Fajar yang mengemudikan tentu sulit baginya menyuapi Shena.
"Kemana aja, kan jalan jalan. Shena kan gak bilang kemana kemana nya," jawab wanita itu yang langsung membuat suaminya tersenyum.
Bukan hanya stok sabar yang harus di miliki Fajar tapi juga otak cerdas yang wajib paham dengan semua maunya.
Fajar meminta supir untuk menjalankan mobil ke area taman kota, hari yang menjelang sore akan ramai disana. Dan mungkin itu akan membuat suasana hati Shena jauh lebih baik karna Si BuMil harus jauh dari Stres dan rasa tertekan. Mumpung di rumah ada El yang harus di hindari, sedangkan dengan Lintang ia akan bicara pelan pelan pada adiknya itu. Semoga Si kuncen Akhirat dan penjaga gerbang neraka mau mengerti dan tak lagi meladeni Shena, karna kadang buka keduanya saja yang jahil tapi Shena juga yang sering cari gara gara, ada saja tingkahnya yang memancing emosi Lintang dan El.
Saat mobil sudah melaju, Fajar langsung membuka wadah makanan. Ia suapi Shena dengan pelan bergantian dengan dirinya juga, tanpa di duga dan ini di luar perkiraan yang ternyata Shena makan dengan sangat lahap, ia bercerita dan banyak melayangkan pertanyaan serta tak jarang juga meminta ini dan itu yang semua di iyakan oleh Fajar selagi itu dalam batas wajar, lagi pula biasanya ada Phiu dan Ayah yang justru menuruti selagi Fajar menolak, contohnya tentang si anak Macan, BUBU.
"Habis, Sayang."
Shena mengangguk, ia tersenyum malu malu dengan ekspresi tak percaya karna seingatnya ia tak terlalu lapar bahkan semua beralih dengan rasa mual ingin muntah.
"Kita dimana A'?" tanya Shena saat mobil menepi dan berhenti di sebuah parkiran.
"Taman kota, yuk turun," ajak Fajar yang di iyakan oleh Shena.
Keduanya keluar dari mobil dan berjalan masuk lebih dalam menuju salah satu kursi kayu.
"Kita mau ngapain kesini?" Shena mengedarkan pandangan melihat ke se seluruh tempat ia dan suaminya datangi.
"Gak ngapa ngapain sih, enak aja banyak pohon besar dan rindang," jawab Fajar yang bingung sendiri juga menjawabnya.
"Jauh jauh kesini lihat pohon, kan di rumah utama juga banyak pohon. Malah ada bonusnya lagi," ucap Shena dengan wajah serius namun tidak dengan suaminya yang mengerutkan kedua alisnya.
"Bonus apa?" tanya Fajar tak paham.
.
.
.
Bonus Tarzan, si El kutu kupret....