
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
#Rumah utama.
Setelah mendapat kabar kecelakaan Fajar yang untungnya tak jauh dari rumah Abah, tentu keluarga Rahardian tak tinggal diam, satu persatu akhirnya tahu dan berusaha meneangkan satu sama lain.
Bubun yang belum menyusul ke rumah sakit masih di temanin Mhiu dan beberapa sepupunya.
Lalu dimana Lintang?
Ia sengaja di letakkan di ketek Phiunya agar tak tahu apa-apa lebih dulu, saat keadaan Fajar jauh lebih baik barulah perlahan ia akan di beritahu seperti yang lainnya.
"Ta Buy, minum dulu ya, kasihan Aa kalau Bubunnya kaya gini," kata Rindu, selaku adik ipar dan Calon Nyonya besar Rahardian.
"Buy gak mau apa-apa," tolaknya lemas karna memang baru sadarkan diri.
Mommy Qia dan Mama Starla yang sama sedihnya tak bisa berbuat banyak meski begitu mereka tetap menyempatkan diri untuk datang walau sekedar menenangkan sepupu dari para suami mereka tersebut.
"Coba telepon Bum, ada kabar apa dari Aa," titah Mhiu pada menantunya.
"Iya, Mhiu." Rindu pun meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh darinya itu, dua kali menghubungi Rain nyatanya tak ada jawaban, baru yang ketigalah panggilannya tersambung dan itu membuat Rindu sedikit lega karna tatapan Sangat ibu mertua tak lepas darinya.
"Hallo, Sayang. Apa ada kabar tentang Aa?" tanya Rindu tanpa basa basi lagi.
"Belum, belum ada satu dokter pun yang keluar. Nanti ku kabari," jawab Rain yang terdengar lesu.
"Sayang, itu suara tangis siapa?"
"Hem, oh ini, Si Buaya lagi nangis," jawab Rain yang kali ini dengan sedikit kekehan kecil.
Senyum terukir di sudut bibir Rindu yang cantik, ada beberapa pertanyaan juga yang ia berikan hingga akhirnya telepon pun terputus.
Semua yang di katakan suaminya, Rindu ceritakan lagi tanpa kurang dan lebih dan itu tak membuat perasaan Bubun dan Mhiu merasa lega.
"Jadi Bintang dan Jani gak ada? disana Enin juga pasti sedih," ucap Mama Starla, Si ManJa yang sudah melahirkan dua anak yaitu Chia dan Chio.
"Iya, untung mereka kesana, niatnya hanya untuk memenangkan Shena, tapi mungkin ini juga firasat," ungkap Mhiu yang tangannya tak lepas dari Si sulung.
Hanya menunggu, itulah yang bisa di lakukan oleh para wanita di rumah, entah di rumah utama ataupun di rumah Abah yang pastinya ada Enin dan para menantu Lee Rahardian.
Tak bisa di bayangkan jika saat kabar itu datang justru tak ada Bintang dan Rinjani yang memenangkan.
"Kenapa gak minta mereka kemari saja, Mhiu. Kasian Enin, kalau di sini kumpul sama-sama kan enak," saran dari Mommy Qia, Si gadis bawah pohon yang di rebut lewat jalur langit oleh Si terompet kiamat.
"Benar juga, bagaimana Mhiu?" tanya Starla.
"Iya, ide bagus. Hubungi Bintang atau Jani, suruh mereka pulang bersama Enin dan juga Shena," titah Sang nyonya besar Rahardian.
.
.
.
Shena yang keadaannya tak jauh lebih baik namun sudah bisa untuk keluar dari kamar kini berjalan pelan ke kamar Enin di bantu dan di antar oleh Rinjani, wanita cantik itu benar-benar mendampingi tanpa perduli siapa Shena, dari mana Shena dan apa masa lalu Shena.
Tok.. tok.. tok..
"Enin--, Shena dan Kak Jani boleh masuk?"
"Iya, masuk saja," sahut Bintang dari dalam kamar.
Rinjani pun membuka benda bercat coklat tua itu dengan sangat pelan, berhubung tadi kakak iparnya yang menjawab ia hanya takut jika Enin ternyata sedang tidur.
"Shena--, kemari, Nak," panggil Enin, entah seperti punya kekuatan lain, Shena langsung berhambur kedalam pelukan Enin, pengganti ibu yang beberapa bulan lalu meninggalkannya.
"Aa kecelakaan, doakan dia ya."
"Iya, Enin. Tapi Aa tadi gak pamit sama aku," ucapnya sedih kembali terisak, kedua mata gadis itu benar-benar sudah bengkak dan merah sekali, dan jelas jika Shena pun terlihat sangat lelah.
