
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Suara gedoran pintu yang masih cukup kencang tentu menandakan orang yang ada di balik benda itu sedang tak sabar untuk masuk atau meminta yang di dalam kamar untuk cepat keluar.
Shena yang tak bisa mengelak masih memasang wajah imut agar tak mendapat siraman rohani dari suaminya karna untuk marah tentu itu tak mungkin.
Tok... tok.. tok... gubrak... gubrak .. gubrak
"Pakai baju mu lagi, Aa mau buka pintu," titah Fajar masih dengan nada bicara yang tenang, dan itu masih aman.
"Apa? buka celana?" goda Shena yang masih ingin merayu.
"Pakai baca, Shena!"
"Hem, iya deh iya, di pake lagi bajunya. Tapi---," jawab wanita itu dengan tatapan mata sedikit memicing.
"Tapi apa?" tanya Fajar.
"Awas kalau nanti malam Aa bukain baju aku semua, aku gak mau!" ancam Si mantan JanCilL yang kemudian masuk kedalam ruang ganti setelah memunguti baju dan brAa nya yang berserakan di lantai.
Fajar mengusap tengkuknya sendiri merasa serba salah, bukan ia menolak hidangan nikmat di depan matanya tadi, hanya saja hatinya lebih penasaran dengan apa yang terjadi, dan ingin tahu siapa orang yang sedari tadi ada di depan kamarnya.
Ceklek
Pintu bercat itupun terbuka, ada El yang sedang berkacak pinggang dengan rambut basah berantakan, pria yang baru beranjak dewasa itu bsnya mengganti baju tanpa merapihkan dirinya.
"Mana si Dung Dung Pret?" tanya El.
"Ada, mau ngapain?" tanya Fajar, saking ia banyaknya tingkah laku yang di perbuat Sang istri rasanya ia begitu sulit untuk menebak.
"Mau ajakin dia ke Neraka!" sahut El geram.
"Emang bisa?" Fajar yang tahu jika tak mungkin ada asap tanpa api masih bersikap sabar, karna pastinya sang istri habis berulah lagi meski biasanya itu Shena lakukan tanpa sengaja.
"Bisalah, kan El Demoy yang jaga gerbangnya, kalau yang ceburin tuh tugasnya Yiyin oh Yiyin," jelas adik kesayangan Abang Sean tentang perNerakaan.
"Ya udah, kamu tanya dulu sama Kuncen Neraka, mau gak cebutin Shena. Kali aja lagi sibuk ngurus kantor dulu, Ok."
Fajar langsung menutup lagi pintu kamarnya tak perduli jika El menggedor dengan cukup kuat dengan tenaganya.
.
.
"Shena--," panggil Fajar yang memeluk wanita halalnya itu dari belakang. Shena langsung meringkuk diatas ranjang setelah memakainya lagi bajunya.
"Aku gak ceburin, A. Si kutu kupret jatuh sendiri ke kolam," jawab Shena sebelum suaminya bertanya.
"Memang tadi kamu di kolam?" tanya Fajar lagi yang saking sibuknya mengurus pekerjaan bersama Niha sampai tak tahu istrinya kemana.
"Iya, aku duduk di tepiannya, terus datang Si kutu kupret."
"Lalu?" Fajar yang semakin penasaran masih berusaha sabar menjadi pendengar yang baik. Ia tak mau justru merasa Shena sedang di hakimi dan di selidiki hingga ia merasa tak nyaman saat bercerita.
"Katanya aku cemburu sama Niha, kan enggak ya? aku senggol tapi malah nyebur, kayanya Kutu kepret belum makan makanya lemes," sahut Shena sambil memutar badannya untuk berhadapan dengan sang suami.
"Shena cemburu? Shena gak suka kalau Aa kerja sama Niha?" tanya Fajar dengan tatapan serius sampai istrinya salah tingkah.
"Cemburu itu---, kaya pengen cakar orang ya?" tanya balik Shena yang belum paham akan hal itu.
Fajar tentu langsung terkekeh, ia tarik tubuh langsing istrinya agar semakin merapat dan pastinya juga hangat.
"Cemburu itu perasaan tak nyaman saat milikmu bersama yang lain, Sayang."
"Oh, berarti tadi aku bukan cemburu A'," kata Shena yang mulai paham.
"Kalau gak cemburu, lalu ngapain di pinggir kolam?" tanya Fajar kecewa.
.
.
.
Mikirin abang abang dimana yang jual Macan, ih...