"Nanti Aa pulang, sabar ya," balas Enin, itulah orang tua, sekacau apapun perasaanmu ia tetap berusaha memenangkan.
Dan, suara getar ponsel milik Bintang membuat wanita itu harus keluar dari kamar sebab yang Memeloponnya kini adalah Mama Starla.
Rinjani yang sesekali meneteskan air mata tetap mengusap punggung Shena. Jika bicara tentang rasa khawatir tentu ia adalah istri yang setiap detiknya di hantui rasa takut sebab sakitnya Sang suami, sebab apapun bisa terjadi pada Lintang.
Dan, lima belas menit berlalu Bintang pun kembali. Ia memberi tahu apa yang di katakan oleh Mama Starla barusan yaitu meminta mereka termasuk Enin dan Shena untuk pulang kerumah utama agar bisa menunggu kabar tentang Fajar secara bersama-sama.
"Aku takut--," kata Shena seperti dugaan Bintang dan Rinjani yang sempat saling pandang sebelumnya.
"Gak ada yang harus kamu takuti, kita sama-sama tunggu Aa pulang disana ya," ucap Rinjani.
Cukup lama Shena terdiam dan akhirnya ia mengangguk dan mau untuk ikut ke rumah utama karna Enin pun tak punya pilihan lain selain menuruti Permintaan besannya tersebut.
Dan kini, dengan mengendarai mobil Bintang, mereka berempat pun mulai bergegas menuju bangunan mewah peninggalan almarhum Tuan Wisnu Rahardian Wijaya.
Selama perjalanan, Shena dan Enin saling menggenggam tangan untuk saling menguatkan terutama Enin yang tahu perasaan Shena yang tadi katanya takut. Wajar memang, karna bagaiamana pun rumah utama tetap asing bagi gadis itu apalagi tak ada Fajar disana yang menemani.
"Lilin ada?" tanya Shena tiba-tiba yang ingat padat sosok Si kuncen akhirat.
"Ada, tapi dia aman kok'. Lilin lagi di ketekin Phiu dan kalau lagi begitu udah gak akan inget apa apa lagi, aku aja udah kaya iklan lewat," jawab Rinjani sambil terkekeh, ia tahu betul dengan kelakuan suaminya yang belum dan mungkin tak akan bisa jauh dari pawang yang sesungguhnya.
"Iya, Lilin belum di kasih tahu kan?" tanya Bintang.
"Hem, jangan dulu deh, akunya gak sanggup kalau sampai dia kenapa-kenapa, Kak," jawab Rinjani yang kini terdengar lirih.
Perjalanan kurang lebih 60 menit pun berakhir di garasi Rumah utama, sudah banyak sekali mobil mewah disana yang sempat sempatnya membuat Shena takjub sebelum ia dan yang lain masuk lewat pintu samping.
Saat sudah di dalam, langkah keempat wanita itu langsung menuju ke lantai dua. meski ini kali keduanya Shena datang ia tetap tak hapal dimana letak setiap ruangan jadi tak salah jika ia kini memegang lengan Rinjani.
Tiga kali mengetuk pintu kamar Nyonya Lee, barulah mereka masuk. Dan benar saja, sudah banyak orang disana. Mereka menyambut baik , ramah dan sopan pada Enin dan juga Shena.
Keduanya mendekat kearah ranjang tempat dimana ada Bubun disana bersama Mhiu. Sedangkan Bintang dan Rinjani pamit lebih dulu ke kamar mereka masing-masing dan juga melihat keadaan...... ( Rahasia weeeeh )
Lagi lagi hanya tangis yang di utarakan oleh Bubun yang kali ini ada dalam pelukan Ibu mertuanya, tak banyak yang mereka bicarakan karna kata sabar sudah tak terhitung berapa kali mereka dengar dari setiap orang yang datang.
.
.
.
#Rumah sakit.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya Ayah Keanu mendapat kabar dan kini ia ada di ruang dokter, di dalam sana ia dengan seksama mendengar apa yang sedang di jelaskan oleh Dokter yang menangani putranya tersebut.
"Jangan khawatir, cedera di kepala yang di alami oleh Tuan muda Fajar tak begitu serius, jika ada sedikit trauma saat ia sadar itu adalah hal biasa pasca kecelakaan, semua ini karna Tuan muda dengan cepat di larikan kerumah sakit, darah yang keluar pun tak terlalu banyak," terang pria dengan stelan jas putih dengan kaca mata yang bertengger di batang hidungnya yang mancung.
"Jadi anak saya tak apa apa?" tanya Ayah keanu, karna apa yang doktter sampaikan akan ia sampaikan lagi pada keluarganya terutama pada istrinya yang pasti sedang menunggu kamar darinya.
"Sejauh ini aman, nanti akan ada pemeriksaan lanjutan saat Tuan muda sadar, yang terpenting untuk sekarang adalah banyak istirahat."
Ayah pun hanya mengangguk pelan degan perasaan yang jauh lebih lega. Rasa takut yang menyerangnya sejak pagi perlahan terkikis saat mendengan penuturan dari Sang Dokter tapi bukan berartiia berhenti berdoa.
Serasa semua sudah jelas dan ia pun paham, kini Ayah bangun dari duduk lalu berpamitan, ia akan kembali ke ruang tunggu dimana ada anggota keluarga yang lain kini beralih sedang menunggunya, ttentu menunggu kejelasan tentang keadaan Fajar saat ini.
"Bagaimana?" tanya Abah Rendra langsung yang pastinya tak sabar, dari ketiga cucunya memang Fajar yang paling dekat dengannya jadi tak salah jika pria baya itu kini merasa sangat terpukul dengan musibah yang di alami Si tengah.
"Cederanya tak terlalu parah, sampai sekarang semuanya masih aman tapi akan ada pemeriksaan lajutan saat Aa sadar nanti, Bi," jawab Ayah Keanu yang langsung menerima pelukan dari Abinya itu.
"Syukurlah," seru semuanya sacara bersama.
Dan setelah Fajar sudah di pindah kan ke ruang rawat inap barulah satu persatu diantara mereka masuk untuk melihat keadaan Si tengah. Masih elum sadar memang,tapi setidaknya mereka tak tterlalu khawtir seperti beberapa waktu lalu.
"Abi bisa pulang dan istirahat ya, biar abang yang dan Bum-Bum yang jaga Aa," kata Ayah Keanu paada Abah yang terlihat lelah.
"Tak apa, biar Abi juga disini temani Aa, Bang."
"Bi, ada Umma yang pasti butuh Abi, kalau Aa sudah sadar kalian bisa kesini bersama," ujar Ayah Keanu karna perihal istriya ia yakin banyak yang menenangkan.
"Iya, Bah, kita pulang ya, Enin sama Shena juga kan sekarang di rumah utama," timpal Abang Asha yang malah bergelayut di lengan Abahnya itu. Mumpung tak ada Fajar, pikir Si Buaya.
Mau tak mau pria baya itu pun menurut karna memang benar yang di katakan putranya tadi jika ada Sang istri yang pasti butuh pelukannya untuk obat penenang.
Mereka pun pulang dengan hanya menyisakan Ayah Keanu dan Rain saja di rumah sakit yang ruang inapnya bak hotel bintang lima karna ada satu lantai khusus memang hanya untuk keluarga saja termasuk ruang untuk melahirkan, jadi semua tak terganganggu dan di ganggu oleh pasien umum lainnya.
"Ini kecelakaan tunggal, apa Aa sedang ada masalah?" tanya Rain yang belum tahu perihal ajakan menikah Fajar pada Shena.
"Sedikit, tapi Abang gak tahu kalau ini semua malah membuatnya tak fokus dalam berkendara pagi ini saat berangkat ke kantor," jawab Ayah Keanunyang merasa sangat menyesal.
"Apa ada hubungannya dengan gadis itu? kenapa tak langsung di nikahi sih?" tanya Rain lagi.
"Aa belum menemui ayahnya Shena, gadis itu justru takut saat Aa mengajaknya menikah beberapa hari lalu karna memang Shena punya traumanya tersendiri tentang pernikahan."
"Ya sudah, kalau sudah sadar cepat nikahkan mereka. Tak ada yang perlu di tunggu lagi, tinggal yakinkan gadis itu jika semuanya akan baik baik saja," saran bapaknya Miong yang hanya di jawab anggukan kepala oleh kakak iparnya itu.
Tapi, semua tentu tak semudah membalikkan telapak tangan, proses yang di jalani Fajar dan Shena memang begitu panjang meski tak berliku karna yang sedang mereka hadapi adalah sebuah rasa sabar untuk saling ada dalam setiap keadaan dan kondisi, dan mungkin kali ini semua sedang di balikkan dimana justru Shena yang akan di uji untuk bisa melakukan apa yang pernah Fajar lakukan padanya.
.
.
.
Akankah kejadian ini membuat perlahan trauma Shena terkikis?